Bahas Roehana Koeddoes, Najwa: Literasi dan Kemandirian Kunci Kekuatan Perempuan
- Perempuan tidak menunggu, tapi menciptakan ruang. Najwa Shihab mencontohkan Roehana Koeddoes yang menciptakan ruangnya sendiri untuk berbicara dan berkarya.
- Literasi, kemandirian, dan tulisan sebagai kekuatan. Najwa menilai Roehana memahami pentingnya literasi, kemandirian ekonomi, dan kekuatan tulisan.
- Gagasan-gagasan tersebut masih menjadi bagian dari perjuangan perempuan hingga kini.
Jakarta, IDN Times - Pendiri Narasi sekaligus jurnalis senior Najwa Shihab menegaskan, di setiap zaman selalu ada cara untuk membungkam perempuan. Namun, di saat yang sama, selalu ada perempuan yang menemukan jalan untuk tetap bersuara.
Hal itu disampaikan Najwa saat berbicara mengenai sosok jurnalis perempuan pertama di Indonesia, Roehana Koeddoes, dalam diskusi ‘3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia' yang digelar IDN Times bekerja sama dengan Yayasan Amai Setia dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).
Najwa menyebut, Roehana sebagai contoh bagaimana perempuan tidak menunggu ruang publik diberikan, melainkan menciptakan ruangnya sendiri untuk berbicara dan berkarya.
Menurutnya, apa yang dilakukan Roehana Koeddoes lebih dari satu abad lalu masih sangat relevan dengan perjuangan perempuan hingga hari ini.
1. Perempuan tidak menunggu, tapi menciptakan ruang
“Setiap zaman selalu punya cara untuk membungkam perempuan. Tapi di setiap zaman juga selalu ada perempuan yang menemukan cara untuk bersuara,” kata Najwa.
Ia mencontohkan Roehana Koeddoes yang sudah menulis dan bergerak sejak ratusan tahun lalu, bahkan ketika ruang bagi perempuan sangat terbatas.
“Ia menulis dan yang menarik adalah ia membuka ruangannya sendiri loh. Ia tidak menunggu ruang publik itu datang,” ujar Najwa.
Menurutnya, Roehana secara sadar memilih untuk hadir dan menuntut ruang bagi dirinya dan perempuan lain. “Ia menuntut. Ia hadir di sana,” tambahnya.
2. Literasi, kemandirian, dan tulisan sebagai kekuatan
Najwa menilai, Roehana Koeddoes memahami konsep yang sangat modern untuk zamannya, yakni pentingnya literasi, kemandirian ekonomi, dan kekuatan tulisan.
“Ia memahami sesuatu yang terasa sangat modern. Literasi membuat perempuan berpikir. Kemandirian ekonomi membuat perempuan kuat. Tulisan membuat suara itu sampai,” ucap Najwa.
Ia menegaskan, gagasan-gagasan tersebut masih menjadi bagian dari perjuangan perempuan hingga kini. “Jadi Roehana Koeddoes memahami sesuatu yang sampai sekarang masih kita perjuangkan,” katanya.
Najwa juga menekankan pentingnya kemandirian. “Perempuan akan kuat kalau kita tidak tergantung. Kita kuat kalau kita tidak tergantung,” ujarnya.
3. Keistimewaan Roehana Koeddoes menurut Najwa Shihab

Menurut Najwa, keistimewaan Roehana Koeddoes terletak pada langkah-langkah konkret yang ia lakukan untuk memberdayakan perempuan.
“Karena lagi-lagi yang dilakukan Roehana Koeddoes menjadi istimewa. Karena ia membuat sekolah. Ia membuat perempuan bisa berkarya, dan ia membuat suara sampai lewat tulisan,” katanya.
Najwa mengakui, masih ada rasa bersalah karena sosok Roehana belum cukup dirayakan. “Kerap kali kita tidak cukup merayakan keperempuanan kita, termasuk tidak cukup merayakan kepahlawanan nasional,” ujarnya.
Ia juga menceritakan pengalamannya di program Mata Najwa yang kerap mengangkat tokoh-tokoh teladan dari sejarah. “Roehana Koeddoes sempat diriset tetapi belum sempat kita angkat,” katanya.
Najwa berharap akan ada momentum yang tepat ke depan. “Supaya lebih banyak lagi yang tahu tentang kisah-kisah perempuan yang menurut saya relevansinya bukan hanya pada jurnalis perempuan, tetapi pada semua dari kita,” tutupnya.

















