Apakah kamu sedang atau akan membangun rumah? Pahami betul bahwa rumahmu tidak dibangun dalam semalam. Butuh waktu yang tak sebentar sampai rumah impianmu berdiri kokoh dan siap dihuni.
6 Alasan Harus Terima Kasih pada Tukang yang Membangun Rumah

- Pembangunan rumah memerlukan waktu, tenaga, dan keahlian para tukang yang bekerja keras menghadapi cuaca ekstrem demi mewujudkan hunian impian pemilik rumah.
- Tukang sering lembur dan tetap profesional meski menghadapi risiko tinggi tanpa perlindungan memadai, menunjukkan dedikasi besar dalam setiap tahap pembangunan.
- Menjalin hubungan baik dengan tukang penting karena mereka bisa memberi masukan berharga serta membantu perbaikan rumah di masa mendatang.
Masa pembangunan sangat tergantung pada ukuran rumah, desain, dan jumlah tukang yang dipekerjakan. Rumah kecil berdesain simpel tentu lebih cepat selesai dibandingkan rumah besar. Apalagi jika jumlah tukangnya kurang.
Faktor cuaca juga berpengaruh. Proses pembangunan cenderung terhambat apabila curah hujan sedang tinggi. Satu hal yang tidak boleh terlupakan olehmu sebagai pemilik rumah adalah terima kasih pada tukang yang membangun rumah. Mereka sudah bekerja keras untuk mewujudkan hunian impianmu. Upah berupa uang saja belum cukup untuk menghargai mereka. Berikut alasannya.
1. Kamu mustahil bisa membangunnya sendiri

Bahkan seorang tukang profesional pun biasanya tidak membangun rumahnya sendirian. Ia tetap butuh bantuan tukang-tukang lain sesuai keahlian masing-masing. Kalau tidak begitu, pekerjaan tak kunjung selesai.
Apalagi dirimu yang bidang kerjanya sangat jauh dari urusan pertukangan dan konstruksi. Kamu cuma tahu hasil jadinya. Sementara para tukang sesuai pekerjaannya bekerja dengan sangat keras serta memperhatikan setiap detail bangunan.
Kamu harus membiasakan diri menghargai betul orang-orang yang melakukan sesuatu untukmu. Apalagi, rumah itu setelah jadi akan menjadi tempat perlindunganmu bersama keluarga sampai puluhan tahun mendatang. Hasil kerja para tukang memberimu keamanan dan kenyamanan jangka panjang.
2. Saat panas atau hujan tukang bekerja tanpa mengeluh

Bekerja sebagai tukang bangunan tidak mudah. Selain keahlian dalam hal membuat bangunan yang kuat, mereka juga harus menghadapi kerasnya cuaca. Ketika hujan, pekerjaan jelas akan terhambat. Biasanya tukang akan lebih fokus pada pengerjaan bagian dalam rumah apabila atap sudah terpasang.
Kalau hujan belum terlalu deras dan pengerjaan fisik bangunan dari luar masih memungkinkan, tukang sampai basah kuyup. Tentu mereka bisa kedinginan, sakit, sampai risiko tersambar petir. Sementara itu, pembangunan dikebut selama kemarau.
Musim panas amat bersahabat dengan proses pembangunan. Hanya saja, sengatan matahari luar biasa. Sepanjang siang tubuh para tukang terpanggang matahari padahal tanpa tabir surya. Pakaian pun seadanya. Kamu sendiri pasti ogah ke mana pun di jam-jam itu.
3. Tukang bekerja lembur ketika kamu minta pembangunan dipercepat

Banyak calon pemilik rumah yang gak sabar menunggu rumah impiannya jadi. Bahkan ketika mereka membelinya melalui pengembang perumahan. Sudah ada standar waktu pengerjaan seperti 6 sampai 8 bulan.
Akan tetapi, beberapa konsumen mendesak supaya rumah berdiri dan siap huni lebih cepat. Akibatnya, tukang mesti bekerja amat keras. Penambahan tukang sering kali tidak efisien dari segi biaya. Maka dari itu, tukang yang ada kudu bekerja lembur.
Tukang yang seharusnya hanya bekerja sampai jam 16.00, misalnya, lembur hingga pukul 20.00. Padahal, mereka bekerja 6 hari dalam sepekan. Atau, jam kerja tetap, tetapi sampai hari Minggu alias tanpa libur sama sekali. Kamu nge-gym 2 atau 3 kali dalam seminggu saja sudah pegal-pegal, apalagi para tukang yang bekerja lembur.
4. Tukang berpengalaman kasih masukan positif dan berbagai alternatif

Tukang tidak sekadar mengerjakan perintahmu. Khususnya tukang yang sudah punya banyak pengalaman. Mereka juga akan membantumu membuat keputusan yang lebih tepat dalam pembangunan rumah.
Seperti cara agar struktur bangunan lebih kuat, bahan yang tahan lama biar gak cepat keropos, sampai alternatif untuk menekan biaya. Bisa dibilang, tukang berpengalaman tidak hanya menjual jasa tenaga dalam pembangunan. Namun, juga ada jasa konsultasi.
Dengan begitu, kamu yang baru kali ini membangun rumah lebih terbantu. Tanpa masukan serta solusi dari tukang profesional, bisa-bisa rumahmu seperti rumah boneka. Tampak indah dari luar tetapi sebenarnya rapuh, gak aman, dan biaya pembangunannya membengkak.
5. Risiko pekerjaan sangat tinggi

Ini pekerjaan yang amat menantang. Tukang bangunan di Indonesia sering kali tak memakai alat keamanan apa pun ketika bekerja. Jangankan tali pengaman saat mereka naik tangga. Helm untuk melindungi kepala pun tidak ada.
Padahal, mereka dapat terpeleset dan jatuh. Bisa pula kepala kejatuhan sesuatu yang berat. Pun banyak tukang tak memperoleh asuransi apa-apa. Mereka benar-benar hanya mendapatkan upah harian.
Padahal, hari sial tidak pernah tertera di kalender. Artinya, tukang yang sudah berpengalaman pun bisa sewaktu-waktu celaka ketika membangun rumahmu. Keterlaluan apabila kamu bukannya bilang terima kasih, justru suka marah-marah tak jelas pada para tukang.
6. Jika hubungan baik, kamu dapat minta bantuannya saat perbaikan

Mencari tukang untuk sekadar memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil di rumah sering sulitnya bukan main. Banyak tukang ikut dalam tim borongan dan mengerjakan proyek yang berbeda-beda. Kalaupun mereka lagi gak ada proyek, sudah banyak panggilan untuk renovasi kecil di sana-sini.
Kamu akan susah mendapatkan waktu luang mereka. Apalagi jika dirimu menyebalkan. Selama proses pembangunan rumah, kamu sama sekali tidak ramah pada tukang, bahkan bersikap semena-mena. Mereka pasti malas menerima pekerjaan darimu lagi. Terlebih, upahnya tidak seberapa. Gak sebanding dengan harga diri yang terluka. Mending mereka mengambil pekerjaan lain atau beristirahat saja di rumah.
Sebagai pemilik rumah, kamu memang membayar upah yang tak sedikit buat para tukang sampai rumah jadi. Akan tetapi, jangan ada sedikit pun perasaan bahwa dirimu lebih tinggi dan hebat daripada mereka. Tetaplah terima kasih pada tukang yang membangun rumah, rendah hati, serta mensyukuri kesediaan mereka bekerja sebaik mungkin guna merealisasikan hunian impianmu.


















