Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Sifat Unik Orang yang Rajin Baca Buku Tiap Hari Menurut Psikolog

6 min read
5 Sifat Unik Orang yang Rajin Baca Buku Tiap Hari Menurut Psikolog
ilustrasi santai, baca buku (pexels.com/George Milton)
Share Article

Bagi sebagian orang, membaca buku setiap hari sudah menjadi rutinitas yang sulit dilewatkan. Ada yang membaca novel sebelum tidur, menikmati buku nonfiksi saat pagi, atau sengaja meluangkan waktu beberapa menit di tengah kesibukan. Kebiasaan sederhana ini ternyata berkaitan dengan sejumlah kemampuan psikologis dan kognitif.

Psikolog Amberley Meredith menjelaskan bahwa membaca untuk kesenangan dapat memberikan stimulasi kognitif, membantu mengurangi kecemasan terhadap hal yang belum diketahui, serta mendukung kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain. Beberapa penelitian juga menemukan hubungan antara aktivitas membaca dengan empati, kemampuan kognitif, serta kemampuan bahasa.

Lantas, sifat seperti apa yang sering terlihat pada orang yang rajin membaca setiap hari?

  1. 1. Lebih mudah memahami perasaan orang lain

    ilustrasi pasangan empati (pexels.com/Juan Pablo Serrano)
    ilustrasi pasangan empati (pexels.com/Juan Pablo Serrano)

    Orang yang terbiasa membaca cerita punya kesempatan lebih banyak untuk mengenal berbagai karakter, pengalaman, dan sudut pandang. Menurut psikolog Amberley Meredith, membaca memungkinkan seseorang melihat bagaimana orang lain berpikir dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu. Ketika mengikuti perjalanan sebuah karakter, kamu seolah diajak masuk ke dalam dunia batin seseorang yang mungkin memiliki pengalaman berbeda. Proses tersebut dapat membantu mengembangkan kemampuan memahami perspektif orang lain.

    Temuan dalam jurnal PLOS ONE juga memberikan gambaran mengenai hubungan antara kebiasaan membaca dan empati. Penelitian tersebut melibatkan anak usia 6–8 tahun yang menjalani rutinitas membaca buku cerita setiap hari selama dua minggu. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pada empati kognitif dan empati secara keseluruhan setelah periode membaca tersebut, meski peneliti juga menekankan adanya keterbatasan penelitian dan tidak menggunakan kelompok yang sama sekali gak membaca sebagai pembanding.

  2. 2. Lebih terbiasa menjaga fokus

    ilustrasi fokus, serius bekerja
    ilustrasi fokus, serius bekerja (pexels.com/Snapwire)

    Membaca buku membutuhkan perhatian yang cukup lama karena kamu perlu mengikuti informasi secara berurutan. Saat membaca novel, misalnya, kamu harus mengingat karakter, memahami konflik, serta mengikuti kejadian dari satu bagian ke bagian berikutnya. Menurut Meredith, kebiasaan mempertahankan perhatian ketika membaca dapat membantu seseorang melatih kemampuan untuk tetap terlibat dengan suatu aktivitas sambil mengurangi gangguan. Kemampuan tersebut berpotensi digunakan dalam kegiatan lain seperti menyelesaikan pekerjaan atau mendengarkan orang lain.

    Kebiasaan membaca juga membuatmu terbiasa menghadapi aktivitas yang gak memberikan hasil instan. Tidak seperti video pendek yang berganti setiap beberapa detik, sebuah buku mengharuskanmu bertahan lebih lama untuk memahami keseluruhan cerita atau gagasan. Karena itu, rutinitas membaca dapat menjadi salah satu bentuk latihan untuk mengarahkan perhatian pada satu aktivitas. Namun, hubungan antara membaca dan kemampuan fokus tetap perlu dipahami secara hati-hati karena penelitian yang ada memiliki desain dan kelompok peserta yang berbeda-beda.

  3. 3. Punya kosakata yang lebih kaya

    ilustrasi baca buku (pexels.com/Ánh Đặng)
    ilustrasi baca buku (pexels.com/Ánh Đặng)

    Semakin sering membaca, semakin banyak pula kata dan ungkapan yang kamu temui. Ada istilah yang mungkin belum pernah digunakan dalam percakapan sehari-hari, tapi kemudian menjadi familier setelah beberapa kali muncul di dalam buku. Menurut Meredith, pembaca secara alami menyerap kata dan isi bacaan sehingga semakin mengenal berbagai kosakata. Kebiasaan tersebut dapat mendukung kemampuan komunikasi secara lisan maupun tulisan.

    Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cognition menunjukkan bahwa paparan terhadap kata-kata melalui aktivitas membaca dapat memengaruhi proses pengenalan kata tertulis. Dalam penelitian tersebut, peserta membaca sebuah novel dengan kecepatan masing-masing, kemudian menjalani tes pengenalan kata. Peneliti menemukan adanya efek paparan terhadap kata yang muncul dalam bacaan, terutama pada kata dengan frekuensi penggunaan rendah.

