5 Rekomendasi Buku yang Mengangkat Semangat Emansipasi Kartini

- Artikel ini menyoroti semangat emansipasi Kartini yang menginspirasi banyak karya sastra tentang perjuangan perempuan melawan ketidakadilan dan keterbatasan sosial.
- Lima buku direkomendasikan, termasuk karya Pramoedya Ananta Toer, Redaksi Tempo, Wardiman Djojonegoro, dan Dian Purnomo yang menggambarkan perjuangan perempuan dari masa Kartini hingga era modern.
- Setiap buku menghadirkan kisah berbeda namun berfokus pada tema kesetaraan gender, kebebasan perempuan, serta kritik terhadap budaya patriarki dan feodalisme di Indonesia.
Kartini menunjukkan bagaimana seorang perempuan gak boleh menyerah atas mimpinya sendiri. Setinggi apa pun mimpi itu, Kartini berhasil membuktikan bahwa perempuan bisa melakukan hal-hal luar biasa yang membawa dampak besar bagi dunia. Raden Adjeng Kartini tidak memiliki alat khusus, tak juga berdiri di panggung besar untuk menunjukkan betapa besar peran perempuan.
Perempuan yang lahir di Jepara pada 21 April 1879 itu, hanya memiliki selembar kertas dan segenggam keberanian yang membawanya keluar kekangan. Lewat tulisan dan ajarannya, Kartini membawa semangat emansipasi perempuan yang bisa kita teladani sekaligus lanjutkan. Ini kumpulan beberapa buku yang mengangkat semangat emansipasi perempuan seperti Kartini.
1. Panggil Aku Kartini Saja - Pramoedya Ananta Toer

Sastrawan legandaris Indonesia, Pramoedya Anata Toer, pernah menulis buku tentang Kartini berjudul Panggil Aku Kartini Saja. Buku ini menceritakan sisi lain seorang Kartini. Lewat biografi sebanyak 262 halaman ini, Pramoedya Ananta Toer mengajak kita untuk memandang Kartini dengan sosoknya yang mencoba melawan ketidakadilan terhadap perempuan.
Ia seharusnya dipanggil Raden Adjeng sebagai putri Bupati. Namun, ia sempat menuliskan sepucuk surat dengan "Panggil Aku Kartini saja, itulah namaku!" Kartini tidak punya massa untuk melawan kekuasaan. Namun, Pramoedya Ananta Toer berhasil melihat dari sisi kepekaan dan keprihatinan Kartini terhadap perempuan. Kartini menyebarkan semangat emansipasi untuk meningkatkan derajat perempuan.
2. Gelap Terang Hidup Kartini - Redaksi Tempo

Kartini merupakan pahlawan bagi bangsa Indonesia. Ia membawa perempuan menjauh dari kata rentan. HIdup Kartini tidak lama, tetapi gagasannya membawa perubahan besar yang selalu diteladani setiap tahunnya.
Semangat Kartini membawa perubahan besar pada kehidupan perempuan. Redaksi Tempo memuat kisah tentang Kartini dalam seri buku Tempo: Perempuan-Perempuan Perkasa. Serial ini mengangkat, mengupas, dan mengisahkan sisi lain kehidupan tokoh-tokoh perempuan yang memiliki peran besar pada setiap zamannya.
3. Kartini Jilid I, II, III - Wardiman Djojonegoro

Wardiman Djojonegoro menulis buku berjudul Kartini dalam tiga jilid. Buku jilid 1 terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia memuat surat-surat Kartini dari tahun 1899 sampai 1904. Buku ini menunjukkan bagaimana Kartini ingin membebaskan perempuan dari belenggu adat istiadat, aturan perkawinan, dan ketidakadilan yang membuat potensi perempuan selalu terpendam.
Highlight kehidupan Kartini dimuat dalam jilid 2 yang berisi renungan serta cita-citanya. Cita-citanya menjadi inspirasi hingga kini untuk memperjuangkan kesetaraan gender di Indonesia. Hal ini lebih lanjut dibahas dalam jilid 3 yang membahas bagaimana usaha untuk mencapai kesetaraan gender di era modern ini.
4. Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam - Dian Purnomo

Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam adalah novel yang ditulis oleh Dian Purnomo dan terbit pada tahun 2021. Dian Purnomo dikenal sebagai penulis dari buku yang memiliki perhatian pada isu-isu sosial, khususnya isu perempuan dan perlindungan anak. Lewat buku ini, Dian menyuarakan penderitaan yang kerap diabaikan sekaligus mengangkat isu penting tentang hak perempuan dan perlindungan terhadap kekerasan berbasis budaya.
Novel ini menceritakan kisah Megi Diela yang kembali ke tanah Sumba untuk membangun daerahnya. Namun sayangnya, Megi justru menjadi korban "kawin tangkap". Ia diculik dan dipaksa menikahi Leba Ali, sosok yang menyalahgunakan kekuasaan untuk memuaskan nafsu dan hasratnya. Kisah ini berangkat dari kisah nyata, pengalaman banyak perempuan Sumba yang terperangkap dalam kekangan adat hingga kehilangan harapan.
5. Gadis Pantai - Pramoedya Karya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer menulis novel berjudul Gadis Pantai. Novel ini mengangkat kritiknya terhadap isu sosial dan pernikahan dini, yang terinspirasi dari pernikahan neneknya sendiri. Lewat buku ini, ia menggambarkan bagaimana situasi feodalisme di Jawa pada zaman dulu.
Gadis Pantai menceritakan seorang gadis desa 14 tahun yang terpaksa harus menikah dengan seorang priyayi karena hutang keluarganya. Nahas, ia kehilangan hak sebagai istri dan ibu hingga akhirnya diceraikan dan dipisahkan dari anaknya. Gadis Pantai memotret bagaimana kesenjangan sosial pada zaman itu dan bagaimana perempuan belajar melawan untuk menemukan kebebasan.
Itulah beberapa buku yang mengangkat semangat emansipasi perempuan seperti Kartini. Lebih banyak buku lainnya yang memotret bagaimana sosok perempuan dan perannya dalam mengubah dunia.