Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tanda Skin Barrier-mu Butuh "Diperbaiki", Bukan Cuma Ditenangkan
Ilustrasi perempuan memakai skincare (pexels.com/id-id/@miriam-alonso)
  • Skin barrier adalah pelindung terluar kulit yang menjaga kelembapan dan menangkal iritan; kerusakannya meningkatkan risiko kulit kering, sensitif, meradang, berjerawat, hingga infeksi.
  • Tanda barrier perlu diperbaiki meliputi kulit kering atau bersisik, perih saat terkena air atau skincare, kemerahan menetap, gatal mengganggu, serta jerawat yang mudah muncul.
  • LABORÉ menawarkan 3 Types Synbiotics—prebiotics, paraprobiotics, dan postbiotics—untuk mendukung microbiome, perbaikan barrier, serta hidrasi; Barrier Revive dan TopiCalm memiliki data uji klinis pada kondisi kulit tertentu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    LABORÉ memperkenalkan teknologi 3 Types Synbiotics serta moisturizer Barrier Revive Cream dan TopiCalm Cream untuk mendukung perbaikan skin barrier, hidrasi, keseimbangan mikrobiome, dan ketahanan kulit.
  • Who?
    LABORÉ, dokter spesialis kulit dalam forum PIT XXI PERDOSKI, serta pengguna dengan kulit sensitif, dermatitis atopik ringan–sedang, psoriasis vulgaris, atau kulit pascaprosedur laser.
  • Where?
    Pemaparan riset disebut berlangsung dalam PIT XXI PERDOSKI di Yogyakarta. Produk ditujukan untuk digunakan pada perawatan kulit sehari-hari.
  • When?
    Riset disebut dipaparkan pada PIT XXI PERDOSKI di Yogyakarta pada Agustus 2026. Durasi uji klinis yang disebutkan mencakup 7, 14, dan 28 hari.
  • Why?
    Produk diperkenalkan karena skin barrier yang melemah dapat berkaitan dengan kulit kering, mengelupas, perih, kemerahan, gatal, dan jerawat akibat berkurangnya perlindungan serta kelembapan kulit.
  • How?
    Teknologi tersebut menggabungkan prebiotik, paraprobiotik, dan postbiotik: Saccharide serta Glycerin untuk nutrisi dan hidrasi, Bifida Ferment Lysate untuk mendukung barrier, serta Hyaluronic Acid untuk kelembapan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kulit bisa jadi kering, merah, gatal, perih saat kena air, atau mudah jerawatan karena pelindung kulitnya lemah. Polusi, AC, dan cuaca bisa membuatnya lebih lemah. Pelindung kulit perlu diperbaiki supaya bisa menjaga air dan melawan hal yang mengganggu. LABORÉ punya krim untuk membantu kulit lembap dan kuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pemahaman tentang skin barrier memberi dasar yang lebih terarah bagi perawatan kulit sensitif: bukan hanya meredakan keluhan sesaat, melainkan mendukung kelembapan, keseimbangan mikrobiome, dan fungsi perlindungan kulit. Pendekatan 3 Types Synbiotics LABORÉ juga didukung data klinis pada sejumlah kondisi, sehingga pilihan perawatannya memiliki pijakan ilmiah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menerjang polusi jalanan, terpapar AC seharian di kantor, sampai cuaca ekstrem belakangan ini bikin kulit kita gampang 'ngamuk'. Kulit wajah jadi makin sensitif, kemerahan, bahkan terasa perih saat dibasuh air. Ada yang lagi mengalami hal serupa?

Menenangkan kulit yang lagi iritasi memang penting, tapi itu baru langkah awal. Biar masalahnya gak bolak-balik kumat, skin barrier juga harus diperbaiki dan dibangun ketahanannya (skin resilience) supaya gak gampang breakout saat diterpa polusi hingga stres.

Nah, biar gak salah penanganan, yuk kenali tanda-tanda kalau skin barrier-mu butuh diperbaiki secara mendalam, bukan sekadar ditenangkan sementara!

1. Pentingnya memperbaiki skin barrier untuk skin resilience

ilustrasi skin care (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Skin barrier merupakan lapisan terluar kulit yang berfungsi sebagai pertahanan utama terhadap berbagai paparan dari lingkungan.

