Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Social Exhaustion Menguras Energi, Saatnya Beri Diri Ruang Bernapas

Social Exhaustion Menguras Energi, Saatnya Beri Diri Ruang Bernapas
ilustrasi kelelahan (pexels.com/ Pavel Danilyuk)
  • Social exhaustion adalah kelelahan akibat interaksi, tuntutan merespons, kebisingan, dan penyesuaian sosial yang berlebihan; kondisi ini dapat dialami siapa saja, termasuk orang yang suka bersosialisasi.
  • Pemulihan dapat dilakukan dengan mengambil jeda tanpa interaksi, mengurangi notifikasi tidak mendesak, serta memilih aktivitas ringan dan menenangkan seperti musik, membaca, journaling, atau stretching.
  • Menjaga energi sosial mencakup berani menolak atau menunda ajakan saat lelah, mengenali pemicu pribadi, dan menyusun jadwal realistis agar tersedia waktu pemulihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tahukah kamu, seharian bertemu orang, ngobrol, meeting, atau sekadar berada di tempat yang ramai ternyata bisa menguras energi lebih banyak dari yang kamu kira? Setelah semua aktivitas selesai, rasanya ingin langsung pulang, mematikan ponsel, rebahan, dan tidak berbicara dengan siapa pun. Hal ini terjadi karena kapasitas sosialmu sedang habis.

Kondisi seperti ini sering disebut social exhaustion atau kelelahan sosial. Social exhaustion bisa dialami siapa saja, termasuk orang yang sebenarnya senang bersosialisasi. Terlalu banyak percakapan, tuntutan untuk terus merespons, kebisingan, atau harus menyesuaikan diri dengan banyak orang seharian bikin pikiran penuh. Lima cara berikut bisa kamu lakukan untuk mengatasi social exhaustion.

  1. 1. Ambil waktu tanpa interaksi apa pun setelah aktivitas padat

    Tidur, istirahat, rebahan
    ilustrasi tidur (pexels.com/Anastasia Lashkevich)

    Setelah seharian berinteraksi dengan banyak orang kamu harus memberikan jeda untuk diri sendiri. Misalnya, setelah pulang kerja kamu bisa menikmati perjalanan sambil mendengarkan musik, duduk sebentar di kamar, mandi, atau sekadar menikmati minuman favorit tanpa membuka media sosial. Intinya, berikan kesempatan kepada pikiran untuk keluar dari mode "harus merespons".

    Kalau sepanjang hari kamu harus mengikuti meeting dan berdiskusi dengan banyak orang, otak sebenarnya sudah menerima begitu banyak informasi. Bahkan setelah percakapan selesai, pikiran mungkin masih memproses berbagai hal yang terjadi. Jadi, tidak ada salahnya membuat masa transisi antara kehidupan sosial dan waktu pribadi.

  2. 2. Kurangi notifikasi yang tidak mendesak

    Notifikasi
    ilustrasi notifikasi ponsel (unsplash.com/jamie452)

    Social exhaustion tak selalu berhenti ketika kamu meninggalkan kantor atau acara. Ponsel bisa membuat interaksi sosial terus berlanjut bahkan ketika kamu sudah berada di rumah. Notifikasi dari grup chat, media sosial, email, atau pesan pribadi dapat membuat otak merasa harus terus waspada.

    Setiap bunyi atau getaran seolah memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu segera diperhatikan. Kalau kamu sedang mengalami kelelahan sosial, coba matikan notifikasi yang tidak penting untuk sementara waktu. Kamu juga bisa mengaktifkan mode jangan ganggu atau menentukan waktu tertentu untuk mengecek pesan lagi.

  3. 3. Lakukan aktivitas yang membuat pikiran lebih tenang

    Minum
    ilustrasi wanita sedang minum (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Setelah seharian bersosialisasi, pilih aktivitas yang tidak membuat otak semakin penuh. Kamu tidak perlu mencari kegiatan yang terlalu produktif. Tujuannya justru memberi ruang agar pikiran bisa beristirahat. Menonton film, minum teh, membaca buku, journaling, mendengarkan musik, bermain dengan hewan peliharaan, atau sekadar rebahan.

    Kalau tubuh terasa tegang setelah menjalani hari yang panjang, aktivitas fisik ringan seperti berjalan santai atau melakukan stretching juga bisa membantu membuat tubuh terasa lebih rileks. Yang penting, jangan menjadikan waktu ini sebagai daftar tugas baru. Kalau membaca buku justru membuatmu merasa harus menyelesaikan beberapa halaman, tidak masalah memilih aktivitas yang lebih ringan.

  4. 4. Jangan memaksakan diri untuk selalu ada

    Memegang ponsel
    ilustrasi mengirim pesan singkat melalui gawai (unsplash.com/patt____k)

    Salah satu penyebab kelelahan sosial adalah kebiasaan merasa harus selalu tersedia untuk orang lain. Kamu mungkin merasa tidak enak jika menolak ajakan, takut dianggap cuek ketika tidak membalas chat, atau merasa harus ikut setiap kegiatan agar tidak ketinggalan. Padahal, menjaga energi sosial bukan berarti kamu tidak peduli kepada orang lain.

    Kamu boleh mengatakan tidak ketika sedang lelah. Kamu juga boleh menunda percakapan sampai kondisi lebih baik. Bahkan, membatalkan rencana sesekali karena membutuhkan waktu untuk diri sendiri bukan otomatis membuatmu menjadi teman yang buruk. Jadi, coba mulai mengenali batas kemampuanmu, ya!

  5. 5. Kenali pola kelelahan sosial dan atur energimu sejak awal

    Online meeting
    ilustrasi online meeting (unsplash.com/docusign)

    Mengatasi social exhaustion akan lebih mudah kalau kamu mulai kenali pola yang membuat energi sosialmu cepat habis. Perhatikan kapan kamu biasanya mulai merasa lelah. Apakah setelah meeting berturut-turut? Setelah berada di tempat ramai? Setelah terlalu banyak bertemu orang baru? Atau justru setelah terlalu lama berinteraksi di media sosial?

    Setiap orang bisa memiliki pemicu yang berbeda. Dengan mengenalinya, kamu dapat mengatur jadwal dengan lebih realistis. Misalnya, kalau kamu tahu satu hari penuh berisi kegiatan sosial akan membuatmu kelelahan, maka jangan menjadwalkan acara lain pada malam harinya. Waktu ini bukan berarti gak produktif. Justru, waktu kosong dapat menjadi ruang pemulihan agar kamu tidak terus-menerus terstimulasi.

    Social exhaustion setelah seharian berinteraksi dengan banyak orang merupakan hal yang bisa terjadi bahkan ketika kamu menyukai kehidupan sosial. Karena itu, kalau kamu merasa ingin menyendiri setelah menjalani hari yang padat, itu sangat wajar, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More