Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Orang Tetap Jajan meski Keuangan lagi Seret, Kalap?

4 min read
5 Alasan Orang Tetap Jajan meski Keuangan lagi Seret, Kalap?
ilustrasi kue putu (pexels.com/Firman Marek_Brew)
  • Sebagian orang tetap jajan untuk membantu pedagang kecil bertahan dan membeli makanan yang kemudian dibagikan kepada sesama, meski anggaran pribadi sedang terbatas.
  • Jajan sesekali menjadi hiburan kecil bagi mereka yang bekerja lebih keras saat ekonomi menurun, sebagai jeda dari kelelahan fisik dan pikiran.
  • Kemampuan jajan berbeda menurut tingkat penurunan pendapatan; sebagian memilih tetap membatasi pengeluaran secara wajar agar tidak terlalu menekan diri dan perputaran ekonomi tetap berjalan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika keuangan seseorang sedang tidak sebaik biasanya, logikanya dia harus berhemat. Pengeluaran perlu direm. Apalagi ia tidak punya sumber pendapatan lain untuk menopang kebutuhan hariannya. Belanja-belanja yang kurang mendesak paling cepat dicoret.

Termasuk jajan atau membeli aneka makanan dan minuman di luar. Misalnya, tadinya seseorang biasa kasih jatah jajan diri sendiri 100 ribu rupiah per hari untuk sekali makan di luar dan aneka jajanan. Saat kondisi keuangannya memburuk, bujet itu dipotong besar-besaran sampai dihilangkan sama sekali.

Dia berubah menjadi selalu memasak sendiri atau membawa makanan buatan orangtua. Akan tetapi, di tengah impitan ekonomi, ternyata tak sedikit orang yang tetap membeli jajanan di luar. Bahkan mungkin mereka terlihat tetap suka menghentikan pedagang apa pun yang lewat di depan rumah. Sebenarnya, kenapa ada orang yang tetap jajan meski keuangan lagi seret?

  1. 1. Biar penjual tetap bersemangat mencari nafkah

    pedagang sate
    ilustrasi pedagang sate (pexels.com/Michael Zhafrin)

    Di tengah kondisi ekonomi yang kurang bagus, sebagian orang masih punya kepedulian serta empati tinggi pada sesama. Mereka sering memikirkan bagaimana nasib pedagang kecil kalau gak ada lagi orang yang membeli dagangannya. Seharian mereka jaga warung atau keliling ke sana ke mari, cuma capek doang.

    Jika itu terus terjadi, tentu modalnya habis. Mereka tidak dapat lagi berjualan. Bahkan dalam kondisi orang kehilangan 100 persen sumber pendapatan, bisa bikin nekat. Tadinya mereka mencari nafkah halal dengan berdagang, lalu mulai memikirkan cara-cara buruk asal dapat duit.

    Supaya ini tidak terjadi, seseorang rela tetap merogoh kocek untuk melariskan dagangan orang. Terutama pedagang yang kondisinya tampak perlu dibantu. Biar mereka masih memiliki asa buat kembali berdagang besok dan seterusnya.

  2. 2. Jajan buat dibagi-bagi

    risol
    ilustrasi risol (pexels.com/SAIF SIDDIQUE)

    Orang yang tetap jajan sekalipun kantongnya lagi cekak kadang juga tak sekadar memuaskan hawa nafsu sendiri. Tak sedikit orang yang justru lebih terdorong untuk berbagi kepada sesama saat perekonomiannya diuji. Atau, selama ini mereka memang sudah rutin berbagi makanan.

    Walaupun sekarang isi dompet tak seperti dulu, menghentikan kebiasaan baik tersebut tidak mudah. Justru mereka dapat merasa bersalah hingga khawatir rezeki makin seret kalau berhenti berbagi. Oleh sebab itu, mereka tetap jajan.

