Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), pada Rabu (14/10/2026). (dok. Bank Indonesia)
Gaya hidup halal juga bisa diterapkan saat mengatur keuangan. Buat Gen Z yang mulai belajar mengelola penghasilan sendiri, mengenal tabungan, investasi, dan layanan keuangan syariah bisa jadi langkah awal untuk memahami pilihan finansial yang tersedia.
Namun, pemahaman masyarakat soal keuangan syariah masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, tingkat literasi keuangan syariah Indonesia mencapai 43,07 persen, sedangkan tingkat inklusinya baru 13,24 persen.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, berpendapat bahwa Indonesia sudah memiliki fondasi yang kuat, tetapi masih perlu mendorong pertumbuhannya lebih jauh.
“Ini tentu menjadi PR buat kita, karena kita sudah memiliki basis yang kuat, tinggal bagaimana kita bisa mendorong (ekonomi syariah) ke depan,” ujar Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), pada Rabu (14/10/2026).
Untuk mendorong perkembangannya, Bank Indonesia mengumumkan tiga program dalam ISEF 2026. Program tersebut mencakup pedoman transaksi pasar keuangan syariah melalui Islamic Financial Market Code of Conduct (ICoC), pembaruan indeks penerapan prinsip utama zakat dengan tambahan aspek manajemen risiko, serta beasiswa internasional bagi mahasiswa asing yang didukung dana sosial syariah.
Ketiga program ini menyasar aspek yang berbeda, mulai dari penguatan pasar keuangan dan tata kelola zakat hingga pendidikan. Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah untuk memperluas perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.