Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Sebab Blind Loyalty Membuat Penggemar Membela Idola Mati-Matian

5 min read
6 Sebab Blind Loyalty Membuat Penggemar Membela Idola Mati-Matian
ilustrasi korban (pexels.com/Gülşah Aydoğan)
  • Blind loyalty membuat penggemar membenarkan kesalahan idola, mengabaikan fakta, bahkan menyalahkan dan menyerang korban dalam kasus serius seperti kekerasan seksual.
  • Penggemar kerap hanya mengenal citra positif idola dari layar, sementara korban terasa asing; ketimpangan popularitas ini memudahkan keberpihakan kepada figur yang lebih berpengaruh.
  • Solidaritas fandom dan ketakutan dianggap tidak loyal dapat menekan sikap kritis, sehingga penggemar lebih mudah menuduh korban bermotif tertentu daripada mempertimbangkan perspektifnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Blind loyalty atau loyalitas buta merujuk pada ekspresi kesetiaan seseorang pada orang lain secara membabi buta. Atas nama loyalitas, kamu seperti tidak mampu melihat kebenaran. Kalau dirimu sudah terjebak dalam blind loyalty, kesalahan orang lain bisa dibenarkan olehmu.

Sebaliknya orang yang menjadi lawannya dalam suatu persoalan meski benar pun akan disalahkan. Sikap seperti ini tentu jauh dari objektivitas dan bisa sangat berbahaya. Ketika idolamu melakukan kekerasan seksual misalnya, korban disalahkan habis-habisan.

Kamu menyerang mentalnya, meragukan ceritanya, bahkan menuduhnya dengan hal-hal buruk. Blind loyalty bertambah parah karena sesama penggemar seperti bahu-membahu menyudutkan korban. Kenapa akal sehat dan hati nurani penggemar dapat seakan-akan mati?

  1. 1. Keinginan membela idola di segala situasi

    korban
    ilustrasi korban (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

    Kamu sebagai penggemar berat merasa kesetiaan terhadap idola diuji ketika ia mengalami masalah. Bila dirimu tidak membelanya habis-habisan, itu tanda loyalitasmu rendah. Kamu bukan penggemar sejati.

    Dirimu merasa wajib melakukan pembelaan sekalipun situasi permasalahannya sangat berbeda dengan bidang yang digeluti. Misalnya, terkait hubungan pribadinya dengan seseorang. Kamu sebagai penggemar karya-karyanya tetap merasa harus ikut campur.

    Dirimu khawatir kalau masalah pribadi itu akan menghancurkan reputasi idola. Nanti dia tidak bisa berkarya lagi. Kamu seperti ingin turun tangan guna secepatnya menghilangkan persoalan tersebut. Sekalipun itu artinya dirimu menekan mental koban.

  2. 2. Hanya mengenal citra positif idola melalui layar gawai

    korban
    ilustrasi korban (pexels.com/JangJ Atthaniti)

    Loyalitas buta sama sekali tidak membuktikan kamu paham segala hal terkait diri dan kehidupan idola. Justru blind loyalty sering kali disebabkan pengetahuan yang dangkal, tapi dianggap sebagai pengetahuan utuh. Dirimu cuma tahu tentang idola melalui konten atau penampilannya di layar kaca dan panggung.

    Walaupun itu dunianya, bukan berarti seluruh diri serta kehidupannya tecermin di layar kamera. Sama seperti orang-orang, idolamu juga memiliki banyak sisi yang tidak terlihat di kamera. Meski selama ini citranya positif, kenyataannya dapat berbeda.

    Apalagi beberapa bintang bisa lupa diri seiring popularitasnya yang meroket. Kelakuan di depan kamera tetap memukau karena mereka sadar sedang bekerja. Selebihnya, mereka tak lebih dari manusia biasa yang dapat melakukan berbagai kesalahan sampai level kejahatan sekalipun.

  3. 3. Tidak kenal korbannya

    korban
    ilustrasi korban (pexels.com/John Rae Cayabyab)

    Penggemar merasa mengenal idolanya luar dalam. Perjalanan hidup idola dari anak-anak saja sampai diingat betul. Sementara itu, dirimu gak tahu apa-apa terkait korban. Kamu cuma mengetahui gambaran sosoknya melalui pemberitaan.

