Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Campur Tangan Keluarga Bisa Memengaruhi Hubungan Pasutri?

4 min read
Campur Tangan Keluarga Bisa Memengaruhi Hubungan Pasutri?
ilustrasi berdiskusi dengan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Campur tangan keluarga dapat mengurangi kemandirian pasutri dalam mengambil keputusan, karena pasangan lebih sering mencari persetujuan keluarga daripada berdiskusi berdua.
  • Masalah rumah tangga yang dibawa ke keluarga berisiko membesar akibat informasi sepihak, memicu konflik antarkeluarga, serta membuat salah satu pasangan merasa tidak didukung.
  • Keterlibatan berlebihan dapat mengaburkan privasi dan menghambat pasangan membangun pola rumah tangga sendiri; komunikasi serta batas sehat diperlukan untuk menjaga keharmonisan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menikah bukan berarti seseorang langsung memutus hubungan dengan keluarganya. Orangtua, saudara, atau anggota keluarga lain tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan setelah pernikahan. Akan tetapi, kedekatan tersebut bisa menjadi rumit ketika keluarga mulai terlalu banyak ikut menentukan urusan rumah tangga.

Campur tangan keluarga sebenarnya tidak selalu muncul karena niat buruk. Ada yang bermaksud membantu, memberikan nasihat berdasarkan pengalaman, atau sekadar ingin memastikan anaknya baik-baik saja. Masalahnya, perhatian yang terlalu jauh masuk ke urusan hubungan pasangan suami istri (pasutri) bisa bikin kurang nyaman. Yuk, kita bahas lebih dalam kenapa campur tangan keluarga bisa memengaruhi hubungan pasutri!

  1. 1. Pasangan jadi sulit mengambil keputusan sendiri

    ilustrasi suami dan istri pusing soal uang
    ilustrasi suami dan istri pusing soal uang (vecteezy.com/nuttawan jayawan)

    Setelah menikah, suami dan istri perlu belajar membuat keputusan sebagai satu tim. Mulai dari mengatur keuangan, menentukan tempat tinggal, mengasuh anak, sampai memilih cara menyelesaikan masalah sehari-hari. Ketika keluarga terlalu sering memberikan arahan, pasangan bisa kehilangan ruang untuk belajar mengambil keputusan sendiri. Setiap ada persoalan, mereka mungkin lebih dulu mencari persetujuan orangtua daripada membicarakannya berdua.

    Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat membuat hubungan terasa kurang mandiri karena pasangan terbiasa melibatkan keluarga dalam berbagai keputusan. Salah satu pihak juga bisa merasa bahwa pendapatnya tidak cukup penting dalam rumah tangga. Terlebih jika keputusan akhir justru lebih sering mengikuti keinginan atau pertimbangan keluarga.

  2. 2. Masalah kecil bisa menjadi konflik yang lebih besar

    ilustrasi berdiskusi dengan keluarga
    ilustrasi berdiskusi dengan keluarga (pexels.com/Alexy Almond)

    Perselisihan dalam rumah tangga sebenarnya adalah hal yang wajar. Tidak semua perbedaan pendapat harus dianggap sebagai tanda hubungan sedang bermasalah. Namun, situasinya bisa berbeda ketika masalah tersebut langsung dibawa kepada keluarga masing-masing. Persoalan yang awalnya hanya terjadi antara suami dan istri akhirnya diketahui banyak orang dan mendapat berbagai penilaian.

    Keluarga mungkin hanya mendengar cerita dari satu sisi. Akibatnya, mereka bisa memberikan pembelaan atau nasihat berdasarkan informasi yang belum tentu lengkap. Konflik yang seharusnya bisa selesai setelah pasangan berdiskusi malah berkembang menjadi persoalan antarkeluarga.

  3. 3. Salah satu pasangan bisa merasa tidak dibela

    ilustrasi istri menemani suami yang sedang merasa sedih
    ilustrasi istri menenangkan suami yang sedang merasa sedih (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Campur tangan keluarga dapat menjadi lebih sensitif ketika salah satu pasangan merasa suaminya atau istrinya selalu berpihak kepada keluarga asal. Misalnya, ketika terjadi perbedaan pendapat antara istri dan ibu mertua, suami langsung membela ibunya tanpa terlebih dahulu mendengarkan penjelasan istrinya. Begitu juga sebaliknya, ketika suami memiliki masalah dengan keluarga istrinya, sang istri justru menganggap keluarganya tidak mungkin salah.

    Situasi semacam ini bisa menimbulkan perasaan sendirian dalam hubungan. Pasangan bisa merasa tidak diprioritaskan dan tidak didukung. Lebih parahnya lagi, ia bisa merasa tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga.

  4. 4. Batas privasi dalam rumah tangga menjadi kabur

    ilustrasi berdiskusi dengan mertua
    ilustrasi berdiskusi dengan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)

    Setiap pasangan tentu memiliki hal-hal yang tidak perlu diketahui keluarga besar. Masalah keuangan, pertengkaran, kehidupan seksual, pengasuhan anak, hingga persoalan pribadi seharusnya bisa menjadi wilayah yang disepakati bersama. Ketika salah satu pasangan terbiasa menceritakan semua masalah rumah tangga kepada orangtua atau saudara, batas privasi tersebut perlahan bisa menghilang. Keluarga akhirnya mengetahui terlalu banyak hal tentang hubungan yang sebenarnya bukan urusan mereka.

    Ini juga bisa membuat pasangan merasa tidak aman untuk terbuka. Ia mungkin takut setiap perkataan atau kesalahan yang dilakukan akan kembali diceritakan kepada keluarga. Ini selanjutnya memengaruhi kedekatan antara suami dan istri.

  5. 5. Hubungan suami istri kehilangan ruang untuk berkembang

    ilustrasi orangtua sedang menasihati anaknya
    ilustrasi orangtua sedang menasihati anaknya (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Setiap rumah tangga memiliki dinamika yang unik. Cara pasangan mengatur uang, membagi pekerjaan rumah, mengasuh anak, atau menyelesaikan konflik tidak harus sama dengan keluarga mereka. Jika terlalu sering dibandingkan dengan rumah tangga orangtua atau saudara, pasangan bisa kesulitan menemukan pola yang cocok untuk dirinya sendiri. Kalimat seperti “Dulu Mama juga begini” atau “Kakakmu saja bisa begitu” mungkin terdengar sederhana, tetapi bisa membuat seseorang merasa terus-menerus dinilai. Padahal, pasangan membutuhkan kesempatan untuk membuat kesalahan, berdiskusi, lalu menemukan cara mereka sendiri dalam menjalani rumah tangga.

    Campur tangan keluarga bisa memengaruhi hubungan pasutri, bukan karena keluarga adalah sumber masalah. Persoalannya sering kali muncul ketika batas, privasi, dan kewenangan dalam rumah tangga tidak jelas. Selama pasangan mampu membangun komunikasi dan menentukan batas yang sehat, hubungan dengan keluarga besar tetap bisa berjalan tanpa mengorbankan keharmonisan rumah tangga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More