Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perempuan dan Rasa Bersalah: Kerja Salah, di Rumah Juga Salah?
Ilustrasi seorang ibu (pexels.com/Jep Gambardella)
  • Banyak perempuan modern menghadapi dilema antara karier dan keluarga, memunculkan rasa bersalah karena tuntutan sosial untuk selalu sempurna di kedua peran tersebut.
  • Ibu bekerja maupun ibu rumah tangga sama-sama mengalami 'mom guilt' akibat ekspektasi tinggi dan tekanan sosial yang membentuk standar tidak realistis terhadap peran mereka.
  • Ahli menyarankan pemisahan konteks kerja-rumah, berhenti memakai kata 'seharusnya', serta berani berkomunikasi agar perempuan dapat mengelola rasa bersalah dan menjaga kesehatan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak perempuan di era modern ini tumbuh dengan tuntutan untuk bisa melakukan semuanya dengan benar, seperti berhasil dalam karier dan hadir sepenuhnya untuk keluarga demi menjaga ekspektasi sosial yang tinggi.

Namun, di balik semua peran itu sering muncul perasaan bersalah, misalnya saat fokus pada pekerjaan, mereka akan merasa mengabaikan rumah. Begitu juga sebaliknya, saat memprioritaskan keluarga, merasa tertinggal secara profesional.

Dilema ini bukan sekadar persoalan pilihan, melainkan tekanan yang membuat perempuan seakan selalu berada di posisi serba salah. Lalu, apa saja rasa bersalah yang sering dialami para perempuan, khususnya seorang ibu dan bagaimana menyikapinya?

1. Working mom guilt

Ilustrasi seorang ibu bekerja (pexels.com/cottonbro studio)

“Working mom guilt” kerap melanda para ibu bekerja. Ini adalah istilah yang diberikan untuk perasaan bersalah yang dirasakan perempuan ketika mereka tidak memenuhi harapan sendiri atau harapan orang lain dalam perannya sebagai orangtua.

“Masyarakat menekan kita untuk berpikir bahwa kita seharusnya mampu 'melakukan semuanya. Faktanya, tidak ada cukup waktu dalam sehari untuk melakukan semua hal. Perhitungannya tidak masuk akal," kata Dr. Melissa Young, MD, spesialis pengobatan fungsional, dikutip dari Cleveland Clinic.

Sementara itu, menurut psikolog Caitlin Slavens, BAACS, MC, R Psych, dalam artikel berjudul "Here’s Exactly How To Deal With ‘Mom Guilt,’ According to a Psychologist" yang diterbitkan di laman Parade, ibu bekerja sering merasa bersalah karena merasa tidak cukup berada di rumah. Mereka merasa tidak enak karena "meninggalkan" anak dengan orangtua lainnya atau pengasuh.

2. Stay-at-home mom guilt

Ilustrasi seorang ibu rumah tangga (pexels.com/Helena Lopes)

Di sisi lain, ada istilah "stay-at-home mom guilt", yaitu perasaan bersalah atau tidak cukup baik yang dialami ibu rumah tangga karena merasa tidak memenuhi ekspektasi diri sendiri atau standar sosial dalam mengasuh anak dan mengurus rumah. Ini sering muncul karena merasa kurang produktif, tidak menghasilkan uang, atau kurang sabar.

“Ibu rumah tangga juga bisa merasa bersalah karena tidak mampu mencukupi kebutuhan finansial keluarga atau merasa tidak menunjukkan kepada anak-anak mereka bahwa mereka mampu meraih karier yang sukses di luar rumah,” ujar Slavens.

Slavens menambahkan, mom guilt yang terus-menerus dapat berdampak buruk pada kesehatan mental. Hal itu dapat memicu kecemasan, depresi, dan kelelahan. Jika dibiarkan tanpa penanganan, hal itu dapat berlanjut menjadi ketidakpuasan terhadap kehidupan dan peran sebagai orangtua.

3. Rasa bersalah dibentuk dari tekanan sosial, ekspektasi tinggi, dan media sosial

Ilustrasi seorang ibu bekerja (pexels.com/Gustavo Fring)

Apa pun bentuk mom guilt, nyatanya tidak muncul murni dari dalam diri sendiri, tetapi dibentuk, bahkan “diproduksi”, oleh norma, ekspektasi, dan tekanan sosial di sekitarnya.

