Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Persiapan Sederhana Hadapi Krisis Israel Iran, Pahami Situasi Darurat
ilustrasi perang tak kasat mata (pexels.com/Vlad Bagacian)

Situasi politik dunia semakin memanas, terlebih sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel terus melancarkan serangan terhadap Iran. Serangkaian ledakan dahsyat mengguncang Teheran, ibu kota Iran dan menyebabkan berbagai kerusakan di wilayah tersebut.

Mendengar konflik yang terus meluas, mungkin membuat masyarakat Indonesia turut khawatir akan meletusnya perang. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa tips bertahan hidup di tengah situasi krisis yang terjadi antara AS-Israel dengan Iran. Pahami beberapa langkah darurat di bawah ini untuk menyelamatkan diri dan keluarga.

1. Persiapkan barang atau alat darurat

Ilustrasi tas kecil (freepik.com/freepik)

Emergency kit atau perlengkapan darurat menjadi barang yang penting untuk dipersiapkan. Konflik yang terjadi di Iran mungkin masih belum berdampak secara langsung untuk masyarakat Indonesia, namun tak ada salahnya untuk mempersiapkan tas siaga darurat.

Untuk saat ini, item yang bisa dimasukkan dalam tas siaga darurat adalah dokumen penting dan surat berharga. Masukan dalam satu compartment, pastikan surat berharga tidak tercecer sehingga memudahkan ketika harus melakukan mobilisasi darurat. Dokumen penting seperti KTP, kartu keluarga, paspor dan buku vaksin dapat dikumpulkan dalam satu tempat dan diletakkan di area yang mudah dijangkau.

Dalam tas siaga darurat juga bisa dipersiapkan beberapa barang lain seperti uang tunai, perlengkapan mandi, obat-obatan dan P3K, makanan ringan, powerbank, dan senter.

2. Pahami lokasi tempat perlindungan diri dan keterampilan dasar bertahan hidup

Ilustrasi tangga darurat (unsplash/Bernard Hermant)

Di tengah situasi yang tidak menentu, penting untuk menguasai keterampilan dasar bertahan hidup demi menjaga diri. Misalnya memahami tanda bahaya jika berada di sebuah gedung.

Situasi yang membutuhkan evakuasi darurat yakni kondisi kebakaran, gempa bumi, ancaman berbahaya, dan adanya ancaman keamanan seperti kekerasan atau teror. Dalam seperti itu, alaram darurat akan menyala, kemudian penghuni gedung dapat mengikuti panduan petugas kemanann. Gunakan jalur evakuasi menuju titik kumpul, kemudian perhatikan instruksi yang diberikan oleh tim keamanan.

Jika terjadi kondisi darurat seperti ancaman keamanan seperti aksi kekerasan dan teror, perhatikan arahan petugas. Sebab, petugas keamanan akan menentukan apakah sebaiknya melakukan evakuasi atau shelter in place. Hal ini juga diterapkan di berbagai area publik.

3. Bangun komunikasi dengan komunitas sekitar

Ilustrasi mengobrol (Pexels.com/Ron Lach)

Membangun komunikasi dengan teman, keluarga, dan tetangga menjadi hal yang tak kalah penting. Sebab, dalam situasi darurat terdapat kemungkinan jaringan komunikasi mengalami keterbatasan. Untuk itu, terhubung dengan tetangga, teman, atau keluarga di area tempat tinggal dapat memberikan informasi yang lebih praktikal.

Mulai menjalin hubungan, misalnya dengan bergabung dengan grup tanggap darurat untuk memperluas jangkauan informasi dan bantuan yang mungkin akan diperlukan. Kerja sama kolektif akan sangat dibutuhkan sebagai bagian dari upaya bertahan hidup. Di sisi lain, penting untuk menyimpan nomor darurat seperti ambulan, polisi, pemadam kebakaran, dan lain sebagainya.

4. Memantau informasi dari sumber kredibel

ilustrasi membaca berita (pexels.com/cottonbro studio)

Krisis yang disebabkan oleh AS-Israel di Iran menimbulkan kekhawatiran bagi berbagai kalangan, termasuk masyarakat Indonesia. Informasi yang beredar berubah begitu cepat. Di media sosial arus informasi begitu masif, membuat pembaca seringkali overwhelmed dengan berbagai berita yang tersebar.

Oleh karenanya, batasi konsumsi berita dengan melakukan filter terhadap platform yang terpercaya. Hindari membaca berita hoax dan selektif dalam memilih bahan bacaan, sehingga pikiran tidak menjadi lebih khawatir. Monitor informasi resmi, misalnya update dari media mainstream, television berita dan laman resmi pemerintah.

"Berita yang menggugah emosi lebih mudah dijual, dan berita yang berdampak negatif cenderung membuat ketagihan. Menghentikan kebiasaan memeriksa berita secara teratur mungkin merupakan perubahan paling efektif dalam memerangi kecemasan perang. Cobalah untuk membatasi paparan (termasuk media sosial) kurang dari 30 menit setiap hari, dan cobalah untuk menghindari paparan sebelum tidur." ungkap Stephanie Collier, MD, MPH, direktur pendidikan di divisi psikiatri geriatri di Rumah Sakit McLean, dilansir dari laman Health.harvard.edu.

5. Menjaga kesehatan mental di tengah krisis

ilustrasi kesehatan mental (pexels.com/Vitaly Gariev)

Informasi yang tersebar selama krisis yang terjadi di Iran begitu masif, hal ini bisa menyebabkan stres dan khawatir berlebih. Kurangi konsumsi berita di media sosial bila membuat pikiran menjadi lebih was-was.

Dalam situasi seperti saat ini, perasaan anxiety dan stres berdampak pada response tubuh seperti meningkatnya tekanan darah, dan ritme pernafasan. Cegah stres berlebih dengan melakukan breathing exercises, meditasi, dan kegiatan yang membuat tubuh menjadi lebih rileks. Berolahraga juga bisa menurunkan stres dan meningkatkan hormon endorfin yang memicu perasaan bahagia.

Terakhir, lakukan daily routine seperti biasa agar pikiran teralihkan dan tidak hanya terfokus pada sisi negatif dari krisis tersebut. Berbagi dengan orang terdekat terkait dengan keresahan dan isi pikiran, mungkin hal ini bisa membuatmu merasa lebih lega.

Editorial Team