    Itu pun terbatas sekali. Apalagi korban tidak aktif di media sosial. Dia menjadi terasa begitu asing bagimu. Di tengah serba ketidaktahuan tersebut, lebih mudah untukmu memercayai idola. Semua orang yang kurang dikenal patut lebih diwaspadai.

    Beda halnya jika korbannya juga figur yang cukup populer. Mungkin kamu masih akan berpikir lebih panjang untuk tidak memercayainya apalagi sampai berani melakukan victim blaming. Meski hatimu tetap condong ke idola, sosok korban yang juga dikenal luas membuatmu sungkan melakukan bullying terhadapnya.

  4. 4. Solidaritas sesama penggemar

    korban
    ilustrasi korban (pexels.com/MIXU)

    Tindakanmu juga tidak terlepas dari pengaruh sesama penggemar. Seandainya suara fan terpecah menjadi pembela idola vs penggemar yang lebih objektif, barangkali akal sehat dan hatimu lebih mudah bekerja. Dirimu terdorong untuk lebih berhati-hati dalam bersikap.

    Siapa yang benar atau salah terasa 50:50. Kamu gak mau asal membela idola kalau-kalau tuduhan yang dilayangkan korbannya memang benar. Namun, jika mayoritas bahkan seluruh penggemar telah terjebak blind loyalty, dirimu seakan-akan tak pantas tetap waras sendirian.

    Kamu mau kritis, nanti seperti melawan kekuatan mayoritas penggemar. Malah dirimu dikira penyusup yang ingin merusak citra public figure. Sebenarnya kamu masih punya opsi diam saja, tapi ini pun membuatmu merasa bersalah meski diammu gak kentara.

  5. 5. Idola lebih superior daripada korban

    korban
    ilustrasi korban (pexels.com/RDNE Stock project)

    Sedikit banyak manusia memiliki kecenderungan untuk mencari aman. Ini sebabnya tokoh yang sudah punya kekuasaan atau popularitas tidak sulit mengumpulkan penggemar fanatik yang akan membelanya apa pun yang terjadi. Sementara korbannya justru kerap panen hujatan dan cibiran ketika berani speak up.

    Secara gak sadar penggemar yang bersikap demikian merasa sia-sia untuk membela korban yang lemah. Paling-paling bakal kalah. Lebih baik mereka tetap pro ke idolanya sebagai pelaku. Toh, sikap seperti itu tidak merugikan mereka.

    Mereka merasa penting untuk tetap berada di pihak yang kemungkinan besar akan menang. Penggemar yang semestinya dapat menjalankan peran sebagai pengontrol perilaku idola malah cuma menyuburkan sifatnya yang kurang baik. Ini tak ubahnya lingkaran setan. Idola menjadi tidak pernah jera.

  6. 6. Lebih mudah menduga korban punya motivasi tertentu pada idola

    korban
    ilustrasi korban (pexels.com/Daniel Reche)

    Posisi korban ketika berhadapan dengan pelaku yang punya pengaruh besar memang sangat tidak menguntungkan. Ia tidak hanya dirugikan secara fisik, mental, dan sosial akibat perbuatan pelaku. Korban juga sering kali menerima fitnah.

    Misalnya, korban kekerasan seksual superstar dinilai penggemarnya memang sengaja menggoda duluan. Penggemar menuduh hubungan mereka sebenarnya suka sama suka atau korban menjebak idolanya. Ketika sang idola tidak memenuhi beberapa permintaannya, maka hubungan tersebut dijadikan senjata.

    Semua korban dalam berbagai kasus diyakini cuma mau mencari kesempatan dalam kesempitan. Apalagi jika akhirnya korban mau diajak berdamai, niscaya suara miring kian santer terdengar. Penggemar fanatik sukar memercayai kemungkinan bahkan fakta sebaliknya. Idolanya yang menggunakan kekuasaan dan popularitasnya untuk memanfaatkan korban.

    Rasa suka terhadap idola tidak bisa dicegah. Namun, kamu masih dapat mengidolakan siapa pun tanpa terjebak loyalitas buta. Di antaranya dengan dirimu menyadari idola tidak lebih dari manusia biasa, mendengarkan perspektif korban, serta tetap punya prinsip moral yang gak goyah karena faktor kesukaan terhadap idola.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More