Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sebelum Ikut Cancel Seseorang, Tanyakan 5 Hal Ini ke Diri Sendiri
Ilustrasi merenung (pexels.com/Polina Romanenko)
  • Sebelum ikut cancel, pengguna media sosial dianjurkan memeriksa konteks utuh, sumber awal, klarifikasi pihak terkait, serta membedakan fakta dari opini viral.
  • Kemarahan massal dapat diperkuat algoritma, komentar, repost, dan likes; penting menilai masalah berdasarkan fakta, bukan sekadar mengikuti emosi timeline.
  • Kritik perlu dibedakan dari penghukuman atau public shaming: respons harus proporsional, bertujuan meminta pertanggungjawaban, dan tidak memicu pengucilan maupun kerugian psikologis berlebihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di media sosial, satu unggahan bisa berubah menjadi bahan perdebatan hanya dalam hitungan menit. Seseorang yang awalnya tidak dikenal luas, bisa tiba-tiba menjadi sasaran kritik, hujatan, bahkan ajakan untuk di-unfollow hingga diboikot. Dalam situasi seperti ini, rasanya mudah untuk ikut berkomentar karena melihat banyak orang melakukan hal yang sama.

Namun, sebelum ikut cancel seseorang, ada baiknya berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri: apakah saya benar-benar tahu persoalannya? Apakah informasi yang saya lihat sudah lengkap? Lima pertanyaan berikut bisa menjadi semacam ‘rem’ sebelum jempol ikut menghakimi.

1. “Apakah aku sudah tahu ceritanya secara utuh?”

Ilustrasi merenung (pexels.com/Mert Coşkun)

Pertanyaan pertama yang perlu diajukan adalah apakah kamu benar-benar mengetahui konteks masalahnya. Di media sosial, kadang informasi sering muncul dalam bentuk potongan video, screenshot, cuplikan pernyataan, atau unggahan yang sudah dirangkum oleh orang lain. Jadi, potongan informasi belum tentu menggambarkan kejadian secara keseluruhan.

Studi Pew Research Center berjudul Americans and ‘Cancel Culture’: Where Some See Calls for Accountability, Others See Censorship, Punishment menemukan bahwa salah satu alasan orang menganggap tindakan call-out sebagai hukuman yang tidak adil adalah karena orang sering tidak mempertimbangkan konteks atau maksud di balik sebuah unggahan sebelum melakukan konfrontasi. Dalam survei tersebut, 18 persen orang yang menganggap call-out sebagai hukuman yang tidak semestinya, menyebut kurangnya konteks sebagai salah satu alasannya.

Karena itu, sebelum ikut menyebarkan kritik, coba tanyakan: apakah kamu sudah membaca sumber awalnya? Apakah ada klarifikasi dari orang yang bersangkutan? Apakah video yang beredar merupakan potongan dari percakapan yang lebih panjang? Kalau jawabannya belum, mungkin tindakan paling bijak saat itu bukan ikut menyerang, melainkan menunggu sampai informasi yang tersedia lebih lengkap.

2. “Aku marah karena kesalahannya atau karena semua orang sedang marah?”

Ilustrasi merenung (pexels.com/Huỳnh Như Mavi)

Rasa marah terhadap sesuatu yang dianggap salah adalah hal yang manusiawi. Namun, emosi yang muncul ketika melihat ribuan orang mengecam seseorang bisa menjadi semakin kuat karena kita melihat reaksi orang lain secara terus-menerus. Jumlah komentar, repost, dan likes bahkan bisa membuat suatu kasus terlihat jauh lebih besar dan lebih jelas daripada informasi yang sebenarnya kita ketahui.

"Kita dibanjiri oleh media sosial sehingga sulit untuk memisahkan wacana yang tidak santun dari algoritma yang memperkuatnya," ujar psikolog Barbara Tint, PhD, dari Portland State University dan University of Oregon Law School dalam pembahasannya mengenai hubungan algoritma media sosial dan perilaku tidak beradab di internet, dikutip dari American Psychological Association.

Artinya, kemarahan di media sosial tidak selalu berdiri sendiri. Ada sistem digital yang ikut memperkuat konten yang mendapatkan perhatian dan interaksi tinggi. Jadi, sebelum ikut cancel, coba tanyakan apakah kamu memang menilai tindakan tersebut bermasalah setelah melihat faktanya atau kamu merasa harus marah karena timeline kamu sedang dipenuhi orang yang marah.

3. “Apakah aku sedang meminta pertanggungjawaban atau sekadar menghukum?”

Ilustrasi merenung (pexels.com/cottonbro studio)

Tidak semua bentuk kritik terhadap seseorang otomatis merupakan tindakan cancel culture. Ada perbedaan antara meminta seseorang bertanggung jawab atas tindakannya dan berusaha mempermalukannya sebanyak mungkin.

