Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tren BookTok Buktikan Bisa Hidupkan Kembali Popularitas Buku-Buku Lama
ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/Ron Lach)
  • BookTok di TikTok menghidupkan minat baca dan mendorong lonjakan penjualan, termasuk pada buku-buku lama yang kembali viral.
  • Kreator mengulas buku secara ringkas, ekspresif, dan personal; tema universal seperti kesehatan mental, kesetaraan, serta ketimpangan sosial membuat karya lama terasa relevan.
  • Algoritma TikTok mempercepat penyebaran rekomendasi ke audiens serupa, sementara visual bookish aesthetic menjadikan membaca sebagai gaya hidup yang menarik bagi anak muda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan ini, fenomena BookTok menjadi tren di kalangan anak muda dan pecinta buku di media sosial. BookTok atau singkatan dari Book Tiktok merupakan sebutan untuk komunitas di platform TikTok yang berfokus pada konten literatur, ulasan buku, maupun rekomendasi bacaan. Konten buku ini berseliweran di TikTok dan sukses menghidupkan kembali minat baca.

Bagaimana enggak? Buku-buku yang dikontenkan di BookTok kerap kali mengalami lonjakan penjualan dan jadi bahan perbincangan, termasuk buku-buku lama yang akhirnya kembali viral. Lantas, kenapa BookTok bisa bikin buku-buku lama itu populer lagi? Seberapa kuat pengaruhnya pada pengguna media sosial?

1. Para kreator BookTok mengemas konten dengan menarik

ilustrasi orang menatap gawai (pexels.com/Tim Douglas)

Selama konten itu menarik, konten itu akan terus ditonton dan dibagikan oleh pengguna. Para kreator BookTok itu kreatif, mereka mengemas konten buku secara ringkas, ekspresif, dan jujur.

Secara personal, para kreator membagikan pengalaman membaca mereka kepada penonton. Mereka akan menjabarkan kelebihan buku, adegan yang paling berkesan, hingga reaksi emosional ketika membacanya. Hal ini membuat penonton jadi ingin membaca juga meski buku itu tergolong terbitan lama.

2. Isi buku relatable dengan kehidupan sehari-hari atau isu yang terjadi

ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Salah satu hal menarik dari buku bagi pembaca adalah keterkaitannya dengan kehidupan nyata. Semakin dekat keterkaitan itu, semakin pembaca menyukainya. Kamu pernah gak membaca buku, lalu langsung merasa bahwa cerita yang disajikan relate sekali dengan hidupmu? Nah, inilah yang sering terjadi pada buku-buku lama yang kembali populer lewat BookTok.

Selain para kreatornya yang jago mengemas konten, isi buku yang dikontenkan juga mengangkat tema universal atau membawakan isu yang tengah berkembang di masa sekarang, seperti kesehatan mental, quarter life-crisis, woman empowerment, kesetaraan, ketimpangan sosial, hingga ketidakadilan.

3. Algoritma Tiktok memungkinkan konten menyebar sangat cepat

ilustrasi orang bermain gawai (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dilansir laman Gramedia, algoritma Tiktok yang membuat konten menyebar cepat berperan besar menjadikan sebuah judul viral dalam waktu singkat. Hal itu pula yang terjadi pada buku-buku lama yang sebelumnya kurang populer.

Ketika buku-buku lama itu muncul di FYP (For Your Page), algoritma menyebarkannya ke audiens yang punya minat sama. Efek ini membuat satu video rekomendasi bisa langsung ditonton ribuan bahkan jutaan kali hanya dalam hitungan hari. Semakin tinggi interaksi yang terjadi seperti like, comment, dan share pada video BookTok, semakin luas jangkauannya.

4. Bookish aesthetic menarik anak muda untuk membaca

ilustrasi orang menandai bagian buku (pexels.com/cottonbro studio)

Anak muda masa kini hidup berdampingan dengan teknologi, termasuk media sosial. Maka, membaca buku itu bukan sekadar hobi pasif. Banyak dari pecinta buku yang membagikan pengalaman membacanya ke media sosial. Misalnya, dengan memfoto buku secara estetik, menandai halaman favorit, dan menambahkan latar musik yang cozy atau sesuai tema buku. Nah, visual ini membuat audiens merasa tertarik untuk punya hobi serupa.

Tren bookish aesthetic membuktikan bahwa tampilan visual bisa mengubah persepsi tentang membaca menjadi gaya hidup yang gak kuno, melainkan kekinian. Alhasil, buku-buku lama pun ikut kembali diburu untuk dibaca oleh anak muda maupun orang dewasa.

Sebuah karya yang berkualitas itu gak mengenal waktu, ya. Karya akan tetap punya pembacanya, terlepas dari kapan karya itu diterbitkan. BookTok menjadi salah satu wadah bagi buku-buku lama menjangkau generasi pembaca yang lebih luas. Semoga tren ini gak sekadar tren sesaat yang hilang ditelan waktu, melainkan gerakan baru untuk terus menghidupkan minat baca masyarakat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article