“Beri ruang dan waktu bagi diri sendiri untuk memproses emosi yang muncul. Ini adalah bagian dari proses berduka dan mengatasi trauma. Meski rasanya tidak nyaman, tetapi langkah ini sangat diperlukan,” ujar Margot Rittenhouse, konselor klinis profesional berlisensi, dikutip dari Everyday Health.
Proses Menerima Kehilangan Setelah Bencana, Langkah Kecil untuk Bangkit

Menghadapi duka akibat bencana merupakan respons yang tak dapat dihindari. Rasa sakit akibat duka cita tidak hanya mengganggu kesehatan mental, melainkan fisik yang membuatmu kesulitan untuk tidur, makan, atau bahkan berpikir jernih.
Bencana seperti badai, gempa bumi, gunung meletus, kebakaran hutan, dan lainnya yang datang tiba-tiba bisa menimbulkan reaksi emosional yang mendalam. Peristiwa luar biasa ini juga dapat mengubah hidup individu secara drastis, apalagi saat harus menerima kenyataan bahwa seseorang atau sesuatu yang dicintai telah pergi.
Meskipun rasanya sulit menghadapi tekanan fisik dan emosional akibat peristiwa ini. Namun, bukan berarti kamu tidak dapat pulih sepenuhnya. Semua reaksi yang kamu alami bisa menjadi sumber kekuatan yang membantumu belajar untuk beradaptasi, bangkit, dan menata kembali kehidupan secara perlahan. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan agar mampu menerima kehilangan setelah mengalami peristiwa bencana.
1. Beri ruang dan waktu bagi diri sendiri untuk memproses emosi

Mengalami perasaan yang intens dan campur aduk pasca kehilangan mungkin akan menjadi masa sulit dalam hidupmu. Tidak apa-apa karena ini adalah kondisi yang normal. Bersabarlah dengan diri sendiri saat menjalani proses ini untuk membantu membangun kesejahteraan emosional dan mendapatkan rasa kendali usai mengalami kehilangan.
2. Mintalah dukungan dari orang-orang terdekat

Saat dilanda emosi negatif, banyak orang memilih diam dan mengasingkan diri dari lingkungan sosial. Namun, menerima atau meminta bantuan dari orang-orang terdekat adalah langkah tepat untuk melindungi kesehatan mental serta mencegah rasa kesepian.
“Melewati momen-momen sulit akan lebih mudah jika kamu terhubung dengan orang-orang yang peduli kepadamu. Jadi, jangan ragu untuk menjawab telepon atau menghubungi orang-orang terdekatmu untuk sekadar membicarakan mengenai apa yang sudah terjadi. Dengan curhat, setidaknya dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan,” kata psikolog Susan Albers, PsyD, dilansir Cleveland Clinic.
3. Batasi konsumsi berita dan media sosial

Terlalu sering membaca berita atau melihat gambar-gambar mengenai bencana justru dapat memperburuk tekanan emosional yang dirasakan. Oleh sebab itu, hindari berita dan informasi secara berlebihan jika kamu merasa tidak mampu melepaskan diri. Pastikan untuk beristirahat dan fokus pada hal-hal lain yang bertujuan pada pemulihan diri.
“Carilah keseimbangan antara mendapatkan informasi dan rutinitas pribadi. Bukan berarti kamu tidak boleh mengonsumsi berita sama sekali, hanya saja ketika kamu mengonsumsi konten, pastikan konten tersebut berasal dari sumber yang kredibel dan bukan berdasarkan rumor agar terhindar dari efek traumatis,” kata Rittenhouse.
4. Fokus pada hal-hal mendasar

Dikutip dari American Psychologycal Association, makan makanan seimbang dan istirahat yang cukup bisa membantu mengatasi stres berlebihan. Hindari alkohol dan obat-obatan terlarang, rawat diri sendiri dengan menjalani pola hidup yang sehat.
“Fokuslah pada hal-hal mendasar. Makan, tidur, dan olahraga teratur bisa membantu menurunkan stres dan kecemasan setelah mengalami kehilangan akibat bencana,” ungkap Dr. Albers.
Melewati hari-hari usai mengalami kehilangan akibat bencana merupakan tantangan besar. Jadi, wajar jika kamu merasa kewalahan. Namun, seiring berjalannya waktu, percayalah kamu bisa menghadapi situasi ini dengan lebih mudah.



















