Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

4 Tantangan Menjadi Working Parents di Era Digital, Tidak Mudah!

4 Tantangan Menjadi Working Parents di Era Digital, Tidak Mudah!
ilustrasi orang tua yang sibuk bekerja (pexels.com/Yan Krukau)
Intinya Sih
  • Working parents di era digital menghadapi kesulitan memisahkan waktu kerja dan keluarga karena teknologi membuat pekerjaan terus terbawa ke rumah, mengganggu kualitas kebersamaan.
  • Tekanan budaya produktivitas di media sosial membuat banyak orangtua merasa harus sempurna dalam bekerja dan mengurus keluarga, sehingga mudah stres dan merasa gagal.
  • Anak semakin dekat dengan gadget sementara orangtua rentan kelelahan mental, menjadikan keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan kesehatan emosional sebagai tantangan utama masa kini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menjadi working parents di era digital memiliki tantangan yang cukup besar. Orangtua tidak hanya harus memikirkan pekerjaan, tetapi juga bagaimana tetap hadir untuk keluarga di tengah aktivitas yang padat. Di saat yang sama, perkembangan teknologi juga membuat interaksi dalam keluarga ikut berubah.

Anak kini lebih dekat dengan gadget dan media digital sejak usia dini, sementara orangtua sering tetap sibuk dengan pekerjaan melalui ponsel atau laptop setelah pulang ke rumah. Kondisi ini membuat waktu bersama keluarga terasa ada, tetapi komunikasi dan kedekatan emosional justru bisa semakin berkurang. Karena itu, menjaga keseimbangan hidup menjadi salah satu tantangan paling penting bagi working parents masa kini.

1. Sulit memisahkan waktu kerja dan keluarga

ilustrasi ayah yang sibuk bekerja
ilustrasi ayah yang sibuk bekerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Teknologi membuat pekerjaan menjadi lebih fleksibel, tetapi juga membuat banyak orang sulit berhenti bekerja. Pesan dari kantor bisa datang pada malam hari, rapat daring dapat berlangsung di rumah, dan notifikasi pekerjaan sering terus muncul saat sedang bersama keluarga. Kondisi seperti ini membuat waktu bersama anak atau pasangan sering terganggu tanpa disadari.

Banyak working parents akhirnya merasa selalu berada dalam dua dunia sekaligus. Ketika bekerja, pikiran tertuju pada keluarga di rumah, sementara saat bersama keluarga justru masih memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Situasi tersebut dapat memicu kelelahan mental karena otak jarang mendapatkan waktu untuk beristirahat. Jika berlangsung terlalu lama, hubungan keluarga juga bisa terasa semakin renggang akibat kurangnya perhatian penuh.

2. Tekanan untuk selalu produktif

ilustrasi ibu yang sibuk bekerja
ilustrasi ibu yang sibuk bekerja (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Era digital sering menghadirkan budaya serba cepat yang membuat banyak orang merasa harus terus produktif. Media sosial dipenuhi gambaran orangtua yang terlihat sukses bekerja, aktif mengurus anak, sekaligus tetap memiliki kehidupan yang teratur. Tanpa disadari, hal tersebut dapat menciptakan tekanan tersendiri bagi working parents yang merasa harus mampu melakukan semuanya dengan sempurna.

Padahal, setiap keluarga memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda. Terlalu memaksakan diri untuk memenuhi standar yang terlihat di internet justru dapat memicu stres dan rasa bersalah. Banyak orangtua akhirnya merasa gagal hanya karena tidak mampu membagi waktu seideal yang mereka lihat di media sosial.

3. Anak lebih dekat dengan gadget

ilustrasi anak-anak dan gadget (pexels.com/Jessica Lewis)
ilustrasi anak-anak dan gadget (pexels.com/Jessica Lewis)

Perkembangan teknologi membuat anak-anak tumbuh sangat dekat dengan gadget sejak usia dini. Di satu sisi, perangkat digital memang dapat membantu proses belajar dan hiburan. Namun, bagi working parents, kondisi ini sering menjadi tantangan karena penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengurangi interaksi langsung dalam keluarga.

Kesibukan kerja terkadang membuat orangtua tanpa sadar menjadikan gadget sebagai cara praktis untuk menenangkan anak. Jika berlangsung terus menerus, hubungan emosional dalam keluarga bisa perlahan berkurang karena komunikasi langsung menjadi semakin sedikit. Anak mungkin terlihat tenang saat bermain perangkat digital, tetapi kebutuhan mereka terhadap perhatian dan kedekatan emosional tetap tidak bisa digantikan teknologi.

4. Rentan mengalami kelelahan mental

ilustrasi stres saat bekerja
ilustrasi stres saat bekerja (pexels.com/Gustavo Fring)

Menjalani banyak peran sekaligus membuat working parents lebih rentan mengalami kelelahan mental. Setelah menyelesaikan pekerjaan kantor, mereka masih harus mengurus kebutuhan rumah, mendampingi anak, hingga memikirkan tanggung jawab keluarga lainnya. Rutinitas yang terus berulang tanpa waktu istirahat cukup dapat membuat kondisi emosional perlahan menurun.

Kelelahan mental sering tidak langsung terlihat karena banyak orangtua tetap berusaha terlihat kuat demi keluarga. Padahal, tekanan yang dipendam terlalu lama dapat memengaruhi kesehatan, suasana hati, bahkan hubungan dengan pasangan dan anak. Oleh sebab itu, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi hal yang sangat penting agar kondisi mental tetap stabil.

Menjadi working parents di era digital memang bukan hal mudah karena tuntutan pekerjaan dan keluarga datang secara bersamaan. Teknologi membantu banyak aktivitas menjadi lebih praktis, tetapi juga menghadirkan tekanan baru yang memengaruhi keseimbangan hidup. Oleh karena itu, tantangan tersebut perlu dihadapi secara bijak tanpa menghilangkan momen bersama keluarga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian
Follow Us

Latest in Life

See More