Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Alasan Kamu Sulit Jujur soal Keuangan kepada Teman
ilustrasi bersama teman-teman (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Tekanan finansial dari teman sebaya dapat mendorong seseorang memaksakan gaya hidup di luar kemampuan, sehingga sulit mengakui kondisi keuangan yang terbatas.
  • Kejujuran soal tidak punya uang terhambat rasa takut ditertawakan, ditanya gaji, diceramahi pengelolaan uang, serta kekhawatiran tidak lagi diajak nongkrong.
  • Sulitnya berkata bokek juga dipengaruhi teman yang tampak selalu mampu, waktu setelah gajian, dan pengeluaran kecil yang tetap berat karena kebutuhan rutin lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Punya banyak teman tentu seru. Berteman juga salah satu kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Akan tetapi, pergaulan dengan teman sering kali memunculkan financial peer pressure atau tekanan keuangan yang disebabkan oleh teman sebaya.

Gampangnya, kamu bisa menjadi lebih boros sampai hedon gara-gara pengaruh pertemanan. Selama kamu ada di antara mereka sukar sekali membebaskan diri dari pengaruh ini. Walaupun sebenarnya kamu sudah megap-megap keberatan dengan gaya hidup yang melebihi kemampuanmu bakal tetap memaksakan diri.

Berat sekali untukmu jujur bahwa kamu sedang tidak punya uang ketika diajak teman nongkrong atau didorong beli sesuatu. Kamu kudu punya pertahanan diri yang lebih baik sebab mustahil menjauh dari mereka semua. Dirimu gak sanggup mengakui keterbatasan danamu karena tujuh sebab berikut.

1. Takut diketawain

ilustrasi tertawa (pexels.com/Vitaly Gariev)

Di antara berbagai penyebab kamu ditertawakan teman, diketawain soal duit menjadi yang paling memalukan sekaligus menyakitkan. Harga dirimu terasa ikut runtuh bersama tawa keras mereka. Motivasi mereka tertawa bisa bermacam-macam.

Tak selalu karena mereka menganggupmu miskin setelah pengakuan bahwa kamu tak punya uang. Mungkin mereka justru berpikir gak mungkin dirimu tidak memilikinya. Kamu terlihat cukup berduit di mata mereka. Baik karena penampilan maupun pekerjaanmu. Akan tetapi, efeknya terhadap mentalmu tetap sama saja. Rasanya malu sekali.

2. Juga ditanya-tanya soal gaji

ilustrasi nongkrong (pexels.com/Annie Hatuanh)

Pertanyaan tentang gaji memang sekarang sangat sering dilontarkan oleh dan pada siapa pun. Beda dengan zaman dulu ketika pertanyaan tersebut dianggap tidak sopan. Namun, lebih mudah untuk menghindari pertanyaan ini jika kamu gak pernah bilang tidak punya uang.

Sebaliknya begitu dirimu berkata tak memiliki uang, teman menjadi penasaran. Memangnya gajimu berapa sampai sebokek itu? Kamu hendak menjawabnya pun serba salah. Kalau dirimu menyebut angka kecil nanti disepelekan. Bila angkanya besar, mereka makin tidak percaya dengan perkataanmu tentang gak punya duit.

3. Atau, diceramahi soal pengelolaan keuangan

ilustrasi percakapan (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Kamu benar-benar sedang tidak punya uang saja sudah bikin kepala pusing. Apalagi kalau ditambah harus mendengarkan ceramah kawan soal pengelolaan keuangan yang baik. Bukan dirimu tak menghargainya. Namun, mungkin kamu sudah tahu tentang itu.

Hanya saja penerapannya tidak semudah kata-kata. Apalagi saat dirimu dihadapkan dengan tanggungan yang banyak. Gak punya duit bukan berarti kemampuanmu mengatur uang pasti payah. Boleh jadi memang situasi hidupmu sedang kompleks. Tidak semua orang yang jago bicara soal uang bisa memahami hal ini.

4. Teman-teman terlihat selalu punya duit

ilustrasi bersama teman-teman (pexels.com/Matheus Bertelli)

Mudah atau tidaknya kamu membuat pengakuan tentang kantongmu yang lagi cekak juga ditentukan oleh seperti apa teman-temanmu. Seandainya dirimu berada di lingkaran pertemanan yang biasa saling mengaku lagi gak punya duit tentu kamu pun tak gengsi mengatakannya. Bahkan tanpa perlu dirimu berpikir panjang.

Seperti reaksi otomatis saja begitu ada ajakan kawan yang berat ongkosnya. Lain dengan jika kawan-kawanmu terlihat tidak pernah bokek. Mereka selalu siap mengeluarkan uang berapa pun dan untuk keperluan apa saja. Kamu pasti berusaha keras buat mengimbangi mereka.

5. Khawatir gak diajak nongkrong lagi

ilustrasi bersama teman-teman (pexels.com/Vitaly Gariev)

Terutama buat kamu yang masih muda. Nongkrong bareng teman bisa terasa segalanya. Itu jelas butuh uang dan dirimu tidak selalu memilikinya. Akan tetapi, ada risiko apabila kamu mengatakannya secara terbuka. Takutnya, teman-teman menjadi malas untuk kembali mengajakmu nongkrong.

Mereka sudah punya keyakinan dirimu selalu gak punya duit buat nongkrong bareng. Jadi, buat apa kamu diajak? Seandainya itu terjadi, anak muda sering merasa dicampakkan dari pertemanan. Sekalipun setiap hari kalian masih bertemu buat kuliah atau kerja bareng.

6. Masih tanggal muda

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Beyzaa Yurtkuran)

Bikin pengakuan tentang keuangan yang tipis lebih gampang dilakukan kalau sudah tanggal tua. Di akhir bulan rasanya lumrah buat siapa pun gak punya duit bahkan bokek parah. Apalagi metode gajiannya di awal bulan saja dan tak punya sumber pemasukan lain.

Hal yang sama menjadi lebih sukar dilakukan ketika masih minggu pertama. Baru saja gajian, masa kamu sudah mau bilang tak punya uang? Jangan-jangan dirimu dikira terjerat judol atau pinjol sehingga uangnya buat main atau bayar cicilan berbunga selangit. Padahal, bisa jadi gajimu langsung dibagi ke pos-pos pengeluaran rutin.

7. Terkait hal-hal yang sebenarnya cukup murah

ilustrasi bersama teman (pexels.com/Nhà văn)

Misalnya, kamu diajak beli kopi seharga 50 ribu rupiah. Jika gajimu 5 atau 3 juta saja, harga segitu masih termasuk terjangkau. Beda dengan bila dirimu diajak berlibur dan menginap di hotel yang per malamnya saja hampir 2 juta rupiah.

Tarif segitu dibagi dua sama teman pun masih kegedean untuk ukuran penghasilan tak sampai dua digit. Namun, boleh jadi beli kopi 50 ribu rupiah pun berat buatmu karena uang telah atau akan digunakan buat hal-hal lain. Hanya saja, jika kamu berkata tak punya uang nanti kesannya pelit sekali sama diri sendiri.

Financial peer pressure harus disikapi dengan sangat hati-hati. Penting sekali buat menjaga kondisi keuangan pribadi maupun hubungan pertemanan. Usahakan keduanya tetap bisa jalan bareng.

Bila kamu kudu memilih salah satu di tengah keuangan pas-pasan mending menyelamatkan dompet dulu. Sebab pertemanan yang positif semestinya paham soal ini. Teman-teman seharusnya tetap respek ketika kamu tak selalu bisa mengimbangi gaya hidup mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article