Kritik bisa bertujuan memberikan koreksi, sedangkan public shaming dapat berkembang menjadi serangan yang jauh lebih besar daripada kesalahan awalnya. James Fritz, peneliti filsafat dari Virginia Commonwealth University, menulis bahwa moral disapproval seharusnya memiliki dua karakter penting: keterbukaan dan kepantasan.

Ia menjelaskan bahwa ketidaksetujuan moral seharusnya tidak secara sengaja menimbulkan kerugian psikologis yang membuat seseorang terasing atau terisolasi dari komunitas moralnya. Pertanyaan ini penting karena seseorang bisa saja memang melakukan kesalahan, tetapi bukan berarti semua bentuk hukuman sosial otomatis menjadi proporsional.

"Pertama, tindakan tersebut semestinya mengedepankan keterbukaan. Hal ini berarti, antara lain, bahwa tindakan itu tidak boleh menuntut pihak yang dirugikan untuk tetap diam. Kedua, tindakan tersebut semestinya mengedepankan kepatutan. Hal ini berarti, antara lain, bahwa tindakan itu tidak boleh menimbulkan dampak psikologis merugikan yang dapat diprediksi-yang pada gilirannya mengasingkan atau mengucilkan seseorang dari komunitas moralnya," jelasnya dalam studi Online Shaming and the Ethics of Public Disapproval, dikutip dari Wiley Online Library.

"Saya mengilustrasikan ketegangan antara kedua tuntutan ideal ini dalam konteks fenomena mempermalukan orang lain secara daring (online shaming), lalu menunjukkan bagaimana konflik tersebut berlaku secara lebih luas," tambahnya.

4. “Apakah aku sudah memeriksa buktinya atau cuma percaya narasi yang viral?”

Ilustrasi merenung (pexels.com/Chris F)

Konten viral sering memberikan ilusi bahwa semakin banyak orang membicarakan sesuatu, semakin pasti pula kebenarannya. Padahal, popularitas sebuah narasi tidak sama dengan kualitas buktinya. Sebuah klaim bisa mendapatkan jutaan views sekaligus tetap memiliki konteks yang keliru, sumber yang tidak jelas, atau informasi yang belum terverifikasi.

Jadi, ketika kamu berada di balik layar, terkadang keputusan kita tidak bebas dari pengaruh situasi sosial. Ketika melihat banyak orang memberikan penilaian yang sama, kita bisa menjadi lebih mudah menerima sebuah narasi tanpa melakukan pemeriksaan ulang.

Karena itu, sebelum ikut cancel, cari sumber pertama, periksa tanggal kejadian, lihat konteks lengkap, dan bedakan fakta dari opini. Kalau buktinya belum jelas, tidak ikut memperbesar isu juga merupakan pilihan yang sah.

5. “Kalau orang ini memang salah, apakah reaksi yang akan kulakukan sudah proporsional?”

Ilustrasi merenung (pexels.com/Polina Romanenko)

Kesalahan seseorang dan respons publik terhadap kesalahan tersebut adalah dua hal yang berbeda. Seseorang memang bisa melakukan tindakan yang patut dikritik, tetapi respons terhadapnya tetap perlu mempertimbangkan tingkat kesalahan dan dampak yang ditimbulkan. Kritik yang proporsional berbeda dengan serangan massal yang terus berlangsung tanpa batas.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior Reports berjudul Doing good or feeling good? Justice concerns predict online shaming via deservingness and schadenfreude menemukan bahwa online shaming tidak hanya berkaitan dengan keinginan untuk menegakkan keadilan. Penelitian tersebut juga menemukan kaitan dengan persepsi bahwa seseorang layak menerima konsekuensi negatif dan perasaan schadenfreude, yaitu kepuasan ketika melihat orang lain mengalami kemalangan.

"Secara keseluruhan, penelitian ini mengindikasikan bahwa motif hedonis secara umum dan schadenfreude secara khusus merupakan emosi moral utama yang berkaitan dengan perilaku seseorang dalam mempermalukan orang lain," demikian laporan studi yang tertulis dalam ScienceDirect.

Ini menjadi pertanyaan yang cukup penting untuk diri sendiri: apakah aku ingin masalah ini diperbaiki, atau diam-diam menikmati ketika orang tersebut dipermalukan? Kalau tujuan awalnya adalah meminta pertanggungjawaban, seharusnya tindakan yang dilakukan tetap punya batasan yang sehat.

 

Sebelum ikut cancel seseorang, tidak ada salahnya memberikan jeda beberapa menit untuk berpikir. Lima pertanyaan sederhana tadi dapat membantu membedakan antara kritik yang lahir dari informasi dan reaksi yang lahir dari keramaian. Media sosial memang memberi kita hak untuk bersuara, tetapi bukan berarti kita menggunakannya untuk menghakimi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article