Pelatihan Berbasis MTU Bikin Warga Jakarta Siap Kerja

- Pemprov DKI Jakarta memperluas pelatihan kerja melalui Mobile Training Unit yang membawa instruktur dan peralatan praktik langsung ke lingkungan warga.
- Sepanjang 2026, 2.731 warga mengikuti pelatihan MTU, didukung pelatihan reguler bagi 630 peserta dan magang untuk 1.000 lulusan SMA/sederajat.
- Materi pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan industri, mencakup keterampilan digital, administrasi, bahasa Inggris, dan vokasi untuk meningkatkan kesiapan kerja atau usaha mandiri.
Persaingan kerja kini semakin kompetitif. Selain ijazah, perusahaan juga mencari kandidat yang punya keterampilan sesuai kebutuhan industri. Karena itu, meningkatkan kompetensi menjadi hal wajib agar siap memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Pemprov DKI Jakarta terus memperluas akses pelatihan kerja melalui Mobile Training Unit (MTU) dari Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) DKI Jakarta. Program ini menghadirkan pelatihan langsung ke tengah masyarakat sehingga warga lebih mudah mengaksesnya.
Program ini hadir sejalan dengan membaiknya kondisi ketenagakerjaan di Jakarta. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS Provinsi DKI Jakarta, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 6,03 persen pada Februari 2026, sementara jumlah penduduk yang bekerja meningkat menjadi 5,20 juta orang atau bertambah 62,18 ribu orang dibandingkan Februari 2025.
1. Pelatihan kerja hadir langsung ke lingkungan warga

Tak semua orang punya kesempatan mengikuti pelatihan di balai latihan kerja, salah satunya karena faktor jarak. Karena itu, MTU membawa instruktur beserta peralatan praktik langsung ke kecamatan, kelurahan, hingga lingkungan permukiman sehingga pelatihan mudah dijangkau masyarakat.
Program ini terus diperluas sepanjang 2026. Sebanyak 2.731 warga telah mengikuti pelatihan melalui MTU. Selain itu, Disnakertransgi DKI Jakarta menyelenggarakan pelatihan reguler bagi 630 peserta serta program magang untuk 1.000 lulusan SMA/sederajat yang bekerja sama dengan 107 perusahaan.
Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta memperluas akses pelatihan sekaligus menyiapkan tenaga kerja yang lebih kompeten dan siap bersaing.
2. Kompetensi disesuaikan dengan kebutuhan industri

Materi pelatihan MTU terus diperbarui mengikuti kebutuhan dunia kerja sehingga peserta tidak hanya memperoleh sertifikat, tetapi juga kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri maupun bekal untuk membangun usaha mandiri.
Pilihan pelatihannya pun beragam, mulai dari Digital Marketing, Video Editor, Desainer Grafis Muda, Junior Office Administration, Bahasa Inggris untuk Tenaga Administrasi Profesional, hingga pelatihan vokasi seperti Tata Busana, Tata Boga, Teknik Sepeda Motor, Teknik Refrigerasi, Barista, dan Tata Rias.
Sejumlah pelatihan telah digelar sepanjang 2026. Salah satunya Bahasa Inggris untuk Tenaga Administrasi Profesional di Kelurahan Cilangkap, Jakarta Timur, yang diikuti 130 peserta. Selama 45 hari, peserta dibekali kemampuan komunikasi profesional, pelayanan pelanggan, dan administrasi perkantoran dalam bahasa Inggris sebagai bekal memasuki dunia kerja. Selain itu, MTU juga menggelar pelatihan Tata Busana bagi Warga Binaan Sosial (WBS) di Jakarta Barat serta Desainer Grafis Muda di Jakarta Utara untuk membekali peserta dengan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri.
3. Keterampilan meningkat, peluang kerja semakin terbuka

Peningkatan keterampilan menjadi salah satu langkah penting untuk memperluas kesempatan kerja. Melalui berbagai program pelatihan, Pemprov DKI Jakarta ingin memastikan warga memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri sehingga lebih siap memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Kami ingin memastikan pembangunan Jakarta berlangsung secara inklusif. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan terbukanya lapangan kerja, meningkatnya kualitas layanan publik, dan terjaganya kesejahteraan seluruh warga," ujar Pramono.
Dengan semakin banyak warga yang memiliki keterampilan relevan, peluang kerja diharapkan semakin terbuka. Hal ini sekaligus memperkuat fondasi Jakarta menuju kota global yang didukung sumber daya manusia yang unggul. (WEB)




















