Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Dampak FOMO pada Kesehatan Mental, Hidup Jadi Gak Tenang

5 Dampak FOMO pada Kesehatan Mental, Hidup Jadi Gak Tenang
ilustrasi perempuan FOMO (magnific.com/magnific)
  • FOMO membuat standar hidup terus naik, sehingga kepuasan cepat hilang dan seseorang sulit membedakan kebutuhan pribadi dari tren yang ramai.
  • Rasa takut ketinggalan dapat memicu pengeluaran impulsif, membuat hubungan sosial terasa kompetitif, serta mendorong pencarian bukti bahwa diri masih diterima.
  • FOMO mengganggu kemampuan menikmati momen dan memicu kecemasan atas karier, pasangan, maupun gaya hidup karena terus membandingkan ritme hidup dengan orang lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Melihat teman liburan, beli barang baru, atau nongkrong di tempat yang ramai bisa bikin kamu merasa tertinggal. Perasaan fear of missing out sering muncul bukan karena kamu butuh semuanya, melainkan karena takut jadi satu-satunya gak ikut. Bahaya FOMO mulai terasa ketika keputusan kecil terus dibuat demi mengejar sesuatu yang sebenarnya gak kamu perlukan.

Masalahnya, FOMO gak berhenti setelah tren berganti karena standar yang dikejar ikut bergerak. Gen Z mudah menemukan pemicunya lewat media sosial, grup pertemanan, sampai obrolan kantor. Berikut ini lima dampak keseringan FOMO yang diam-diam bisa mengganggu kesehatan mental.

  1. 1. Membuat standar hidup terus naik

    ilustrasi belanja online
    ilustrasi belanja online (pexels.com/Polina Tankilevitch)

    Baru merasa cukup setelah punya satu barang, kamu melihat versi yang lebih mahal dan kembali merasa kurang. Kepuasan jadi singkat karena perhatianmu berpindah dari menikmati yang ada ke mengejar sesuatu yang belum dimiliki. Akhirnya, rasa takut terlihat ketinggalan lebih kuat daripada kebutuhanmu sendiri.

    Kondisi ini bikin kamu susah mengenali keinginan sendiri. Kamu menilai hidup berdasarkan apa yang ramai, bukan apa yang cocok dengan kondisi dan kemampuanmu. Berhenti FOMO berarti mulai membedakan antara ingin, butuh, dan sekadar gak enak kalau gak ikut.

  2. 2. Bikin pengeluaran terasa sulit dikendalikan

    ilustrasi menghitung uang di dompet
    ilustrasi menghitung uang di dompet (pexels.com/Ahsanjaya)

    Flash sale, tempat makan baru, sampai ajakan liburan sering terasa seperti kesempatan yang harus diambil sekarang. Kamu mungkin sedang hemat, tetapi rasa takut kehilangan momen membuat rencana keuangan mendadak gak penting. Setelah euforianya lewat, yang tersisa justru pengeluaran tambahan dan penyesalan.

    FOMO membuat keputusan terlihat mendesak. Padahal, banyak hal yang kamu kejar hari ini belum tentu penting minggu depan. Memberi jeda sebelum membeli atau ikut tren bisa membantu kamu mengambil kembali kendali.

  3. 3. Membuat hubungan sosial terasa seperti perlombaan

    ilustrasi berkumpul dengan teman
    ilustrasi berkumpul dengan teman (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Ketika teman berkumpul tanpa kamu, satu unggahan saja bisa membuat hubungan terasa berubah. Kamu jadi peka melihat siapa yang diajak dan seberapa sering kamu muncul di lingkaran itu. Persahabatan yang seharusnya nyaman akhirnya terasa seperti ruang untuk membuktikan bahwa kamu masih dianggap.

    Perasaan tersisih bisa muncul tanpa ada orang yang sengaja menjauhimu. Yang melelahkan adalah ketika kamu terus mencari bukti bahwa posisi sosialmu aman. Membatasi media sosial dan membangun pertemanan yang autentik bisa mengembalikan perhatianmu ke kualitas hubungan.

  4. 4. Mengurangi kemampuan menikmati momen

    ilustrasi berkumpul dengan teman di cafe
    ilustrasi berkumpul dengan teman di cafe (pexels.com/David Mosquera)

    Kamu sedang duduk santai bersama teman, tetapi tetap memikirkan tempat lain yang belum didatangi. Momen yang ada terasa kurang menarik karena kamu membandingkannya dengan pengalaman orang lain. Dampak FOMO ini sering dianggap sepele, padahal waktu istirahat ikut terasa melelahkan.

    Kamu gak benar-benar kehilangan kesempatan, tetapi perhatianmu terpecah oleh terlalu banyak kemungkinan. Saat semua hal terasa harus diikuti, gak ada pengalaman yang dinikmati utuh. Membatasi konten tertentu bisa memberi ruang pada pengalamanmu sendiri.

  5. 5. Memicu rasa cemas terhadap pilihan hidup

    ilustrasi perempuan cemas
    ilustrasi perempuan cemas (magnific.com/benzoix)

    FOMO gak cuma soal barang atau tempat nongkrong, tetapi juga karier, pasangan, dan gaya hidup. Melihat orang lain menikah, pindah kerja, atau membangun bisnis lebih cepat membuat perjalananmu terasa salah. Perbandingan ini bisa membuat keputusan yang tadinya jelas terasa meragukan.

    Kamu jadi mudah menganggap hidup sebagai perlombaan dengan garis waktu yang sama. Padahal, pilihan orang lain belum tentu relevan dengan kondisi finansial, energi, atau prioritasmu. Mengenali ritme sendiri bukan berarti tertinggal, melainkan berhenti memakai hidup orang lain sebagai alat ukur.

    FOMO memang sulit hilang ketika pemicunya muncul hampir setiap hari, tetapi kamu gak harus mengikuti semuanya untuk merasa cukup. Kesehatan mental bisa terasa lebih ringan saat kamu tahu mana yang penting dan mana yang mendesak karena ramai dibicarakan. Yuk, beri dirimu izin untuk melewatkan sesuatu tanpa menganggap itu berarti kamu tertinggal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More