Sering Terpaksa Ikut Nongkrong Mahal? 5 Tanda Kamu FOMO Finansial

- FOMO finansial saat nongkrong terlihat dari rasa takut dianggap tidak mampu jika tidak mengunjungi tempat mahal, sehingga pengeluaran dipakai untuk menunjukkan status.
- Tandanya juga mencakup obsesi mengunggah konten nongkrong mewah, termasuk bukti pembayaran, demi membangun kesan selalu mampu dan sering berada di tempat high cost.
- Kebiasaan ini mengganggu anggaran, memicu kompetisi mengunjungi tempat fancy, serta membuat seseorang tetap membeli menu mahal yang tidak disukai demi terlihat berkelas.
Nongkrong memang seru. Kamu berada di tengah teman-teman, mengobrolkan banyak hal, merasa santai, dan bisa sambil menikmati aneka makanan serta minuman. Namun, nongkrong kadang juga tak lebih dari bentuk FOMO atau Fear of Missing Out.
Terutama kebiasaan nongkrong yang berbiaya mahal. Sekali duduk bisa habis ratusan ribu rupiah per orang untuk biaya makan dan minum. Kalau kamu benar-benar enjoy menjalaninya berarti secara finansial memang mampu untuk nongkrong berbiaya tinggi.
Akan tetapi, begitu ada rasa terpaksa harus ikut nongkrong sama teman-teman, ini sudah gak sehat. Cek seberapa FOMO kamu terkait tren nongkrong mahal dari lima tanda berikut. Kalau sekadar FOMO sih, nongkrong gak lagi terasa seru. Senangnya sesaat, menyesalnya lama.
1. Kalau gak ikut takut dianggap tidak mampu

Sebenarnya soal kemampuan membayar biaya nongkrong tidak berubah baik kamu beneran ikut nongkrong atau memilih gak ikut. Misalnya, biaya nongkrong di kafe X rata-rata 200 ribu per orang. Saldo di rekeningmu 10 atau 20 jutar rupiah.
Artinya, dari segi finansial sebenarnya dirimu mampu sekali pergi ke sana kalau mau. Akan tetapi jika dirimu FOMO, kamu ketakutan bila gak pernah nongkrong di kafe X atau tempat mahal lainnya diartikan orang sebagai tak punya duit. Kamu selalu dalam mode kudu menunjukkan kemampuan keuanganmu.
Itu sebabnya tempat nongkrong harus selalu yang mahal. Walaupun nongkrong sebenarnya bisa di mana saja. Termasuk di angkringan dengan menu nasi kucing seharga 2 ribu rupiah per bungkus. Namun, jika dirimu nongkrong di situ dalam pandanganmu tentu gak efektif buat menunjukkan bahwa duitmu banyak.
2. Terobsesi posting foto dan video nongkrong high cost

Kalau kamu lagi makan di warteg yang murah meriah apalagi menyantap menu buatan orangtua di rumah gak pernah di-posting. Media sosialmu penuh dengan foto atau video nongkrong mewah yang hanya bisa dilakukan orang berkocek cukup tebal. Seringnya ini tidak dilakukan secara natural.
Seperti kamu sengaja mengambil beberapa foto dan video dalam satu kali nongkrong. Kemudian mengunggahnya dicicil agar dirimu terkesan setiap hari nongkrong mahal. Bahkan di hari saat sebenarnya uangmu hampir habis dan menu makanmu di rumah atau kos-kosan tak memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
Kamu seperti sedang bermain sandiwara setiap hari melalui unggahan-unggahan tersebut. Saat dirimu belum puas menunjukkan betapa kayanya kamu, setruk pembayaran makanan dan minuman pun ikut diunggah. Seakan-akan untuk membuktikan kamu bayar sendiri dan bukan sekadar ditraktir teman.
3. Aslinya nongkrong mahal berat banget buatmu

Bila mau jujur, sebetulnya kamu juga sadar bahwa nongkrong mahal gak cocok untukmu. Setidaknya buat sekarang ketika pendapatanmu masih pas-pasan. Dirimu bisa menghitung pengeluaran harian yang masih dapat ditoleransi.
Sementara sekali nongkrong mahal langsung mengacaukan perencanaan keuanganmu dalam sebulan. Pasti habis nongkrong mahal harus ada hal-hal yang dikorbankan olehmu sebagai penebusan. Misal, tanpa nongkrong mahal sekali seminggu seharusnya kamu dapat mengonsumsi protein hewani tiap hari dengan masak sendiri.
Namun, gara-gara memaksakan diri nongkrong gila-gilaan tiap weekend, bujet belanja bahan makanan sehari-hari terpangkas besar-besaran. Boro-boro daging, ikan air tawar atau payau dan telur yang lebih murah saja tak lagi terbeli. Ditambah meteran listrik yang terus berbunyi minta diisi, tapi duitnya belum ada.
4. Ada rasa kalah kalau keduluan orang lain nongkrong di tempat fancy

Orang yang gak FOMO finansial kalaupun ingin berkompetisi pasti di hal-hal yang jelas mencetak prestasi. Seperti ikut lomba musik, menulis, karya ilmiah, dan sebagainya. Sementara kamu yang mengalami Fear of Missing Out ingin berlomba dengan orang lain dalam hal terlihat kaya.
Dirimu paling gak mau terlambat menjajal nongkrong di tempat-tempat fancy terbaru sekalipun biayanya mencekik leher. Kamu pakai prinsipnya pokoknya berangkat dulu. Bila ada duit atau kartu kredit yang masih bisa dipakai, dirimu memesan menu-menu semahal mungkin agar seolah-olah membuktikan kemampuanmu dari segi materi.
Apabila uangnya mepet dan limit kartu kredit sudah mentok, pesan minum saja juga gak apa-apa. Terpenting nanti pengambilan foto dan videonya difokuskan ke latar tempat. Supaya orang sejagat tahu bahwa dirimu sudah bahkan sering ke sana.
5. Gak suka makanan dan minumannya pun tetap ke sana demi tampak berkelas

Penyebab nongkrong menjadi berbiaya tinggi bukan hanya pilihan tempat, tetapi juga harga tiap menunya. Orang bilang ada harga, ada rupa. Makanan yang diberi harga lebih tinggi biasanya memang ditata dengan sangat estetik, piringnya saja mahal, dan berbahan premium.
Akan tetapi, terkait selera lidah sering gak ditentukan oleh seberapa mahal harganya. Enak atau tidak enak suatu menu tergantung dari sejak kecil dirimu biasa mengonsumsi makanan apa. Ketika kamu nongkrong mahal karena FOMO, sering kali dirimu sebetulnya tidak cocok dengan menu yang tersedia.
Seperti menunya Western, sedangkan menu favoritmu sebenarnya gado-gado pinggir jalan yang bumbu kacangnya diulek dadakan pakai cobek batu jadul. 10 sampai 15 ribu rupiah sudah lengkap pakai telur. Akan tetapi, demi mengejar kesan berkelas dirimu terpaksa menyantap menu-menu mahal itu. Tak jarang nanti pulangnya kamu makan lagi dengan menu yang lebih disukai karena belum puas.
Bila sekadar FOMO, nongkrong yang seharusnya asyik justru menjadi menyiksa. Berat di ongkos otomatis berat di pikiran juga. Asal kamu tahu, ketika kamu sudah kaya raya pun tidak ada kewajiban buat nongkrong mahal. Apalagi saat penghasilanmu sebenarnya masih rata-rata.






















