Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
10 Sinyal Perubahan Perilaku, Ekonomi, dan Kepercayaan Generasi Muda
ilustrasi anak muda sedang berkomunikasi satu sama lain (pexels.com/Allan Mas)
  • Laporan IMGR 2027 mengungkap sepuluh sinyal perubahan perilaku, ekonomi, dan kepercayaan generasi muda Indonesia yang menunjukkan pergeseran besar dalam cara mereka bekerja, berbelanja, dan membangun kepercayaan.

  • Generasi muda menuntut transparansi, autentisitas, serta nilai nyata dari merek dan institusi; sementara budaya lokal, ekonomi fandom, dan spiritualitas personal muncul sebagai kekuatan ekonomi baru.

  • IDN Media melalui Indonesia Summit 2026 meluncurkan IMGR 2027 untuk memetakan aspirasi Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah Indonesia guna memahami arah masa depan sosial-ekonomi bangsa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Laporan IMGR 2027 menampilkan potret optimistis tentang kemampuan generasi muda Indonesia membaca arah perubahan sosial dan ekonomi. Dari tumbuhnya budaya lokal hingga meningkatnya partisipasi digital, setiap sinyal menunjukkan energi kreatif yang kuat. Bahkan di tengah tantangan kepercayaan dan tekanan ekonomi, muncul peluang baru bagi inovasi, kolaborasi, serta pembaruan cara pandang lintas sektor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perubahan besar tidak selalu diawali oleh peristiwa yang mencolok, melainkan sering muncul dalam hal-hal kecil namun terus berulang hingga akhirnya membentuk realitas baru.

Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 (IMGR 2027) menemukan perilaku generasi muda Indonesia yang memetakan arah pergerakan perilaku, uang, dan kepercayaan masyarakat sedang berubah. Selain menggambarkan masa depan, ini juga bisa menjadi potret kemampuan berbagai pihak dalam mengenali dan mengikuti perubahan.

Generasi muda dinilai menjadi kelompok yang paling cepat beradaptasi. Cara mereka bekerja, memilih produk, membangun komunitas, hingga mempercayai sebuah institusi telah berubah. Namun, banyak sistem, baik di dunia bisnis maupun kebijakan publik, dinilai masih menggunakan cara pandang lama untuk memahami mereka.

Bagi industri dan pelaku usaha, sinyal-sinyal tersebut menjadi petunjuk mengenai arah pasar yang sedang mengalami transformasi. Sementara bagi pemerintah, sinyal itu merupakan peringatan dini mengenai tekanan struktural yang jika diabaikan justru akan membutuhkan biaya lebih besar untuk diperbaiki di kemudian hari.

Urgensi tersebut makin terlihat setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026 secara tahunan, melampaui target pemerintah. Di balik pertumbuhan tersebut, distribusi manfaat ekonomi dinilai masih menyisakan berbagai tantangan yang perlu dicermati.

Berikut sepuluh sinyal perubahan yang diperkirakan akan membentuk Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

1. Kelas menengah bawah menjadi segmen konsumen paling rentan sekaligus paling potensial

Sebanyak 50,4 persen masyarakat kini berada dalam kelompok aspiring middle class, yaitu kelompok yang pendapatannya meningkat tetapi daya belinya tertekan. Mereka memiliki aspirasi tinggi, tetapi akses terhadap berbagai produk dan layanan masih terbatas.

Kelompok ini dinilai tidak lagi tertarik pada strategi diskon besar-besaran atau produk murah tanpa nilai tambah yang jelas. Mereka lebih butuh harga yang rasional, manfaat nyata, dan komunikasi yang menghargai kemampuan mereka dalam mengambil keputusan finansial.

Di sisi lain, tekanan terhadap kelas menengah bawah juga menjadi tantangan kebijakan publik. Jika tidak ada intervensi dini, kelompok ini berpotensi jatuh menjadi penerima bantuan sosial dalam beberapa tahun mendatang, sehingga biaya pemulihan akan jauh lebih besar dibanding biaya pencegahan.

2. Rendahnya kepercayaan terhadap asuransi menjadi peluang bisnis baru

Hampir separuh responden belum memiliki asuransi selain BPJS. Kondisi tersebut bukan semata karena tidak memahami pentingnya perlindungan ataupun tidak memiliki kemampuan finansial, tetapi karena rendahnya tingkat kepercayaan terhadap industri asuransi.

Cerita mengenai klaim yang ditolak terbukti lebih berpengaruh dibanding testimoni positif. Karena itu, perusahaan yang mampu menghadirkan transparansi klaim secara nyata diperkirakan memiliki peluang besar untuk memenangkan pasar yang selama ini belum tergarap.

3. Fenomena #KaburAjaDulu menunjukkan kesenjangan nilai di pasar tenaga kerja

ilustrasi anak muda kumpul bareng teman (pexels.com/Syifa Aulia)

Meningkatnya minat generasi muda untuk bekerja di luar negeri dipandang bukan cuma tren media sosial. Ini menjadi sinyal bahwa sebagian anak muda melihat peluang hidup yang lebih baik di luar Indonesia.

