Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Orang Tak Memakai THR untuk Bayar Utang?

Kenapa Orang Tak Memakai THR untuk Bayar Utang?
ilustrasi banyak uang (pexels.com/Robert Lens)
Intinya Sih
  • Banyak orang enggan memakai THR untuk bayar utang karena menganggap uang itu khusus untuk kebutuhan Lebaran, bukan kewajiban finansial lain.
  • Sebagian berutang merasa pemberi pinjaman hidupnya aman secara finansial, sehingga menunda pelunasan meski sudah menerima THR.
  • Ada pula yang terkendala situasi tak terduga atau kurang memahami pentingnya segera melunasi utang saat memiliki dana tambahan seperti THR.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Apakah jelang Lebaran diam-diam kamu memendam kekecewaan? Bukan tentang jalannya ibadah puasa atau persiapan Idulfitri di rumahmu. Juga bukan soal dirimu bisa mudik atau tidak. Namun, kamu sebenarnya sangat berharap seseorang membayar utangnya.

Harapanmu bukan tanpa alasan. Dirimu tahu betul dia telah memperoleh tunjangan hari raya yang nilainya cukup besar. Sementara pinjamannya ke kamu jauh lebih kecil. Misal, THR-nya 3 juta rupiah.

Utangnya padamu 1 juta rupiah. Logikamu mengatakan utangnya dapat lunas seketika. Namun, boro-boro pinjaman dikembalikan seluruhnya, dicicil saja tidak. Ia bahkan bersikap seakan-akan gak punya tanggungan apa-apa padamu. Kenapa dia dapat secuek itu sekalipun di bulan ini ia seperti kebanjiran rezeki dari gaji plus THR? Inilah alasan seseorang tak memakai THR untuk bayar utang.

1. Berpikir THR hanya untuk kebutuhan hari raya

berbelanja
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Henny Wiyanti)

THR memang kependekan dari tunjangan hari raya. Waktu pemberiannya jelas, yaitu cuma menjelang hari raya. Tujuan adanya THR juga cukup jelas, yaitu agar penerima dapat mempersiapkan hari raya dengan lebih baik.

Beda dengan bonus-bonus lain seperti bonus lembur atau target pekerjaan tercapai. Ini membuat tak sedikit orang yang punya utang merasa uang THR-nya gak boleh diutak-atik sedikit pun untuk keperluan lain di luar Lebaran. Apalagi, bayaran utang yang dinilai mesti diambil dari gaji pokok sesuai pos yang sudah ditetapkan.

Walaupun sebetulnya uang tunjangan hari rayanya dapat untuk sekalian melunasi pinjaman, mereka bakal tetap memilih mencicilnya seperti biasa. Bisa juga cicilan macet pun diabaikan. Di saat yang sama, mereka jorjoran membelanjakan THR dan membuatmu yang melihatnya menjadi sangat tidak nyaman.

2. Menganggap hidup orang yang kasih pinjaman baik-baik saja

memegang uang
ilustrasi memegang uang (pexels.com/Patricia Bozan)

Kamu mau tidak mau menjadi menilai watak orang yang dapat THR gede, tapi utang kecil saja tak kunjung dibayarkan. Sikapmu gak salah, bahkan sangat wajar karena terdapat pertentangan di antara dua keadaan tersebut. Akan tetapi, orang yang berutang padamu juga diam-diam menilai kehidupanmu.

Kalau dari pengamatannya, hidupmu tampak aman-aman saja secara finansial; niatnya segera membayar utang menjadi lemah. Bahkan meski ia baru memperoleh THR yang nilainya lebih besar daripada pinjamannya. Dia berpikir kamu gak bakal kelaparan sekalipun ia menunda pembayaran utang.

Bahkan boleh jadi menurutnya, hidupmu masih di atas hidupnya walau sebagian uangmu ada padanya. Dirimu tampak masih berbelanja banyak buat keperluan Idulfitri. Tentu, kesimpulannya dapat kurang tepat, apalagi tindakannya yang sengaja tak menyegerakan pembayaran utang. Namun, begitulah watak beberapa orang.

