Ilustrasi merenung (pexels.com/Polina Romanenko)
Kesalahan seseorang dan respons publik terhadap kesalahan tersebut adalah dua hal yang berbeda. Seseorang memang bisa melakukan tindakan yang patut dikritik, tetapi respons terhadapnya tetap perlu mempertimbangkan tingkat kesalahan dan dampak yang ditimbulkan. Kritik yang proporsional berbeda dengan serangan massal yang terus berlangsung tanpa batas.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior Reports berjudul Doing good or feeling good? Justice concerns predict online shaming via deservingness and schadenfreude menemukan bahwa online shaming tidak hanya berkaitan dengan keinginan untuk menegakkan keadilan. Penelitian tersebut juga menemukan kaitan dengan persepsi bahwa seseorang layak menerima konsekuensi negatif dan perasaan schadenfreude, yaitu kepuasan ketika melihat orang lain mengalami kemalangan.
"Secara keseluruhan, penelitian ini mengindikasikan bahwa motif hedonis secara umum dan schadenfreude secara khusus merupakan emosi moral utama yang berkaitan dengan perilaku seseorang dalam mempermalukan orang lain," demikian laporan studi yang tertulis dalam ScienceDirect.
Ini menjadi pertanyaan yang cukup penting untuk diri sendiri: apakah aku ingin masalah ini diperbaiki, atau diam-diam menikmati ketika orang tersebut dipermalukan? Kalau tujuan awalnya adalah meminta pertanggungjawaban, seharusnya tindakan yang dilakukan tetap punya batasan yang sehat.
Sebelum ikut cancel seseorang, tidak ada salahnya memberikan jeda beberapa menit untuk berpikir. Lima pertanyaan sederhana tadi dapat membantu membedakan antara kritik yang lahir dari informasi dan reaksi yang lahir dari keramaian. Media sosial memang memberi kita hak untuk bersuara, tetapi bukan berarti kita menggunakannya untuk menghakimi.