Lapisan yang berada di bagian stratum corneum ini, tersusun dari sel kulit bernama corneocytes yang disatukan oleh lipid seperti ceramide, kolesterol, dan asam lemak, sehingga sering dianalogikan seperti dinding bata.

Ketika strukturnya tetap kuat, skin barrier dapat membantu menahan zat berbahaya dan patogen sekaligus menjaga air tetap berada di dalam kulit.

Nah, kulit yang memiliki barrier sehat cenderung lebih siap menghadapi paparan seperti polusi, bahan iritan, perubahan kelembapan, sinar matahari, hingga produk skincare yang digunakan sehari-hari.

Sebaliknya, ketika barrier melemah, kulit bisa lebih mudah kehilangan kelembapan dan menjadi kering, gatal, sensitif, meradang, bahkan lebih rentan terhadap berbagai masalah kulit.

Pada dasarnya, skin resilience pun bukan berarti kulit tak pernah mengalami masalah, melainkan kemampuan kulit untuk bertahan saat menghadapi berbagai tekanan.

Skin barrier yang terjaga akan mempertahankan keseimbangan air dan menangkal faktor eksternal, sehingga kulit memiliki fondasi yang jauh lebih kuat setiap hari.

Karena itu, memperbaiki barrier bukan sekadar membuat kulit terasa lebih lembap atau terlihat lebih halus, tapi juga membantu menjaga fungsi perlindungannya.

Sebaliknya, barrier yang rusak dapat membuat kulit masuk ke dalam siklus yang kurang menguntungkan. Hilangnya kemampuan barrier dalam mempertahankan air dapat membuat kulit semakin kering, sementara meningkatnya paparan terhadap iritan dapat memicu sensitivitas dan peradangan.

Kondisi seperti kulit bersisik, terasa gatal, muncul bercak kasar atau berubah warna, berjerawat, hingga lebih mudah mengalami infeksi dapat menjadi tanda bahwa fungsi barrier sedang terganggu.

2. Empat tanda skin barrier-mu sebenarnya butuh diperbaiki

Ilustrasi muka berjerawat (pexels.com/@polina-tankilevitch)

Pernah merasa kulit tiba-tiba perih saat dibasuh air, gampang merah, atau breakout tanpa alasan jelas? Itu tandanya benteng pertahanan paling luar kulitmu atau skin barrier sedang butuh pertolongan. ​Biar kamu tak salah penanganan, yuk kenali tanda skin barrier-mu butuh diperbaiki berikut ini:

  • Kulit menjadi kering dan mudah mengelupas atau bersisik: ketika lapisan lipid pelindung rusak, kemampuan kulit untuk mengunci kadar air akan menurun drastis. Hal ini menyebabkan kelembapan menguap dengan cepat sehingga kulit terasa sangat ditarik, kasar, hingga bersisik.

  • Timbul rasa perih atau terbakar saat dibasuh air atau skincare: skin barrier yang menipis atau retak membuat saraf di bawah permukaan kulit terpapar langsung oleh bahan eksternal. Akibatnya, produk perawatan yang biasanya aman atau bahkan air bersih sekalipun bisa memicu sensasi perih dan terbakar.

  • Kemerahan yang tak kunjung mereda: munculnya kemerahan berlebih yang tak kunjung hilang merupakan respons peradangan saat jaringan pelindung kurang lagi mampu menghalau iritan lingkungan. Kulit menjadi jauh lebih reaktif terhadap hal-hal kecil seperti paparan sinar matahari atau gesekan halus.

  • Rasa gatal yang mengganggu: kerusakan pada benteng pertahanan kulit memicu respons imun di lapisan epidermis. Kehilangan lipid alami dan ketidakseimbangan kelembapan ini kerap menimbulkan rasa gatal yang terus-menerus dan menggoda untuk digaruk.

  • Mudah muncul jerawat: skin barrier yang sehat akan menjaga keseimbangan lapisan asam (acid mantle) untuk menghambat pertumbuhan mikroba jahat. Saat benteng ini jebol, bakteri penyebab jerawat dan patogen luar sangat mudah masuk dan berkembang biak, memicu breakout yang sulit disembuhkan.

