Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Seseorang Sulit Menjadi Diri Sendiri di Lingkungan Baru?
ilustrasi mahasiswa yang sedang mengobrol (pexels.com/Buro Millennial)
  • Di lingkungan baru, orang cenderung mengamati norma dan kebiasaan sebelum bertindak, sehingga lebih berhati-hati dan belum langsung menunjukkan kepribadian asli.
  • Keinginan diterima dapat mendorong penyesuaian cara bicara, bercanda, hingga pendapat; bila berlebihan, hal ini berisiko membuat seseorang lelah memainkan peran.
  • Takut dinilai dan belum percaya diri membuat ekspresi diri tertahan; interaksi serta rasa saling percaya yang tumbuh seiring waktu biasanya meningkatkan kenyamanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masuk ke lingkungan baru sering menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Entah saat memulai kuliah, pekerjaan, atau bergabung dengan komunitas baru, banyak orang merasa perlu menyesuaikan diri dengan suasana di sekitarnya. Tidak heran jika sikap kita yang biasanya santai justru berubah menjadi lebih pendiam atau berhati-hati.

Perasaan tersebut sebenarnya merupakan respons yang cukup umum dalam proses adaptasi sosial. Otak secara alami berusaha membaca situasi sebelum memutuskan bagaimana kita akan bersikap di hadapan orang lain. Inilah alasan seseorang sulit menjadi diri sendiri di lingkungan baru.

1. Kita masih berusaha memahami norma dan kebiasaan di sekitar

ilustrasi rekan kerja (pexels.com/fauxels)

Setiap lingkungan memiliki aturan tidak tertulis yang memengaruhi cara orang berinteraksi. Ada kelompok yang terbiasa berbicara secara santai, sementara kelompok lain lebih menghargai komunikasi yang formal dan terstruktur. Sebelum memahami pola tersebut, kita cenderung lebih berhati-hati agar tidak melakukan sesuatu yang dianggap kurang tepat.

Proses mengamati lingkungan ini merupakan bagian dari social learning, yaitu cara kita mempelajari perilaku melalui pengamatan terhadap orang lain. Selama tahap ini, kita biasanya lebih banyak mendengarkan dibandingkan berbicara. Setelah mulai memahami kebiasaan dan nilai yang berlaku, rasa nyaman perlahan meningkat sehingga kepribadian asli mulai lebih mudah muncul.

2. Keinginan untuk diterima membuat kita lebih banyak menyesuaikan diri

ilustrasi mengobrol bersama (pexels.com/Cedric Fauntleroy)

Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk merasa diterima dalam suatu kelompok. Keinginan tersebut dapat membuat kita menyesuaikan cara berbicara, gaya bercanda, bahkan pendapat yang disampaikan agar tidak berbeda terlalu jauh dari orang lain. Penyesuaian ini sering dilakukan tanpa disadari karena otak menganggap penerimaan sosial sebagai sesuatu yang penting.

Dalam psikologi, kecenderungan tersebut berkaitan dengan social conformity, yaitu perilaku mengikuti norma kelompok agar memperoleh penerimaan atau menghindari penolakan. Selama masih berada dalam batas yang sehat, penyesuaian ini merupakan bagian normal dari proses membangun hubungan. Namun, apabila dilakukan secara berlebihan, kita bisa merasa lelah karena terus berusaha memainkan peran yang sebenarnya tidak sesuai dengan diri sendiri.

3. Rasa takut dinilai membuat kita menahan ekspresi yang sebenarnya

ilustrasi pria yang bekerja sendirian (pexels.com/Yan Krukau)

Ketika bertemu orang baru, kita belum mengetahui bagaimana mereka akan memandang kepribadian maupun cara berpikir kita. Ketidakpastian tersebut sering memunculkan kekhawatiran bahwa ucapan atau tindakan tertentu akan meninggalkan kesan negatif. Akibatnya, kita menjadi lebih banyak menyaring perkataan dan memilih bersikap aman daripada menampilkan diri secara apa adanya.

Fenomena ini berkaitan dengan evaluation apprehension, yaitu rasa cemas terhadap kemungkinan dinilai oleh orang lain. Perasaan tersebut dapat membuat kita menjadi lebih pendiam meskipun sebenarnya memiliki karakter yang terbuka. Setelah hubungan mulai terjalin dan rasa saling percaya terbentuk, kecemasan tersebut biasanya berkurang sehingga kita lebih bebas mengekspresikan diri.

4. Kepercayaan diri membutuhkan waktu untuk tumbuh

ilustrasi berdiskusi bersama teman (pexels.com/Ivan Samkov)

Menjadi diri sendiri tidak hanya bergantung pada keberanian, tetapi juga pada rasa aman yang terbentuk melalui pengalaman. Semakin sering kita berinteraksi dengan orang yang sama, semakin mudah pula memahami respons dan karakter mereka. Pengalaman tersebut perlahan membangun keyakinan bahwa kita dapat diterima tanpa harus terus menyembunyikan kepribadian asli.

Hal ini menjelaskan mengapa kita sering terlihat berbeda pada hari pertama dibandingkan dengan beberapa bulan kemudian. Bukan karena kepribadian kita berubah, melainkan karena rasa percaya diri dan kenyamanan sosial telah berkembang seiring waktu. Ketika hubungan semakin akrab, energi yang sebelumnya digunakan untuk terus menyesuaikan diri dapat dialihkan menjadi komunikasi yang lebih spontan dan autentik.

Seseorang sulit menjadi diri sendiri di lingkungan baru bukan berarti ada yang salah dengan kepribadian mereka. Sebagian besar orang membutuhkan waktu untuk mengenali situasi, membangun rasa percaya, dan menemukan kenyamanan dalam berinteraksi. Seiring bertambahnya pengalaman dan semakin dekatnya hubungan, kita umumnya akan lebih mudah menunjukkan diri yang sebenarnya tanpa merasa harus berpura-pura.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article