Ilustrasi merenung (pexels.com/Prateek Katyal)
Quarter life crisis hari ini bukan selalu soal patah hati. Banyak orang justru lebih stres membuka aplikasi mobile banking dibanding membuka chat mantan. Beban mental datang dari rasa takut tidak mampu mengejar biaya hidup yang terus naik setiap tahun.
Quarter life crisis memang membuatmu merasa kehilangan arah dan mempertanyakan masa depan. Dalam konteks sekarang, rasa cemas itu makin kuat karena banyak anak muda merasa bekerja keras pun belum tentu cukup untuk hidup nyaman.
Meski begitu, ada satu hal yang penting diingat: merasa lelah menghadapi realita ekonomi bukan berarti gagal sebagai orang dewasa. Kadang memang dunia modern terlalu mahal untuk dijalani sendirian.
Jadi kalau sekarang kamu lebih sering mikir harga kontrakan daripada soal jodoh, tenang saja. Kamu bukan aneh. Kamu cuma hidup di era ketika punya tempat tinggal nyaman sudah terasa seperti luxury item. Tapi percayalah lebih baik pusing mikirin kerjaan dan hidup, daripada pusing gak punya kerjaan.
Generasi sekarang tetap berjalan meski hidup terasa mahal dan masa depan sering bikin cemas. Mereka tetap bangun pagi, bekerja, menabung sedikit demi sedikit, lalu menghibur diri lewat diskon tanggal kembar. Tampaknya kita semua sama-sama ‘pura-pura kuat’ sambil berharap pemilik kontrakan tiba-tiba mengirim pesan “ada penyesuaian harga.”