“Rasa bersalah seorang ibu lebih umum terjadi ketika ekspektasi tinggi dari masyarakat, keluarga, pasangan, dan dukungan yang sebenarnya rendah,” jelas Slavens.

Opini dari keluarga, media sosial, atau lingkungan kerja sering membentuk standar “ideal” yang sebenarnya tidak realistis untuk dijalani semua orang. Dengan daftar yang panjang dan melelahkan ini, tidak heran jika perempuan merasa belum mencapai "target".

“Paparan terhadap berbagai tips pengasuhan anak di media sosial, rutinitas pengaturan, rumah, aktivitas, makanan, dan informasi tentang cara yang 'benar' untuk mengasuh anak dapat menyebabkan standar yang tidak realistis bagi para ibu untuk diterapkan pada diri mereka sendiri,” ungkap Slavens.

4. Cara mengelola rasa serba salah

Ilustrasi seorang ibu bekerja (pexels.com/Jep Gambardella)

Niro Feliciano, LCSW, pekerja sosial klinis berlisensi membagikan tips untuk membantu mengelola rasa bersalah sebagai ibu bekerja maupun di rumah, melalu artikel yang berjudul, "What Is Mom Guilt and How Can You Manage It? Therapist and Mom of 4 Breaks It Down", di laman Today.

  1. Pisahkan konteksnya.
    Kesalahan di tempat kerja tidak selalu mencerminkan siapa kamu sebagai pribadi di rumah, begitu juga sebaliknya. Kadang kita terlalu menyatukan dua peran ini, padahal keduanya punya standar dan dinamika yang berbeda. Memberi “batas mental” antara kerja dan rumah bisa membantu kamu bernapas lebih lega.

  2. Berhentilah memaksakan kata "seharusnya" pada diri sendiri.
    Pernyataan "seharusnya" sering kali berujung pada rasa bersalah dan yang lebih buruk, rasa malu. Kita harus menerima bahwa kita telah melakukan yang terbaik pada hari ini.

  3. Pertimbangkan sisi positif.
    Sedikit rasa bersalah sebenarnya dapat membantu mengubah perilaku dan mencegah situasi yang tidak diinginkan terjadi lagi. Ingatkan diri bahwa normal terkadang merasa bersalah, tetapi kamu bukan ibu yang gagal.

  4. Bicaralah dengan ibu-ibu lain yang berempati.
    Ini dapat mengurangi rasa malu dan membantu kamu menyadari bahwa kita semua pernah mengalami momen-momen seperti ini.

  5. Jangan selalu ingin terlihat sempurna.
    Orangtua yang memberi pengertian, berusaha hadir, meluangkan waktu untuk mengurus kebutuhan sendiri, dan menemukan kebahagiaan di luar anak-anaknya, sudah sangat cukup membuat kamu sebagai orang tua yang baik.

  6. Berani berkomunikasi.
    Di tempat kerja, kamu bisa klarifikasi tugas atau minta feedback yang lebih jelas. Di rumah, ungkapkan perasaanmu dengan jujur tanpa menyalahkan, misalnya “Aku lagi capek dan butuh dimengerti.” Banyak konflik muncul bukan karena salah, tapi karena tidak saling memahami.

5. Kesimpulan

Ilustrasi seorang ibu bekerja (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Perasaan “kerja salah, di rumah juga salah” biasanya muncul saat perempuan terjebak di dua tuntutan yang sama-sama tinggi; ekspektasi profesional di tempat kerja dan ekspektasi emosional di rumah. Ini didukung dan dibentuk oleh tekanan sosial dan masyarakat sekitar, yang masih terjadi sampai hari ini.

Kalau tidak diatasi, rasa serba salah ini bisa bikin kamu 'kena mental' seperti cepat lelah, overthinking, bahkan kehilangan rasa percaya diri. Kamu dapat mengikuti beberapa tips yang sudah diberikan untuk bisa mengelola perasaan sekaligus menghadapi tuntutan sosial.

Pada akhirnya, penting untuk menyadari bahwa tidak ada satu versi “perempuan yang benar”. Setiap orang punya kondisi, pilihan, dan prioritas yang berbeda. Yang lebih penting adalah menemukan keseimbangan yang sesuai dengan diri sendiri, bukan memenuhi semua ekspektasi orang lain!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team