Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Hal yang Membuat Proses Berduka Terasa Lebih Berat

5 Hal yang Membuat Proses Berduka Terasa Lebih Berat
ilustrasi berduka (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya Sih
  • Menekan emosi dan menarik diri dari lingkungan sosial dapat memperberat proses berduka karena menghambat penyaluran perasaan serta mengurangi dukungan emosional yang dibutuhkan untuk pemulihan.
  • Perasaan bersalah dan kebiasaan menyalahkan diri sendiri membuat duka semakin dalam, sebab pikiran terus terjebak pada penyesalan tanpa menemukan ketenangan atau penerimaan terhadap kehilangan.
  • Memaksakan diri cepat pulih dan mengabaikan kesehatan fisik maupun mental justru memperlambat pemulihan, karena tubuh dan emosi membutuhkan waktu serta perawatan agar bisa kembali seimbang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kehilangan seseorang yang dicintai merupakan pengalaman yang sangat berat bagi banyak orang. Perasaan sedih, hampa, hingga kebingungan muncul secara bersamaan ketika kita sedang menjalani masa berduka. Dalam dunia psikologi, proses ini sering disebut sebagai grief, yaitu respons alami terhadap kehilangan yang memengaruhi emosi, pikiran, bahkan kondisi fisik.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi kehilangan. Ada yang mampu mengekspresikan kesedihan dengan terbuka, namun ada pula yang cenderung memendam perasaan tersebut dalam waktu lama. Namun, beberapa kebiasaan tertentu justru dapat membuat proses berduka terasa semakin berat. Berikut beberapa kebiasaan yang harus dihindari karena membuat proses berduka terasa lebih berat.

1. Menekan emosi dan perasaan sedih

ilustrasi perempuan yang menangis
ilustrasi perempuan yang menangis (pexels.com/cottonbro studio)

Banyak orang merasa perlu terlihat kuat setelah mengalami kehilangan, terutama di depan keluarga atau orang terdekat. Perasaan sedih yang muncul sering ditekan agar tidak terlihat rapuh di hadapan orang lain. Padahal emosi yang tidak disalurkan dengan baik dapat menumpuk dan memicu tekanan psikologis yang lebih besar seiring berjalannya waktu.

Dalam kajian psikologi, penekanan emosi dikenal sebagai emotional suppression. Kebiasaan ini dapat membuat kita kesulitan memproses kesedihan secara sehat karena emosi tidak mendapatkan ruang untuk diekspresikan. Akibatnya perasaan duka dapat muncul kembali dalam bentuk kecemasan, gangguan tidur, kelelahan emosional, serta perasaan tertekan yang sulit dijelaskan.

2. Mengisolasi diri dari lingkungan sosial

ilustrasi seorang pria yang sendirian
ilustrasi seorang pria yang sendirian (pexels.com/Ferdous Hasan)

Saat berduka, keinginan untuk menyendiri sering muncul secara alami karena tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Namun, menarik diri secara berlebihan dari lingkungan sosial dapat membuat kita merasa semakin kesepian dan kehilangan dukungan emosional yang sebenarnya sangat dibutuhkan. Ketika interaksi dengan orang lain semakin berkurang, perasaan sedih juga dapat terasa lebih intens.

Hubungan sosial yang sehat dapat membantu seseorang merasa dipahami dan tidak sendirian dalam menghadapi kehilangan. Dalam beberapa penelitian tentang social support, kehadiran keluarga dan teman terbukti membantu menurunkan tingkat stres serta mempercepat proses penyesuaian emosional setelah kehilangan seseorang yang penting dalam kehidupan. Dukungan sederhana seperti mendengarkan atau menemani akan memberi dampak besar bagi proses pemulihan emosional.

3. Terus menyalahkan diri sendiri

ilustrasi seseorang yang sedang depresi
ilustrasi seseorang yang sedang depresi (pexels.com/Andrew Neel)

Perasaan bersalah sering muncul ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai. Pikiran tentang hal yang seharusnya bisa dilakukan atau kata yang seharusnya sempat diucapkan sering muncul secara berulang. Pola pikir seperti ini dapat membuat proses berduka terasa semakin berat karena pikiran terus terfokus pada penyesalan.

Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan rumination, yaitu kecenderungan memikirkan peristiwa yang sama secara berulang tanpa menemukan solusi yang menenangkan. Jika dibiarkan terlalu lama, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko munculnya stres emosional yang lebih dalam serta memperpanjang masa berduka secara signifikan. Pikiran yang terus berputar pada penyesalan juga dapat membuat kita sulit menerima kenyataan yang telah terjadi.

4. Memaksakan diri untuk cepat pulih

ilustrasi seseorang yang sedang stres
ilustrasi seseorang yang sedang stres (unsplash.com/SEO Galaxy)

Tekanan sosial kadang membuat kita merasa harus segera kembali normal setelah kehilangan. Kalimat seperti "harus kuat" atau "harus segera melanjutkan hidup" sering muncul dari lingkungan sekitar yang sebenarnya ingin memberikan semangat. Namun, dorongan tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak memiliki ruang untuk merasakan kesedihan.

Padahal proses berduka tidak memiliki batas waktu yang pasti. Dalam konsep grief process, setiap individu membutuhkan waktu yang berbeda untuk memahami dan menerima kehilangan secara perlahan. Memaksakan diri untuk cepat pulih justru dapat membuat emosi yang belum terselesaikan muncul kembali di kemudian hari.

5. Mengabaikan kesehatan fisik dan mental

ilustrasi seseorang yang depresi
ilustrasi seseorang yang depresi (pexels.com/Pixabay)

Kesedihan sering membuat kita kehilangan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Pola tidur dapat berubah, nafsu makan menurun, dan tubuh terasa lebih mudah lelah dibandingkan biasanya. Kondisi ini sering dianggap sebagai bagian dari kesedihan sehingga tidak diperhatikan dengan serius.

Padahal kesehatan fisik dan mental saling berkaitan erat dalam menghadapi tekanan emosional. Dalam kondisi berduka, tubuh membutuhkan perawatan yang baik agar tetap kuat menghadapi perubahan emosi. Kurangnya istirahat, nutrisi yang tidak cukup, serta stres yang tidak dikelola dengan baik dapat membuat proses pemulihan emosional menjadi lebih sulit.

Proses berduka merupakan bagian alami dari kehidupan manusia ketika menghadapi kehilangan. Kesedihan tidak selalu harus dihindari, namun proses pemulihan harus berjalan dengan perlahan dan sehat. Dengan menghindari beberapa hal yang membuat proses berduka terasa lebih berat, kita dapat menjalani penerimaan dan menemukan kembali keseimbangan dalam hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us