3. LABORÉ hadirkan kandungan microbiome lengkap melalui 3 Types Synbiotics

Potret produk LABORÉ (instagram.com/labore.id)

Menjaga kesehatan kulit ternyata bukan hanya soal memperkuat benteng terluarnya, tapi juga menjaga ekosistem mikroba yang ada di permukaan kulit.

Melihat pentingnya keseimbangan tersebut, LABORÉ menghadirkan teknologi microbiome melalui 3 Types Synbiotics, yang menggabungkan Prebiotics, Paraprobiotics, dan Postbiotics untuk mendukung siklus skin resilience.

Ketiganya bekerja dengan peran yang saling melengkapi, mulai dari memberikan nutrisi bagi mikroba baik, membantu memperbaiki skin barrier, hingga menjaga kelembapan kulit, lho.

Peran pertama datang dari Prebiotics dari LABORÉ yang terdiri dari Saccharide dan Glycerin ini, keduanya membantu menghidrasi kulit sekaligus menyediakan nutrisi yang dibutuhkan mikroba baik di permukaan kulit, sehingga mendukung keseimbangan ekosistem kulit.

Jika dianalogikan seperti merawat taman, Prebiotics bisa diibaratkan sebagai asupan nutrisi yang membantu menjaga lingkungan tempat “tanaman” tumbuh tetap mendukung.

Berikutnya ada Paraprobiotics dengan kandungan Bifida Ferment Lysate yang berperan membantu memperbaiki skin barrier sekaligus memperkuat skin resilience.

Komponen ini menjadi bagian penting dalam pendekatan LABORÉ karena skin barrier yang terjaga merupakan salah satu fondasi agar kulit dapat menghadapi berbagai kondisi yang berpotensi mengganggunya.

Dalam analogi taman tadi, Paraprobiotics dapat dibayangkan sebagai penjaga yang membantu memastikan area tersebut tetap terlindungi.

Sementara itu, Postbiotics hadir melalui Hyaluronic Acid yang berfungsi memberikan hidrasi mendalam pada kulit.

Kehadiran komponen ini melengkapi dua bagian sebelumnya dengan membantu mempertahankan kondisi kulit yang terhidrasi sebagai bagian dari dukungan terhadap ekosistem kulit.

Ibarat taman, Postbiotics berperan seperti sistem pengairan yang membantu menjaga lingkungan tetap mendapatkan kelembapan yang dibutuhkan.

Melalui perpaduan ketiga jenis tersebut, 3 Types Synbiotics menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh terhadap ekosistem kulit, bukan hanya berfokus pada satu aspek pertahanan kulit.

Prebiotics memberikan nutrisi bagi mikroba baik, Paraprobiotics membantu memperbaiki skin barrier dan memperkuat skin resilience, sedangkan Postbiotics membantu memberikan hidrasi mendalam.

Kombinasi inilah yang menjadi dasar pendekatan LABORÉ dalam mendukung keseimbangan microbiome, penguatan skin barrier, dan skin resilience.

4. Teruji secara klinis dan diakui para ahli di PIT PERDOSKI

Ilustrasi perempuan memakai skincare (pexels.com/id-id/@miriam-alonso)

Keunggulan formulasi LABORÉ gak sekadar klaim di atas kertas, tapi telah tervalidasi secara ilmiah melalui forum kedokteran bergengsi PIT XXI PERDOSKI di Yogyakarta pada Agustus 2026 lalu.

Dalam ajang tahunan ini, para dokter spesialis kulit ternama memaparkan riset mendalam bertajuk “Synbiotics for Skin Resilience: Clinical Evidence on Barrier Repair, Microbiome Balance, and Skin Recovery”.

Hasil pemaparan tersebut makin mengukuhkan posisi LABORÉ sebagai solusi perawatan kulit sensitif berbasis bukti medis (evidence-based skincare) yang sangat tepercaya.

​Bukti keampuhannya terlihat nyata dalam berbagai uji klinis, salah satunya LABORÉ Barrier Revive Cream yang terbukti meningkatkan hidrasi hingga 83,7% sekaligus mempercepat pemulihan benteng kulit penderita eksim ringan-sedang dalam 14 hari.

