Ketika keuangan seseorang sedang tidak sebaik biasanya, logikanya dia harus berhemat. Pengeluaran perlu direm. Apalagi ia tidak punya sumber pendapatan lain untuk menopang kebutuhan hariannya. Belanja-belanja yang kurang mendesak paling cepat dicoret.
Termasuk jajan atau membeli aneka makanan dan minuman di luar. Misalnya, tadinya seseorang biasa kasih jatah jajan diri sendiri 100 ribu rupiah per hari untuk sekali makan di luar dan aneka jajanan. Saat kondisi keuangannya memburuk, bujet itu dipotong besar-besaran sampai dihilangkan sama sekali.
Dia berubah menjadi selalu memasak sendiri atau membawa makanan buatan orangtua. Akan tetapi, di tengah impitan ekonomi, ternyata tak sedikit orang yang tetap membeli jajanan di luar. Bahkan mungkin mereka terlihat tetap suka menghentikan pedagang apa pun yang lewat di depan rumah. Sebenarnya, kenapa ada orang yang tetap jajan meski keuangan lagi seret?
