Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Pengeluaran yang Sebaiknya Dikurangi Menurut Konsep Loud Budgeting
ilustrasi pembeli berbicara dengan karyawan toko (pexels.com/Ron Lach)
  • Loud budgeting mengajak orang terbuka soal batas anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta berani menolak pengeluaran yang tidak sesuai prioritas.
  • Pengeluaran yang perlu dibatasi mencakup makan atau nongkrong terlalu sering, belanja impulsif, serta langganan digital otomatis yang jarang digunakan.
  • Konsep ini juga menekan pembelian demi tren atau gengsi dengan mengutamakan kemampuan finansial, barang yang masih layak, dan tujuan keuangan pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa uang cepat habis padahal tidak membeli barang mahal? Bisa jadi, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali justru membuat anggaran bulanan semakin sulit dikendalikan. Kalau kamu sedang mencoba mengatur keuangan, konsep loud budgeting bisa menjadi salah satu cara untuk lebih berani menentukan prioritas.

Loud budgeting merupakan pendekatan dalam mengelola keuangan dengan lebih terbuka mengenai batas anggaran dan alasan memilih untuk tidak mengeluarkan uang. Konsep ini bukan sekadar mengurangi pengeluaran, tapi juga membantu seseorang lebih sadar dalam menentukan mana kebutuhan dan mana keinginan. Supaya lebih mudah diterapkan, ada beberapa jenis pengeluaran yang bisa mulai dikurangi tanpa harus membuat hidup terasa terlalu terbatas.

1. Makan dan nongkrong di luar terlalu sering

ilustrasi berkumpul bersama teman traveling (pexels.com/Helena Lopes)

Makan di luar, pesan makanan melalui aplikasi, atau nongkrong di kafe bisa menjadi salah satu pengeluaran yang cukup besar jika dilakukan terlalu sering. Sekali makan mungkin terasa tidak mahal, tapi jika dilakukan beberapa kali dalam seminggu, jumlahnya dapat menghabiskan porsi cukup besar dari anggaran bulanan. Dalam konsep loud budgeting, frekuensi pengeluaran seperti ini bisa dikurangi dengan menetapkan batas yang jelas.

Kamu tidak harus berhenti makan di luar sepenuhnya untuk menjalankan gaya hidup hemat. Cobalah menentukan jumlah kunjungan ke restoran atau kafe dalam sebulan dan menyiapkan anggaran khusus untuk kebutuhan tersebut. Dengan begitu, kamu tetap bisa menikmati waktu bersama teman tanpa merasa bersalah karena pengeluaran sudah disesuaikan dengan kemampuan.

2. Belanja impulsif

ilustrasi wanita bahagia belanja online (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Belanja impulsif biasanya terjadi ketika seseorang membeli sesuatu hanya karena tertarik sesaat, melihat promo, atau takut kehabisan barang. Diskon dan gratis ongkir memang terlihat menguntungkan, tapi membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan tetap membuat uang keluar. Loud budgeting mendorong kamu untuk lebih berani mengatakan tidak pada pembelian yang tidak sesuai dengan prioritas.

Sebelum membeli sesuatu, kamu bisa memberikan jeda beberapa hari untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan. Jika setelah beberapa waktu keinginan membeli masih ada dan dananya tersedia, barulah pembelian dapat dipertimbangkan kembali. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi pengeluaran tanpa harus merasa sedang menjalani gaya hidup yang terlalu ketat.

3. Langganan yang jarang digunakan

ilustrasi perempuan bekerja dengan ponsel dan laptop (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Layanan streaming, aplikasi premium, membership, dan berbagai platform digital sering kali dibayar secara otomatis setiap bulan. Masalahnya, beberapa layanan tersebut mungkin sudah jarang digunakan tetapi tetap menyedot saldo karena sistem pembayaran berulang. Kondisi ini membuat biaya langganan kecil bisa berubah menjadi pengeluaran rutin yang cukup besar jika dikumpulkan.

Coba periksa kembali semua layanan berlangganan yang masih aktif dan catat biaya bulanannya. Jika ada layanan yang jarang digunakan, pertimbangkan untuk menghentikannya atau menggunakan paket yang lebih murah. Uang dari langganan yang tidak lagi dibutuhkan bisa dialihkan untuk tabungan, kebutuhan utama, atau tujuan keuangan lainnya.

4. Membeli barang demi mengikuti tren

ilustrasi orang sedang belanja online (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Tren fashion, gadget, kosmetik, dan berbagai produk lifestyle dapat membuat seseorang tergoda untuk terus membeli barang baru. Padahal, barang yang sedang populer belum tentu sesuai dengan kebutuhan atau kondisi keuangan pribadi. Dalam loud budgeting, kamu tidak perlu mengikuti tren hanya agar terlihat mengikuti perkembangan terbaru.

Mulailah dengan menggunakan barang yang masih layak dan memang sudah dimiliki. Jika benar-benar membutuhkan barang baru, pilih produk yang sesuai dengan anggaran dan bisa digunakan dalam jangka panjang. Dengan cara ini, keputusan belanja lebih didasarkan pada kebutuhan daripada tekanan untuk mengikuti gaya hidup orang lain.

5. Pengeluaran untuk gengsi

ilustrasi makan bersama teman (pexels.com/Nicole Michalou)

Pengeluaran karena gengsi bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti memaksakan diri membeli barang mahal, mentraktir teman di luar kemampuan, atau mengikuti kegiatan hanya karena takut dianggap tidak mampu. Jenis pengeluaran ini sering kali tidak terasa sebagai kebutuhan ketika dilakukan, tapi dampaknya dapat terlihat pada kondisi keuangan setelahnya. Loud budgeting mengajarkan bahwa menolak ajakan yang tidak sesuai dengan anggaran bukan sesuatu yang perlu ditutupi.

Kamu bisa mengatakan secara sederhana bahwa kamu sedang memiliki batas pengeluaran atau ingin lebih fokus pada tujuan finansial tertentu. Orang lain mungkin memiliki kondisi keuangan dan prioritas yang berbeda, sehingga tidak semua gaya hidup mereka perlu diikuti. Ketika keputusan finansial dibuat berdasarkan kemampuan sendiri, kamu akan lebih mudah menjaga anggaran tanpa harus membuktikan sesuatu kepada orang lain.

Sesekali mengatakan “aku tidak ikut dulu karena sedang mengatur budget" bukan berarti kamu sedang ketinggalan tren. Justru dari kalimat sederhana itu, kebiasaan mengatur uang bisa mulai terasa lebih ringan dan realistis dalam kehidupan sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article