    Mereka membeli lebih banyak makanan untuk dibagikan. Bedanya dengan saat keuangan mereka kuat paling di frekuensi serta harga makanannya. Dahulu mereka membagikan makanan berat hampir seminggu sekali. Sekarang waktunya untuk beralih ke jajanan pasar yang jauh lebih terjangkau.

  3. 3. Hiburan kecil untuk diri sendiri di tengah kerja keras

    menyantap mi
    ilustrasi menyantap mi (pexels.com/Yudi Ding)

    Ketika kondisi ekonomi tergerus, banyak orang terpaksa bekerja lebih keras demi menyambung hidup. Misalnya, mereka mengambil pekerjaan tambahan sampai gak pernah punya hari libur. Setiap waktunya hanya untuk bekerja.

    Tentu hal ini menimbulkan kelelahan fisik dan psikis. Badan rasanya sudah gak keruan, tapi harus tetap ditahan demi sejumlah uang. Secara psikis juga melelahkan karena pikiran bercabang-cabang.

    Mereka tidak bisa hanya fokus pada satu pekerjaan. Situasi begini bila tak diselingi hiburan sekecil apa pun dapat membuat orang jatuh ke dalam depresi. Mending mereka mengeluarkan uang secukupnya untuk jajan sesekali ketimbang kesehatan mental gak tertolong. Setelah mereka bekerja sekeras itu, tentu lidah dan perut boleh sedikit dimanjakan.

  4. 4. Perekonomiannya memang kurang baik, tapi masih lumayan

    makan di luar
    ilustrasi makan di luar (pexels.com/Pixs Storage)

    Penurunan kondisi finansial tiap orang berbeda-beda sekalipun secara umum semua orang merasakannya. Buat orang yang perubahan ekonominya drastis sekali, tentu tak lagi kepikiran soal jajan. Mereka langsung berubah mode dari normal menjadi sekadar berjuang mempertahankan hidup.

    Jajan sama sekali bukan hal penting. Mereka masih bisa makan di rumah saja, sudah sangat bersyukur. Contohnya, orang yang kehilangan pekerjaan, padahal selama itu pun penghasilannya pas-pasan. Dengan tabungan minim, ruang bernapasnya amat terbatas.

    Sementara itu, orang lain juga mengalami penurunan kesejahteraan, tetapi tak separah dirinya. Misalnya, orang yang pendapatannya turun dari 10 juta rupiah menjadi 8 juta rupiah. Penurunan 20 persen pasti bikin kecewa, tetapi ruang belanjanya masih jauh lebih luas dibandingkan dengan orang pertama. Jajan masih oke untuknya asal gak sering-sering.

  5. 5. Pengalaman terlalu hemat malah selalu ada kebutuhan tak terduga

    serabi
    ilustrasi serabi (pexels.com/JENNI AGUSTINA)

    Barangkali kamu juga familier dengan pengalaman serupa. Saat kamu berusaha keras berhemat dengan menahan berbagai keinginan sampai seperti gak sayang diri, malah uangmu tetap keluar juga buat hal-hal lain. Contoh, hujan deras sekali.

    Dirimu ogah memesan taksi online karena tarifnya lebih mahal daripada ojek. Kamu sudah kehujanan sepanjang jalan, eh, sampai rumah ternyata atap bocor. Dirimu harus segera memanggil tukang untuk memperbaikinya. Biayanya jauh lebih gede daripada ongkos taksi online.

    Ketika kejadian seperti ini telah menyerupai pola yang dapat diramalkan, sebagian orang mengambil satu pelajaran. Mereka yang sedang harus irit pun tidak boleh sampai berlebihan, termasuk soal jajan. Mereka hanya perlu membedakan jajan yang masih wajar dengan yang berlebihan untuk kondisi seperti sekarang.

    Fenomena sebagian orang tetap jajan meski keuangan lagi seret tidak bijak jika langsung dicap boros. Sisi baiknya, ketika pelemahan perekonomian terjadi di mana-mana, masih ada orang yang jajan membantu ekonomi tetap berputar. Bila semua orang kompak berhenti jajan, situasinya bakal tambah buruk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More