Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Hal yang Sering Dinormalisasikan tapi Bikin Hubungan Berjarak
ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/David Crypto)
  • Kebiasaan lambat membalas chat atau hanya membaca pesan dapat membuat komunikasi merenggang, karena orang lain bisa lelah dan perlahan menjauh.
  • Membatalkan janji mendadak atau terlambat menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap keluarga, pasangan, maupun teman; bila terpaksa, inisiatif menjadwalkan ulang penting dilakukan.
  • Boundary perlu dibedakan dari sikap menghindar: terus menolak bertemu atau menghindari percakapan dapat menciptakan jarak dan menjadi pelarian dari komitmen relasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sering sekali kita mendengar kata boundary diucapkan ketika membangun hubungan. Entah dalam keluarga, pertemanan, atau hubungan romantis, batasan tersebut sering menjadi tameng seseorang ketika sebenarnya ia hanya ingin melindungi dirinya sendiri dari komitmen hubungan.

Bukan hanya hubungan romantis yang butuh komitmen, membangun hubungan pertemanan atau keluarga pun punya komitmen yang nggak kalah penting. Walau sering disepelekan, kamu perlu bisa memilah mana sikap yang adalah melindungi batasan, mana kebiasaan yang termasuk menghindar. Jangan sampai kamu melakukan bahkan menormalisasikan hal yang justru malah merusak hubunganmu perlahan, seperti tiga poin di bawah.

1. Sering slow response balas chat, bahkan kebiasaan hanya membaca

ilustrasi perempuan mengecek HP (pexels.com/Matilda Wormwood)

Di era media sosial seperti sekarang, nggak ketemu tiap hari nggak bisa jadi alasan yang membuat hubungan berjarak. Kamu dan lawan bicara tetap bisa membangun komunikasi lewat chat dan media sosial. Meski nggak seintens ketemu langsung, cara ini tetap bisa jadi alternatif yang baik untuk menjaga hubungan tetap hangat di antara kalian.

Tetapi, ketika kesibukan datang dan kamu mulai sering jarang balas pesan, hal ini bisa menciptakan jarak dalam relasi. Percuma orang lain chat kamu sesering apa pun, kalau kamu nggak balas, lama-lama ia pun capek juga. Yang ada, ia malah bosan dan berangsur-angsur membiarkanmu nyaman dengan kesibukan baru.

2. Cancel janjian mendadak di hari H

ilustrasi dua orang menghindari konflik (pexels.com/cottonbro studio)

Salah satu tantangan dalam pertemanan dewasa adalah menyocokkan waktu dan jadwal yang sama-sama padat. Ketika kamu sudah masuk dalam dunia profesional, ambisi dan kesibukan seringkali mengubah prioritas orang. Hal ini nggak salah sebenarnya, sampai kamu lupa cara untuk menghargai orang di sekitarmu.

Datang terlambat atau batal janjian di hari H adalah salah satu cara kamu nggak menghargai lawan bicara—entah dengan keluarga, pasangan, atau sahabat, hal ini sangat nggak etis untuk dilakukan. Kamu mungkin bisa alasan ada urusan pekerjaan yang lebih penting, tapi pikirkan juga perasaan lawan bicaramu.

Bila gak ada opsi dan kamu terpaksa melakukan ini, coba inisiatif ganti jadwal. Dengan demikian, kamu menunjukkan rasa penyesalan dan tanggung jawab yang secara nggak langsung juga menunjukkan bahwa kamu menghargai relasi tersebut.

3. Menjadikan “boundary” alasan untuk selalu menolak ketemu lawan bicara

ilustrasi wanita mengobrol (pexels.com/Vitaly Gariev)

Seiring dengan prioritas dan kesibukan yang berubah, banyak orang memilih untuk menjaga ketenangan diri dengan me time. Banyak pertemanan yang dulunya akrab tapi memudar seiring berjalannya waktu.

Oleh karena itu, kamu perlu dengan jeli dan bijak memilah mana yang adalah boundary,mana yang hanya menghindar. Demi menghindari rasa nggak nyaman, banyak orang memilih menghindar dari pertemuan, konfrontasi, atau percakapan dengan orang-orang di masa lalu. Sebenarnya bukan soal batasan, melainkan sebagai cara untuk melarikan diri dari komitmen.

Contoh, nggak datang ke pertemuan keluarga. Atau, sengaja menghindar saat teman lama ngajak bertemu. Perlahan tanpa disadari, kamu menciptakan gap dengan orang-orang dalam hidupmu.

Nggak semua hal yang dinormalisasikan adalah baik. Hubungan memang nggak sempurna, tapi bukan berarti semua hubungan perlu di-cut off demi ambisi dan kepentingan pribadi. Bagaimana pun, salah satu hal penting dalam hidup adalah memiliki relasi yang baik dengan orang sekitar. Dan untuk mencapai level demikian, perlu ada usaha dan waktu yang dikorbankan. Setuju?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article