"Praktik slow reading, berarti perhatian kita bersifat terbuka. Perhatian dapat tertuju pada beberapa kalimat dan kata, lalu beralih ke kalimat dan kata berikutnya. Ini adalah perhatian yang menyebar dan terdistribusi. Ada semacam kebebasan dalam eksplorasi teks yang terbuka ini yang jelas-jelas hilang dari membaca sekilas," jelasnya.
Slow Reading, Tren Membaca Pelan untuk Menikmati Buku dengan Lebih Sadar

Tren slow reading (membaca lambat) hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya digital yang serba cepat, instan, dan penuh distraksi. Tren ini memfokuskan kembali pada pengalaman membaca yang sebenarnya, bukan pada jumlah buku yang selesai dibaca.
Hal ini sejalan dengan popularitas buku fisik yang mengalami kebangkitan, di mana sebagian besar pembaca tertarik kembali oleh sensasi sentuhan kertas. Tren ini mengarah pada sesuatu yang telah lama dinanti dalam budaya membaca, yaitu keinginan mendalam untuk benar-benar fokus pada satu bacaan, alih-alih hanya membaca sekilas, seperti yang ditawarkan bacaan digital.
Jika kamu mulai kembali membaca buku fisik, ketahui lebih banyak tentang slow reading, tren membaca pelan untuk menikmati buku dengan lebih sadar di sini!
1. Apa itu tren slow reading?

Ilustrasi slow reading (pexels.com/Andrea Piacquadio) Slow reading adalah metode membaca dengan fokus dan kesadaran penuh yang mengutamakan kualitas pemahaman, penghayatan, dan refleksi mendalam daripada kecepatan atau kuantitas.
Ini merupakan praktik yang disengaja untuk membaca teks dengan kecepatan santai dan penuh pertimbangan. Yang diprioritaskan dari tren ini termasuk pemahaman mendalam, koneksi emosional, dan kesenangan, bukan kecepatan atau produktivitas.
Bence Nanay, Ph.D., seorang Profesor Riset Filsafat BOF di Pusat Psikologi Filosofis di Universitas Antwerp, menuliskan sudut pandangnya tentang slow reading dalam artikel yang dipublikasikan di laman Psychology Today bertajuk, "Reading, Fast and Slow".
Sebagai bagian dari tren slow movement yang lebih luas, tren ini bertindak sebagai penolakan langsung terhadap modern hustle culture, gangguan digital, hingga tekanan untuk memperlakukan membaca seperti perlombaan.
2. Mengapa slow reading menjadi tren di dunia digital?

Ilustrasi slow reading (pexels.com/cottonbro studio) Kebiasaan online mengganggu kemampuan kita untuk memproses dan memahami informasi tekstual yang panjang. Berita online sepanjang waktu membuat kita terus-menerus mengklik tautan dari satu artikel ke artikel berikutnya, tanpa harus sepenuhnya terlibat dengan kontennya.
Bacaan itu bahkan sering terganggu oleh bunyi notifikasi e-mail terbaru, dan kita sekarang lebih sering menyerap kata-kata singkat di media sosial daripada teks yang lebih panjang. Ini mengakibatkan kelelahan digital, di mana multitasking terus-menerus dan konten berdurasi pendek telah menurunkan rentang perhatian, menjadikan slow reading sebagai kemewahan.
Dunia digital juga membentuk tren tantangan, di mana kita harus menyelesaikan berapa banyak buku yang selesai dibaca, alih-alih seberapa baik buku tersebut beresonansi dengan pembaca.
"Jika kamu ingin merasakan pengalaman mendalam dari sebuah buku, ingin menghayatinya, memadukan ide-ide penulis dengan idemu sendiri dan menjadikannya pengalaman yang lebih personal, kamu harus membacanya perlahan," kata John Miedema, penulis buku Slow Reading (2009) yang berbasis di Ottawa, mengutip laman The Guardian.
3. Manfaat slow reading

Ilustrasi slow reading (pexels.com/George Milton) Membaca bukan hanya sekadar kegiatan menyenangkan, aktivitas ini sebenarnya dapat memperpanjang umur. Membaca lebih dari sekadar hobi, ini jadi tools yang ampuh untuk kesehatan kognitif.
“Saat kamu duduk dan membaca buku, seringkali dibutuhkan konsentrasi yang lebih dalam, fokus yang lebih berkelanjutan, dan keterlibatan yang lebih aktif daripada sekadar membaca artikel-artikel pendek,” kata Kathleen Jordan, MD, dan Kepala Petugas Medis Midi Health, mengutip laman Verywell Mind.
Sementara itu, aktivitas slow reading juga bermanfaat agar lebih mudah mengingat apa yang kamu baca, untuk memperdalam pemahaman, dan untuk menikmati keindahan tulisan. Praktik ini mendorong kesadaran penuh, di mana membaca memperlambat kamu dan membawamu ke momen saat ini.
Adapun stres juga dapat merusak kesehatan mental dan fisik. Namun, banyak dari kita kesulitan menemukan praktik pengurangan stres yang terjangkau, mudah diakses, dan efektif. Slow reading dapat memenuhi ketiga kriteria tersebut.
4. Tips menerapkan slow reading

Ilustrasi slow reading (pexels.com/Ron Lach) Apabila kamu baru ingn memulai praktik slow reading, berikut ada beberapa tips menerapkan slow reading.
- Pilihlah buku-buku yang menginspirasi dan bacalah di tempat yang tenang.
- Menentukan waktu khusus tanpa gangguan, misalnya 15–30 menit sebelum tidur atau pagi hari.
- Meminimalkan distraksi, seperti menjauhkan ponsel atau mematikan notifikasi saat membaca.
- Luangkan waktu untuk merenungkan apa yang kamu baca, beri tanda, atau baca ulang bagian-bagian tertentu.
- Membaca ulang bagian-bagian yang kompleks atau paragraf favorit tanpa rasa bersalah.
- Membutuhkan waktu berminggu-minggu atau bahkan sebulan penuh untuk menyelesaikan satu buku.
Sebagian besar tren membaca cepat memudar, tetapi tren slow reading mungkin berbeda. Bukan karena metodenya revolusioner, tetapi karena merujuk pada sesuatu yang sangat manusiawi.
Banyak dari kita merindukan perasaan "benar-benar berada di dalam sebuah buku", bukan hanya sekadar membacanya dengan tergesa-gesa hanya untuk berlomba menyelesaikan berapa banyak buku. So, apakah kamu ingin mencoba ikut tren slow reading dalam waktu dekat?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






![[QUIZ] Kegagalan yang Belum Bisa Kamu Lepaskan dan Masih Bikin Overthinking saat Sendiri](https://image.idntimes.com/post/20260529/pexels-cottonbro-6941117_9e10ba34-2230-44b7-8d66-c327b7ea5bb4.jpg)

![[QUIZ] Pilih Quotes Upin Ipin, Kamu Cocok Dapat Pasangan Alpha atau Beta?](https://image.idntimes.com/post/20250828/thisisengineering-hocyulmttny-unsplash-1_958532ab-9f19-437a-b038-cff9ba7f7a37.jpg)










![[QUIZ] Dari Hubungan di Upin Ipin, Ini Boundaries Kamu di Hubungan](https://image.idntimes.com/post/20260801/stocksnap-couple-2563424_b5773fa4-fd83-4791-ac1f-5f124242b5ed.jpg)