    Temuan tersebut memperkuat gambaran bahwa membaca memberikan kesempatan bagi otak untuk terus berinteraksi dengan bentuk kata yang beragam. Namun, penelitian itu secara khusus menguji pengenalan kata tertulis, sehingga gak tepat jika langsung menyimpulkan bahwa setiap orang yang membaca setiap hari pasti memiliki kemampuan berbicara atau menulis lebih baik. Meski begitu, semakin beragam bacaan yang kamu nikmati, semakin banyak pula kesempatan untuk berkenalan dengan kosakata dan pola bahasa baru.

  4. 4. Terbiasa melihat sesuatu secara kritis

    ilustrasi critical thinking, berpikir kritis, kreatif
    ilustrasi critical thinking, berpikir kritis, kreatif (magnific.com/KamranAydinov)

    Membaca cerita menuntut kamu untuk memahami hubungan antara berbagai informasi. Kamu perlu mengingat kejadian sebelumnya, memahami alasan di balik tindakan karakter, lalu menghubungkannya dengan informasi yang muncul kemudian. Menurut Meredith, proses tersebut membuat pembaca terbiasa menilai, menganalisis, dan memahami konteks sebuah situasi. Kemampuan seperti ini dapat berkaitan dengan cara seseorang memproses informasi di luar aktivitas membaca.

    Pembahasan dalam jurnal Scientific Study of Literature menunjukkan bahwa membaca karya sastra gak hanya berkaitan dengan memahami arti literal sebuah teks. Salah satu kajian dalam jurnal tersebut membahas bagaimana pembacaan sastra melibatkan proses membangun interpretasi terhadap makna yang lebih dalam dari sebuah teks. Kajian lain dalam jurnal yang sama juga secara khusus membahas keterlibatan berpikir kritis dalam pemahaman sastra.

    Artinya, pembaca tidak selalu menerima informasi begitu saja. Saat mengikuti cerita, kamu bisa mempertanyakan alasan sebuah karakter bertindak, membandingkan sudut pandang, atau mengubah kesimpulan setelah menemukan informasi baru. Kebiasaan mempertimbangkan konteks seperti ini dapat membuat aktivitas membaca menjadi latihan mental untuk memahami informasi secara lebih menyeluruh.

  5. 5. Lebih terbuka menggunakan imajinasi

    ilustrasi imajinasi
    ilustrasi imajinasi (pexels.com/Nazlı Gaylan Azili)

    Membaca buku mengharuskan kamu membentuk gambaran sendiri mengenai sesuatu yang sedang diceritakan. Saat penulis menggambarkan tempat, karakter, atau sebuah kejadian, otak perlu mengolah kata-kata tersebut menjadi gambaran mental. Menurut Meredith, proses memasuki berbagai dunia melalui bacaan dapat mendorong imajinasi, membuka kemungkinan baru, dan membuat seseorang melihat sesuatu dari perspektif berbeda. Karena itu, pembaca rutin dapat memiliki lebih banyak kesempatan untuk melatih fleksibilitas dalam membayangkan berbagai kemungkinan.

    Penelitian dalam jurnal Psychological Medicine juga menemukan hubungan antara pengalaman membaca untuk kesenangan sejak masa kanak-kanak dengan sejumlah aspek perkembangan kognitif dan kesejahteraan mental pada masa remaja. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 10.000 peserta dalam kelompok ABCD di Amerika Serikat dan menemukan bahwa pengalaman membaca untuk kesenangan sejak lebih awal berkaitan dengan performa kognitif yang lebih baik serta beberapa ukuran kesehatan mental yang lebih rendah pada masa remaja.

    Temuan tersebut memang dilakukan pada anak dan remaja, sehingga gak bisa langsung digunakan untuk menggambarkan semua orang dewasa yang rajin membaca. Meski begitu, hasil penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa membaca untuk kesenangan berkaitan dengan perkembangan sejumlah kemampuan kognitif. Jadi, kebiasaan membaca dapat menjadi salah satu aktivitas yang memberi ruang bagi pikiran untuk mengeksplorasi ide, informasi, dan pengalaman yang berbeda.

    Rajin membaca buku setiap hari dapat berkaitan dengan sejumlah kemampuan yang menarik, mulai dari memahami perspektif orang lain, menjaga perhatian, memperkaya pengalaman dengan kata-kata, memahami informasi secara kritis, hingga menggunakan imajinasi. Penjelasan psikolog Amberley Meredith dan sejumlah penelitian menunjukkan bahwa membaca untuk kesenangan memiliki berbagai aspek positif, meski tidak semua hubungan tersebut berarti membaca secara langsung menyebabkan perubahan tertentu.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa manfaat membaca dapat berbeda tergantung usia, jenis bacaan, durasi, dan cara aktivitas tersebut dilakukan. Jadi, kalau selama ini kamu menikmati membaca karena merasa senang, rileks, atau penasaran dengan cerita berikutnya, kebiasaan sederhana tersebut ternyata juga memberi ruang bagi pikiran untuk terus berkembang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More