Sementara itu, studi penggunaan LABORÉ TopiCalm Cream berhasil mengurangi kemerahan pasca-prosedur laser hingga -90% hanya dalam waktu 7 hari, serta meningkatkan kelembapan kulit penderita psoriasis lebih dari 5 kali lipat dalam 28 hari.

Data ilmiah ini membuktikan bahwa kombinasi 3 Types Synbiotics dari LABORÉ mampu bekerja secara efektif untuk mempercepat pemulihan dan membangun ketahanan kulit atau skin resilience secara nyata. 

5. Rekomendasi moisturizer terbaik dari LABORE untuk memperbaiki skin barrier dan kulit bebas iritasi

Potret produk LABORÉ (instagram.com/labore.id)

Memilih moisturizer untuk kulit sensitif bukan sekadar mencari produk yang mampu membuat kulit terasa lembap, tapi turut mempertimbangkan kemampuannya untuk mendukung skin barrier dan proses pemulihan kulit.

LABORÉ menghadirkan dua pilihan moisturizer yang dikembangkan dengan pendekatan 3 Types Synbiotics Technology, yaitu Barrier Revive Cream dan TopiCalm Cream di mana masing-masing memiliki fokus penggunaan berdasarkan kondisi kulit yang membutuhkan perhatian lebih.

Keduanya pun didukung oleh penelitian klinis yang mengevaluasi manfaatnya pada beberapa kondisi kulit yang mengalami gangguan.

Untuk kulit dengan mild-to-moderate atopic dermatitis, LABORÉ Barrier Revive Cream dapat menjadi pilihan yang tepat lewat serangkaian penelitian dalam studi klinis selama 14 hari.

Penelitian tersebut mengevaluasi efek moisturizer anti-inflamasi terhadap tingkat keparahan atopic dermatitis dan fungsi skin barrier, dengan hasil yang menunjukkan efektivitas lebih baik dibandingkan moisturizer kontrol serta peningkatan hidrasi kulit sebesar 83,7%. Data tersebut mendukung pemulihan skin barrier yang lebih cepat pada kulit yang rentan mengalami atopic dermatitis.

Sementara itu, LABORÉ TopiCalm Cream memiliki bukti klinis yang relevan untuk kebutuhan kulit dengan psoriasis vulgaris.

Dalam studi selama 28 hari, TopiCalm dibandingkan dengan moisturizer non-microbiome dan dievaluasi berdasarkan komposisi serta keragaman mikrobiota kulit, tingkat keparahan psoriasis melalui PASI, dan fungsi skin barrier.

Hasil uji klinis menunjukkan bahwa TopiCalm memberikan efektivitas lebih baik dibandingkan moisturizer kontrol, dengan peningkatan kelembapan kulit sebesar 2,05 kali pada 14 hari dan 5,26 kali pada 28 hari, sekaligus mendukung proses pemulihan kulit psoriatik.

Dengan pilihan yang memiliki fokus berbeda tersebut, LABORÉ menawarkan moisturizer yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kulit yang sedang mengalami gangguan atau membutuhkan dukungan dalam proses pemulihan.

Barrier Revive Cream memiliki data klinis pada mild-to-moderate atopic dermatitis, sedangkan TopiCalm Cream memiliki penelitian pada psoriasis vulgaris dan pemulihan setelah fractional Er:YAG laser.

Keduanya menjadi bagian dari pendekatan LABORÉ berbasis 3 Types Synbiotics Technology yang berfokus pada dukungan terhadap skin barrier, skin recovery, dan skin resilience.

Memahami kalau merawat kulit sensitif butuh perbaikan mendalam adalah langkah awal untuk lepas dari jerat iritasi yang bolak-balik kumat.

Adanya LABORÉ dengan 3 Types Synbiotics Technology yang tervalidasi secara medis barusan, menjafi jawaban nyata untuk mengembalikan fungsi skin barrier sekaligus membangun ketahanan kulit.

Yuk, mulailah beralih ke perawatan berbasis sains dan rasakan sendiri perubahan kulit yang lebih tenang, sehat, serta tahan banting setiap hari! (WEB/AMS)

Sumber tambahan: https://www.healthline.com/health/skin-barrier

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article