Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Alasan Ilmiah Friendship Breakup Lebih Sakit dari Putus Cinta

5 Alasan Ilmiah Friendship Breakup Lebih Sakit dari Putus Cinta
Ilustrasi sahabat bertengkar. (Pexels/Kaboompics)
Intinya Sih
  • Putusnya persahabatan bisa memicu respons emosional kuat di otak, mengganggu keseimbangan kimia dan menimbulkan rasa sakit fisik serta mental yang nyata.
  • Hubungan persahabatan yang berakhir mendadak membuat seseorang syok, sulit pulih, dan merasa kehilangan dukungan emosional dari sosok terdekat.
  • Rasa penyesalan dan kesepian muncul karena takut tak menemukan hubungan serupa, sementara minimnya pemahaman orang lain memperlambat proses penyembuhan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Friendship breakup atau putusnya tali persahabatan, seringkali terbaikan dan dianggap bukan hal yang penting. Padahal, rasa sakitnya bisa jauh lebih buruk dari putus cinta. Inilah beberapa alasan mengapa friendship breakup menyakitkan.

Teman tiba-tiba menghilang dan tak pernah lagi balas chat atau telepon. Kondisi ini sering disebut friendship breakup dan bagi sebagian orang, rasanya lebih menyakitkan dibanding putus cinta.

Hilangnya teman secara mendadak, memang wajar mematahkan hati. Karena umumnya sebuah pertemanan dibentuk dalam jangka waktu yang lama. Penelitian yang terbit di Journal of Social and Personal Relationships menyebutkan bahwa pertemanan terbentuk setelah seseorang menghabiskan waktu lebih dari 200 jam bersama.

Selain berkaitan dengan waktu, berikut ini beberapa alasan yang membuat friendship breakup lebih menyakitkan daripada putus cinta.

1. Otak dan Tubuh Berduka

Foto dua orang sahabat yang berargumen.
Ilustrasi sahabat bertengkar. (Unsplash/Obie Fernandez)

Dilansir Verywell Mind, ahli neurologi Lisa Shulman, MD, menjelaskan bahwa putusnya tali persahabatan bisa mengaktifkan amigdala, bagian otak yang bertanggung jawab atas respons emosional dan deteksi ancaman. Saat rasa sakit emosional mencapai ambang batas tertentu, amigdala akan “membunyikan alarm” dan memicu serangkaian hormon serta neurotransmiter untuk mempersiapkan tubuh mempertahankan diri.

Alarm ini kemudian berdampak pada keseimbangan kimia otak. Psikiater Sharon Batista, MD, menjelaskan bahwa sejumlah neurotransmiter seperti serotonin dan norepinefrin, yang berperan mengatur suasana hati dan pemrosesan emosi, ikut terganggu.

2. Kondisi yang serba mendadak

Foto dua orang sahabat adu argumen.
Ilustrasi sahabat bertengkar. (Pexels/Liza Summer)

Sahabat seringkali menjadi salah satu orang yang selalu ada ketika kita berada dalam kondisi paling rentan, dan hal yang tak terpikirkan adalah saat hubungan itu berakhir.

Dikutip dari Psychology Today, hubungan persahabatan yang berakhir mendadak atau secara dramatis, akan membuat syok dan memperpanjangan proses penyembuhan.

3. Takut tak temukan pertemanan serupa

Foto sepasang sahabat bertengkar.
Ilustrasi sahabat bertengkar. (Pexels/Liza Summer)

Kita mungkin masih punya teman lain atau orang-orang terdekat, tapi kalau friendship breakup terjadi dengan sahabat terdekat, rasanya bisa jadi jauh lebih berat. Bayangin, orang yang biasanya jadi tempat cerita dan minta dukungan saat lagi susah, sekarang orang itu justru tak ada di sisi kita. Situasi ini membuat bingung dan kehilangan arah.

Persahabatan yang dekat biasanya bikin kedua orang di dalamnya merasa dilihat dan diterima apa adanya. Keterbukaan untuk menunjukkan sisi rentan diri sendiri justru mempererat hubungan. Persahabatan model ini tidak datang setiap saat, sehingga muncul kekhawatiran tak akan merasakan hal serupa lagi.

4. Muncul rasa penyesalan

Foto sepasang sahabat bertengkar.
Ilustrasi sahabat bertengkar. (Pexels/Tiger Lily)

Saat mengalami friendship breakup, tanpa disadari kita akan menyalahkan diri sendiri dan berpikir jika saja melakukan hal berbeda untuk mempertahankan persahabatan.

Padahal, jika memang persahabatan berakhir dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya, terus-menerus menyalahkan diri sendiri justru membuat peluang persahabatan baru tertutup dan menghambat untuk move on.

5. Merasa orang lain tidak mengerti

Foto sepasang sahabat bertengkar.
Ilustrasi sahabat bertengkar. (Pexels/Kaboompics)

Friendship breakup dan putus cinta merupakan hal yang berbeda, yang satu umum dibicarakan, sementara yang lainnya biasanya terabaikan. Banyak orang yang memilih untuk tidak membahas lebih lanjut, saat tali persahabatan berakhir.

Kondisi ini yang akhirnya menyebabkan perasaan sedih ketika persahabatan berakhir tidak bisa relate dengan banyak orang, yang bikin kita menutup diri dan memperlambat proses penyembuhan.

Friendship breakup memang jarang dibicarakan, tapi bukan berarti rasa sakitnya kurang nyata. Kalau sedang mengalaminya, ingatlah bahwa rasa sedih, bingung, bahkan kehilangan arah, adalah hal yang wajar. Memberi diri sendiri waktu untuk berduka, tanpa perlu buru-buru menyalahkan diri sendiri, adalah langkah pertama menuju penyembuhan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura

Related Articles

See More