Kondisi itu menunjukkan bahwa perusahaan domestik tidak cukup hanya menawarkan gaji tinggi, tetapi juga perlu menyediakan fleksibilitas kerja, otonomi, serta jenjang karier yang realistis untuk mempertahankan talenta terbaik.

4. Kepercayaan publik kini dibangun di berbagai platform digital

ilustrasi media sosial, medsos (magnific.com/rawpixel.com)

Masyarakat Indonesia kini menggunakan rata-rata tujuh platform digital setiap bulan. Menariknya, setiap platform memiliki fungsi yang berbeda dalam membangun kepercayaan.

TikTok menjadi tempat membangun kesan pertama, YouTube memperkuat keyakinan melalui penjelasan yang lebih mendalam, sedangkan X menjadi ruang diskusi sekaligus pengujian narasi di ruang publik.

Akibatnya, merek yang hanya hadir di satu platform tidak hanya kehilangan jangkauan audiens, tetapi juga kehilangan kesempatan membangun kepercayaan secara utuh.

5. AI menjadi "editor pertama" yang membelah kemampuan literasi informasi

Makin banyak gen Z Indonesia menggunakan akal imitasi (AI) untuk mencari informasi. Namun, rendahnya tingkat literasi AI nasional menunjukkan tidak semua pengguna mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara kritis.

Kelompok yang mampu mengevaluasi hasil AI akan memperoleh keunggulan informasi. Sebaliknya, mereka yang menerima hasil AI tanpa verifikasi akan lebih mudah dipengaruhi oleh narasi yang belum tentu benar.

Bagi perusahaan maupun pemerintah, kondisi ini menjadi tantangan karena konten harus disusun agar mudah dipahami AI sekaligus tetap akurat saat diringkas.

6. Ekonomi fandom terus tumbuh meski tekanan ekonomi meningkat

ilustrasi bergabung Saweria (dok. Saweria.co)

Data transaksi Saweria menunjukkan ekonomi kreator dan komunitas penggemar tetap bertahan di tengah perlambatan ekonomi.

Nilai rata-rata tip yang relatif kecil justru menunjukkan loyalitas tinggi dari para penggemar. Seiring makin murahnya berbagai layanan virtual, ekonomi fandom diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang.

Bagi merek, membangun hubungan dengan komunitas dinilai akan jauh lebih efektif dibandingkan hanya beriklan di dalam ekosistem tersebut.

7. Budaya lokal menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru

Munculnya genre musik hipdut, pertumbuhan pesat parfum lokal, hingga meningkatnya perhatian industri hiburan global terhadap film Indonesia menunjukkan bahwa budaya lokal sedang mengalami momentum besar.

Konsumen kini makin mudah mengenali strategi lokalisasi yang dibuat secara dangkal. Sebaliknya, narasi yang autentik dan konsisten diperkirakan menjadi kunci utama untuk mempertahankan relevansi sebuah merek.

8. Menurunnya kepercayaan publik membuka ruang bagi aktor non pemerintah

Ilustrasi anak muda (IDN Times/Indonesia Gen Z Report)

Makin sedikit masyarakat yang menilai respons pemerintah terhadap isu publik sudah memadai. Kekosongan kepercayaan tersebut mulai diisi oleh kreator independen, komunitas digital, hingga organisasi sipil yang memanfaatkan data terbuka untuk melakukan pengawasan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan publik kini dapat dibangun oleh aktor di luar institusi formal melalui transparansi, kedekatan dengan masyarakat, dan akuntabilitas.

9. Aktivitas digital akan makin menentukan citra sebuah merek

Lebih dari separuh responden pernah membagikan atau menandatangani petisi sebagai bentuk partisipasi sosial.

Generasi Z tercatat hampir dua kali lebih aktif dibandingkan generasi Milenial dalam aktivitas tersebut. Karena itu, perusahaan yang memilih bersikap netral terhadap isu-isu publik berpotensi kehilangan kendali atas citranya sendiri, karena masyarakat akan membentuk persepsi tanpa menunggu pernyataan resmi dari merek tersebut.

10. Spiritualitas personal menjadi pasar baru yang belum tergarap maksimal

ilustrasi tarot reading (unsplash.com/Petr Sidorov)

Konten astrologi, tarot, dan spiritualitas non agama makin populer, terutama di kalangan anak muda. Sebagian besar mengaksesnya bukan karena keyakinan mendalam, melainkan sebagai hiburan dan sarana memahami diri sendiri.

Pasar tarot global diperkirakan hampir dua kali lipat hingga 2035. Dengan populasi gen Z dan milenial yang besar, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan kategori ini. Namun, hingga kini belum banyak pelaku lokal yang benar-benar memanfaatkannya sebagai peluang bisnis.

Sepuluh sinyal di atas menunjukkan bahwa perubahan sosial dan ekonomi Indonesia sering kali muncul melalui pola-pola kecil yang terus menguat dari waktu ke waktu.

Pihak yang mampu membaca sinyal sejak dini berpeluang menjadi pemenang dalam lanskap baru, sementara mereka yang terlambat beradaptasi berisiko tertinggal oleh perubahan yang sudah berlangsung.

IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Editorial Team

Related Article