Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Kamu Sebenarnya Tidak Butuh-Butuh Amat Buku yang Kamu Beli
ilustrasi book thrifting (unsplash.com/Sonja Punz)
  • Kenangan, nama penulis, dan edisi baru bisa membuatmu membeli secara impulsif.

  • Minat yang berubah membuat buku incaran lama belum tentu masih kamu butuhkan.

  • Jika tidak kecewa saat buku itu hilang besok, mungkin kamu memang tidak terlalu membutuhkannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Buku punya cara sendiri untuk membuat orang pulang membawa sesuatu yang awalnya tidak ada dalam rencana. Satu judul bisa mengingatkan pada masa sekolah, sampul tertentu bisa terasa familiar, atau sebuah buku bisa muncul tepat ketika kamu sedang ingin mencari bacaan baru. Persoalannya, tidak semua rasa tertarik perlu berakhir dengan transaksi. Beberapa tanda berikut justru bisa membantu melihat apakah sebuah buku memang sedang kamu cari atau hanya kebetulan terasa istimewa ketika berada di depan mata.

1. Membeli karena buku itu mengingatkan pada masa tertentu

ilustrasi book thrifting (pexels.com/Ray Zhu)

Sampul lama, desain ilustrasi yang khas, atau judul yang pernah kamu lihat di perpustakaan sekolah bisa memunculkan rasa akrab yang kuat. Buku tersebut terasa punya nilai pribadi meski kamu sebenarnya tidak pernah membacanya sampai selesai. Keputusan membeli akhirnya lebih berkaitan dengan kenangan yang muncul daripada kebutuhan untuk mengikuti isi bukunya sekarang.

Situasi seperti ini cukup sering terjadi ketika menemukan buku yang pernah populer pada masa sekolah atau kuliah. Membawanya pulang terasa seperti mendapatkan kembali benda dari periode hidup tertentu, lalu buku tersebut disimpan sebagai bagian dari koleksi pribadi. Kalau tujuanmu memang menyimpan kenangan, tentu tidak ada masalah, tetapi buku tersebut sebenarnya tidak perlu diposisikan sebagai tambahan bacaan.

2. Kamu mengincar nama penulisnya, bukan judul yang ada di tanganmu

ilustrasi buku bekas (pexels.com/Denniz Futalan)

Nama penulis bisa menjadi daya tarik yang sangat kuat, terutama setelah kamu menemukan 1 atau 2 karya yang benar-benar disukai. Begitu melihat nama tersebut pada sampul lain, muncul keyakinan bahwa buku itu pasti layak dibaca juga. Padahal, seorang penulis bisa menghasilkan cerita dengan tema, gaya, dan kualitas yang sangat berbeda dari karya yang sebelumnya membuatmu jatuh hati.

Periksa kembali alasanmu sebelum membeli buku semacam ini. Jika kamu hanya bisa mengatakan, “ini penulis favoritku,” tanpa mengetahui sedikit pun tentang cerita atau topik di dalamnya, keputusan tersebut masih cukup lemah. Bisa jadi kamu memang ingin melengkapi karya penulis tersebut. Namun, kalau tujuan awalmu mencari bacaan, ketertarikan terhadap satu nama belum tentu cukup untuk menentukan pilihan.

3. Membeli buku yang sudah pernah kamu baca

ilustrasi book thrifting (pexels.com/Julio Lopez)

Satu buku bisa memiliki beberapa sampul, penerbit, ukuran, atau edisi berbeda. Adapun, versi tertentu kadang jauh lebih menarik secara visual. Masalahnya, kamu mungkin sudah pernah membaca bukunya dan sebenarnya tidak punya alasan untuk mengulangnya dalam waktu dekat. Keinginan memiliki edisi lain kemudian muncul karena bentuk fisiknya, bukan karena kebutuhan terhadap isi.

Kondisi ini sebenarnya lebih dekat dengan kegiatan mengoleksi daripada membeli bacaan. Tidak ada yang salah dengan mencari sampul favorit atau edisi baru dari buku kesayangan, tetapi penting menyadari perbedaannya. Kalau buku tersebut hanya akan berdiri di rak sebagai bagian dari koleksi, keputusan membelinya sebaiknya memang dinilai sebagai pembelian barang koleksi, bukan tambahan untuk daftar bacaan.

4. Membeli buku yang sudah tidak relevan dengan minatmu sekarang

ilustrasi book thrifting (pexels.com/freestocks.org)

Daftar buku yang ingin dibaca bisa bertahan bertahun-tahun, sementara minat seseorang terus berubah. Judul yang dulu terasa sangat penting mungkin sekarang sudah tidak menarik lagi. Namun, ketika kebetulan menemukannya, kamu merasa tetap harus mengambilnya. Rasa sungkan meninggalkan “incaran lama” membuat daftar bacaan masa lalu seolah-olah harus dipenuhi.

Padahal, tidak ada kewajiban untuk membaca semua buku yang pernah kamu inginkan. Selera bisa bergeser setelah pekerjaan berubah, lingkungan bertambah luas, atau pengalaman membaca membuatmu menemukan genre lain yang jauh lebih cocok. Membeli buku hanya karena pernah memasukkannya ke daftar beberapa tahun lalu justru bisa membuat rak dipenuhi bacaan yang tidak lagi menggambarkan minatmu.

5. Tidak keberatan kalau buku itu hilang dari rak besok

ilustrasi book thrifting (pexels.com/Julio Lopez)

Ada cara sederhana untuk menguji keputusan sebelum membayar: bayangkan kamu kembali ke toko tersebut besok dan bukunya sudah tidak ada. Jika rasa kecewa muncul karena kamu benar-benar ingin membaca isinya, buku itu mungkin memang pantas dibawa pulang. Sebaliknya, jika yang muncul hanya pikiran, “Sayang juga, padahal murah,” keputusan membeli kemungkinan besar tidak terlalu berkaitan dengan keinginan membaca.

Buku yang tidak jadi dibeli tetap bisa meninggalkan kesan. Adapun, pengalaman menemukan judul menarik tidak harus selalu berujung pada tas belanja yang lebih berat. Membeli buku justru terasa lebih menyenangkan ketika kamu bisa pulang dengan buku yang benar-benar membuat penasaran, bukan sekadar membawa pulang setiap temuan yang terasa sayang untuk ditinggalkan. Dengan begitu, rakmu tidak hanya berisi buku yang pernah berhasil kamu temukan, tetapi juga buku yang memang punya alasan untuk tetap kamu simpan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article