Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

8 Plus Minus Rumah dalam Gang, Pikirkan Baik-baik sebelum Beli

rumah dalam gang
ilustrasi rumah dalam gang (pexels.com/Satoshi Hirayama)
Intinya sih...
  • Terhindar dari kebisingan lalu lintas jalan raya
  • Hubungan antartetangga lebih dekat, tidak individualis
  • Jarak rumah terlalu dekat bikin privasi kurang
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Apakah kamu sedang mencari tempat tinggal? Pilihannya bukan cuma perumahan atau apartemen. Ada juga rumah dalam gang yang dapat dipertimbangkan.

Rumah yang masuk ke gang biasanya memang bukan rumah baru. Namun, kalau titik rumah cukup dekat dengan mulut gang dan jalan besar sebenarnya tidak terlalu buruk. Rumah dalam gang juga dapat sebagai alternatif mendapatkan harga yang lebih miring.

Dengan ukuran yang sama, rumah di tepi jalan besar tentu jauh lebih mahal daripada dalam gang. Akan tetapi, sebelum dirimu memutuskan membelinya, baca dulu plus minus rumah dalam gang. Makin sempit jalannya, umumnya makin sulit juga kehidupan sosial serta ekonomi warganya.

1. Terhindar dari kebisingan lalu lintas khas jalan raya

rumah dalam gang
ilustrasi rumah dalam gang (pexels.com/Pille Kirsi)

Jika kamu menempati rumah persis di tepi jalan besar, polusi suara dari kendaraan yang melintas tak ada hentinya. Bisa dari pagi sampai pagi lagi. Malah mobil dan motor mengebut setelah tengah malam sehingga tidurmu terganggu. Sementara itu, tinggal di rumah dalam gang sangat meminimalkan gangguan di atas.

2. Hubungan antartetangga lebih dekat, tidak individualis

rumah dalam gang
ilustrasi rumah dalam gang (pexels.com/Nizar Firmansyah)

Dalam gang, rumah biasanya berhadap-hadapan. Rumah yang sebaris juga hanya terpisah dinding. Ini akan mendorong warga untuk saling berinteraksi setiap hari. Beda dengan warga di tepi jalan raya.

Mereka umumnya lebih individualis. Sekalinya mereka keluar biasanya sekaligus buat bepergian. Kalaupun mereka kadang duduk-duduk di teras atau menyiram tanaman, tetangga kanan dan kirinya tidak leluasa mengajak mengobrol sebab terhalang dinding.

3. Namun, jarak rumah terlalu dekat bikin privasi kurang

rumah dalam gang
ilustrasi rumah dalam gang (pexels.com/kazuyoshi sakamoto)

Di balik kedekatan hubungan antartetangga, ada privasi yang terusik. Kamu pulang saja mesti melewati orang-orang yang sedang duduk-duduk di depan rumah sambil mengobrol. Jalan yang lebih sempit membuat setiap gerakanmu terpantau oleh tetangga.

4. Susah ketika perlu renovasi

rumah dalam gang
ilustrasi rumah dalam gang (pexels.com/Kaique Rocha)

Sebagus apa pun rumah yang dibeli akan tiba waktunya untuk renovasi. Kalau cuma perbaikan kecil seperti mengganti genting yang pecah masih mudah dilakukan. Namun, makin besar rencana renovasinya makin susah direalisasikan.

Mobil pengantar material bangunan tidak bisa masuk sampai depan rumahmu. Dirimu juga mungkin tak punya halaman buat tempat meletakkan bahan-bahan itu. Sementara jalan gang yang sudah sempit gak mungkin dipersempit lagi dengan kamu asal menurunkan material di sekitarnya.

5. Polusi suaranya dari suara tetangga

rumah dalam gang
ilustrasi rumah dalam gang (pexels.com/Damilola Saka)

Kamu memang terhindar dari polusi suara yang berasal dari kendaraan di jalan raya. Mungkin suaranya masih terdengar, tetapi sayup-sayup saja. Akan tetapi, bukan berarti hidupmu bebas berisik.

Anak-anak tetangga boleh jadi bermain nyaris sepanjang waktu di sepanjang gang. Jarak antarrumah yang mepet juga bikin obrolan siapa pun tembus ke rumahmu. Belum lagi nanti ada tetangga yang memanaskan mesin sepeda motor, menyetel lagu, dan sebagainya.

6. Rentan konflik

rumah dalam gang
ilustrasi rumah dalam gang (pexels.com/Maduabuchi Kingsley)

Kepadatan penduduk di dalam gang meningkatkan potensi gesekan antarwarga. Satu orang dengan orang lainnya dapat dengan mudah saling mengganggu privasi masing-masing karena jarak yang amat terbatas. Hal-hal sepele seperti parkir sepeda motor dan jemuran pun bisa memicu cekcok.

7. Kendaraan yang bisa masuk terbatas

rumah dalam gang
ilustrasi rumah dalam gang (pexels.com/Satoshi Hirayama)

Memang ada gang yang bisa untuk lewat mobil dan satu motor. Ini masih cukup nyaman untuk ditinggali. Namun, makin sempit jalannya makin kamu mesti berpikir ulang. Tinggal di sana boleh jadi selamanya kamu gak bisa punya mobil.

Bukan karena uangnya tidak ada, melainkan mobil tak dapat memasuki gang. Dirimu juga tak bisa menaruhnya setiap hari di tepi jalan besar apalagi ada rumah atau toko orang di situ. Bahkan saat kamu memesan taksi untuk membawa banyak barang, dirimu kudu mengangkatnya dari rumah ke mulut gang atau sebaliknya.

8. Saat rumah akan dijual, peminatnya sedikit dan harga agak miring

rumah dalam gang
ilustrasi rumah dalam gang (pexels.com/Ryutaro Tsukata)

Seperti disinggung dalam pembuka artikel. Rumah dalam gang lebih murah daripada rumah di tepi jalan besar. Kamu cukup diuntungkan ketika membelinya. Namun, suatu saat dirimu ingin menjualnya juga gak bisa berharap untung besar.

Harganya tidak naik secepat rumah di tepi jalan raya. Seiring penduduk dalam gang kiat padat, mungkin kamu pun tambah sulit menemukan calon pembeli. Banyak orang lebih suka indekos atau menyewa apartemen di tempat yang strategis daripada punya rumah dalam gang sempit.

Prinsip terpenting punya rumah daripada tidak bisa kurang tepat. Kamu harus mempertimbangkan betul lokasi rumah serta konsekuensi tinggal di sana untuk jangka panjang. Semua orang butuh tempat tinggal. Namun, ada plus minus rumah dalam gang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

7 Dekorasi Lamaran Sakina Tama Anak Wishnutama, Estetik Bertema Tropis

11 Jan 2026, 09:12 WIBLife