3. Alasan sulit bertemu selama libur Lebaran

memegang uang
ilustrasi memegang uang (pexels.com/Defrino Maasy)

Alasan ini bisa ada benarnya atau hanya mengada-ada. Benar, seandainya jelang Lebaran kamu memang lebih banyak bepergian. Dirimu mungkin mudik jauh lebih awal saat orang yang punya utang belum memperoleh THR.

Akan tetapi, seandainya seseorang lebih bersungguh-sungguh ingin membayar utangnya, tentu bisa. Di zaman sekarang, urusan bayar utang atau apa pun gak harus secara langsung. Di mana pun kamu berada, mudah sekali untuknya menghubungimu.

Ia tinggal menyampaikan maksudnya membayar pinjaman mumpung ada uang THR. Tentu dirimu bakal menyambutnya dengan gembira. Uang bisa ditransfer kalau dia benar-benar berniat membayar utang. Jika ia menunggu bisa bertemu denganmu, nanti mungkin muncul alasan lain. Yaitu, uang tunjangannya telanjur habis dipakai.

4. Kurang memahami pentingnya menyegerakan pelunasan utang

uang dan berbagai perlengkapan
ilustrasi uang dan berbagai perlengkapan (pexels.com/Jess Bailey Designs)

Adanya THR yang cukup besar atau bonus-bonus lainnya seharusnya memudahkan seseorang melunasi utangnya. Namun, faktor yang lebih berpengaruh sebenarnya adalah pemahamannya tentang keutamaan menyegerakan pelunasan pinjaman. Kalau seseorang betul-betul memahami hal tersebut, gaji pokok pun bakal dimaksimalkan untuk mengembalikan uang pinjaman.

Apalagi ada THR segala. Ibarat tunjangan diterima siang hari, sorenya dia langsung menemuimu untuk melunasi utang. Sebaliknya, tanpa pemahaman yang baik seputar kewajiban orang yang berutang, ada uang sebanyak apa pun gak menjamin utangnya lunas.

Bisa-bisa malah dia lebih galak padamu yang menagih atau berlagak tak ingat pernah meminjam duit. Bukannya ia belum pernah mendengar nasihat untuk secepatnya melunasi utang. Akan tetapi, apa yang didengarnya belum meresap ke dalam hati serta pikiran.

5. Pas dapat THR, pas hidupnya diuji

tidak bersemangat
ilustrasi tidak bersemangat (pexels.com/Patricia Bozan)

Kamu sudah merasa nyesek melihat orang yang dapat THR gede tak juga melunasi utangnya. Namun, terkadang dirimu masih perlu lebih bersabar lagi serta bersikap bijaksana. Belum tentu dia sama sekali gak punya niat menyegerakan pelunasan utang.

Boleh jadi ia sudah berencana hanya memakai THR buat mengembalikan uangmu. Hanya saja, masalah tak terduga terjadi dan membuat prioritas pemakaian uang berubah. Contoh, istri yang semula diprediksi akan melahirkan sebulan lagi mendadak mengalami kontraksi hebat dan harus mendapatkan penanganan dokter.

Kondisinya serius serta memerlukan tindakan yang makan biaya. Berhadapan dengan persoalan hidup atau mati dua nyawa sekaligus, pelunasan utang menjadi bukan lagi prioritas. Baginya, terpenting istri dan anaknya selamat. Jangankan uang THR ludes buat membiayainya. Dia pun siap mencari tambahan pinjaman ke sana-kemari demi orang-orang tercintanya.

Bagian paling menyesakkan adalah jika kamu tahu betul seseorang gak punya kebutuhan mendesak, tetapi tak memakai THR untuk bayar utang padamu. Bahkan sampai dirimu kurang leluasa dalam merayakan Idulfitri saking terbatasnya dana. Bila situasinya begini, jadikan pelajaran penting sebelum kamu kembali memberikan pinjaman kepada siapa pun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Related Articles

See More