5 Tipe MBTI yang Rentan Jadi Korban Parentification, Kamu Termasuk?

Parentification adalah kondisi ketika anak harus mengambil peran orangtua secara emosional atau praktis, yang dapat berdampak pada kesehatan mental mereka.
MBTI yang rentan mengalami parentification adalah INFJ, ENFJ, ISFJ, ESFJ, dan INFP karena sifat empatik, tanggung jawab tinggi, serta kecenderungan menomorduakan diri sendiri.
Pentingnya kesadaran bahwa beban tersebut bukan tanggung jawab anak dan mendorong korban untuk mencari dukungan profesional.
Pernahkah kamu merasa harus menjadi "orang dewasa" sejak usia yang sangat muda? Mungkin kamu terbiasa mengurus adik-adikmu, menjadi penengah saat orangtua bertengkar, atau bahkan menjadi tempat curhat bagi mereka. Kalau iya, bisa jadi kamu pernah mengalami yang namanya parentification.
Singkatnya, parentification adalah kondisi ketika seorang anak dipaksa mengambil peran sebagai orangtua, baik secara emosional maupun praktis. Fenomena ini bisa meninggalkan jejak yang cukup dalam pada perkembangan psikologis seseorang, lho. Menariknya, beberapa tipe kepribadian MBTI ternyata lebih rentan mengalami hal ini karena karakteristik alami yang mereka miliki. Penasaran apakah kamu termasuk salah satunya? Yuk, simak ulasannya!
1. INFJ

Kalau ada satu tipe yang secara natural punya kemampuan membaca perasaan orang lain, INFJ adalah jawabannya. Tipe ini dikenal sangat empatik dan intuitif, sehingga mereka bisa merasakan ketegangan dalam keluarga bahkan sebelum ada yang mengatakannya. Sayangnya, kepekaan ini justru sering membuat mereka terjebak dalam peran sebagai "terapis keluarga" sejak kecil.
INFJ cenderung merasa bertanggung jawab untuk menjaga harmoni di rumah. Mereka akan berusaha menenangkan orangtua yang sedang stres atau menjadi jembatan komunikasi antar anggota keluarga. Tanpa sadar, beban emosional yang mereka pikul ini bisa sangat melelahkan dan memengaruhi kesehatan mental mereka di kemudian hari.
2. ENFJ

Sebagai tipe yang dijuluki "sang protagonis", ENFJ memang punya jiwa kepemimpinan yang kuat. Mereka senang membantu orang lain dan merasa puas ketika bisa membuat orang di sekitarnya bahagia. Kedengarannya positif, ya? Tapi justru sifat inilah yang membuat mereka rentan terhadap parentification.
Dalam dinamika keluarga yang kurang sehat, ENFJ sering kali menjadi anak yang "bisa diandalkan" untuk segalanya. Mulai dari mengurus rumah tangga, menjaga adik, hingga menangani masalah keuangan keluarga. Mereka jarang menolak karena merasa itu adalah kewajiban mereka sebagai anggota keluarga yang "mampu". Padahal, seharusnya tugas-tugas itu bukan beban yang harus ditanggung seorang anak.
3. ISFJ

Tipe ISFJ dikenal sebagai sosok yang setia, penuh perhatian, dan sangat berorientasi pada keluarga. Mereka adalah tipe yang akan melakukan apa saja untuk orang-orang yang mereka cintai, bahkan jika itu berarti mengesampingkan kebutuhan diri sendiri. Karakteristik ini, meski mulia, justru membuat mereka sangat mudah dimanfaatkan dalam konteks parentification.
ISFJ cenderung gak banyak mengeluh meski harus menanggung beban yang berat. Mereka akan diam-diam mengurus segala keperluan rumah, memastikan adik-adiknya makan dengan baik, dan menjadi penopang emosional bagi orangtua. Yang menyedihkan, mereka sering kali gak menyadari bahwa apa yang mereka alami itu sebenarnya bukan hal yang normal untuk anak seusia mereka.
4. ESFJ

Mirip dengan ISFJ, tipe ESFJ juga sangat berorientasi pada orang lain. Mereka adalah sosok yang hangat, ramah, dan selalu ingin memastikan semua orang di sekitarnya merasa nyaman. Dalam keluarga, ESFJ sering menjadi "perekat" yang menjaga hubungan antar anggota keluarga tetap harmonis.
Masalahnya, ESFJ sangat sensitif terhadap ekspektasi orang lain dan takut mengecewakan. Ketika orangtua, baik secara sadar maupun tidak, membebani mereka dengan tanggung jawab yang seharusnya bukan milik anak-anak, ESFJ akan menerimanya tanpa banyak protes. Bagi mereka, menolak sama saja dengan menjadi anak yang gak berbakti. Pola pikir inilah yang membuat mereka sangat rentan menjadi korban parentification.
5. INFP

INFP adalah tipe yang sangat idealis dan punya dunia batin yang kaya. Mereka sangat peka terhadap perasaan orang lain dan cenderung menyerap emosi di sekitar mereka seperti spons. Dalam keluarga yang disfungsional, kepekaan ini bisa menjadi pedang bermata dua.
Anak INFP sering kali menjadi tempat orangtua mencurahkan masalah mereka, mulai dari konflik pernikahan hingga tekanan finansial. Karena sifatnya yang penuh kasih dan gak tega melihat orang lain menderita, INFP akan berusaha membantu sebisanya, meski itu berarti menanggung beban yang terlalu berat untuk usia mereka. Akibatnya, mereka tumbuh dengan perasaan bahwa emosi orang lain selalu lebih penting daripada emosi mereka sendiri.
Parentification adalah fenomena yang sering kali gak disadari, baik oleh korban maupun pelakunya. Kalau kamu merasa mengalami hal serupa, penting untuk diingat bahwa itu bukan salahmu. Setiap anak berhak menikmati masa kecilnya tanpa harus menanggung beban orang dewasa. Nah, kalau kamu merasa perlu bantuan untuk memproses pengalaman ini, jangan ragu untuk mencari dukungan dari profesional, ya. Jadi, sudah siap untuk mulai memprioritaskan dirimu sendiri?


















