Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Menyikapi Pasangan yang Pulang ke Rumah Ortu saat Ada Masalah

5 min read
Cara Menyikapi Pasangan yang Pulang ke Rumah Ortu saat Ada Masalah
ilustrasi pergi setelah bertengkar (pexels.com/Alena Darmel)
  • Saat pasangan pulang ke rumah orangtua setelah konflik, lakukan introspeksi dan pastikan tidak ada kekerasan fisik, verbal, maupun finansial yang mendorongnya mencari perlindungan.
  • Hadapi orangtua pasangan dengan berani dan sopan, lalu sampaikan permintaan maaf secara langsung sesuai kesalahan serta janji tulus untuk tidak mengulanginya.
  • Hormati kebutuhan pasangan untuk menenangkan diri atau dijemput, sambil membangun privasi rumah tangga dan tidak selalu memaknai kepulangannya ke rumah orangtua secara negatif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jangankan pasangan suami istri, lajang saja pasti memiliki masalah. Bedanya, single gak punya lawan untuk bertengkar soal persoalan pribadinya. Sementara itu, pasutri bisa ribut soal apa saja karena ada dua orang dengan keinginan berbeda, perasaan masing-masing, dan sebagainya.

Saat kamu dan suami atau istri bertengkar, apa yang biasa terjadi setelahnya? Apakah kalian cuma perang dingin di dalam rumah atau dia sampai pulang ke rumah orangtua? Kalau pasangan pergi meninggalkanmu dan menuju rumah ayah serta ibunya, dapat timbul masalah baru.

Dirimu mungkin merasa sikapnya berlebihan. Mertuamu juga bisa mencampuri persoalan kalian. Kamu pun merasa malu apabila tetangga tahu istri atau suamimu sampai mengungsi ke rumah orangtuanya. Bagaimana cara menyikapi pasangan yang pulang ke rumah ortu saat ada masalah agar tidak bikin keributan lebih lanjut?

  1. 1. Pastikan kamu tidak melakukan KDRT sebelumnya

    pasangan
    ilustrasi pasangan (pexels.com/RDNE Stock project)

    Hal pertama dan utama yang harus dilakukan olehmu ialah berintrospeksi. Pasangan bisa memilih untuk pulang ke rumah orangtua karena berbagai alasan. Namun, dari sekian penyebab yang dapat melatarbelakanginya, pastikan itu bukan tindakan KDRT darimu padanya.

    Jika kamu melakukan kekerasan fisik, verbal, atau finansial padanya, tentu dia memilih untuk berlindung di rumah orangtuanya. Contohnya, dirimu main pukul ketika kalian bertengkar. Kamu juga memaki-makinya sehingga menjatuhkan martabatnya. Atau, dirimu sengaja membuat hidupnya susah dengan menghentikan pemberian uang untuk kebutuhan sehari-hari.

  2. 2. Kamu harus berani sekaligus tetap sopan menghadapi orangtuanya

    ditinggal pasangan
    ilustrasi ditinggal pasangan (pexels.com/Alena Darmel)

    Orangtua mana pun bisa berubah seperti seekor singa yang marah ketika anaknya terancam atau tersakiti. Apalagi, penderitaan anaknya disebabkan oleh ulahmu yang sudah berjanji akan menjaganya sampai mati. Orangtua bakal meminta pertanggungjawabanmu.

    Bila perlu, dengan cara-cara yang paling keras. Kamu tidak boleh menghindari kesempatan bertemu langsung dengan mereka untuk menjelaskan duduk masalahnya. Perkara dirimu akan dimarahi atau tidak biar menjadi urusan belakangan.

    Yang terpenting, kamu berani mengetuk pintu rumah mereka. Jangan khawatir, selama kesalahanmu tak terlalu fatal, pasti mertua gak bakal kejam padamu. Terlebih, dirimu sudah menunjukkan niat baik buat datang ke sana dan mengajak anaknya pulang. Bersikaplah sopan supaya mertua punya alasan untuk tetap mempertahankan respeknya padamu.

  3. 3. Sampaikan permintaan maaf sesuai kesalahan dan janji sepenuh hati

    pasangan
    ilustrasi pasangan (pexels.com/willy WFT)

    Lantaran masalahnya antara dirimu dengan pasangan, maka paling tepat permohonan maaf dan janji ini langsung disampaikan padanya. Kalau bisa, maksud ini jangan diutarakan lewat chat atau telepon. Lebih afdal bila kalian bisa duduk bersama.

    Gak apa-apa, di situ juga ada mertuamu. Yang terpenting, istri atau suamimu mendengar langsung permintaan maafmu. Ini sangat penting supaya hatinya melunak dan rasa percaya padamu bisa kembali.

    Dia gak akan mau pulang jika dirimu belum meminta maaf sesuai dengan kesalahan yang dilakukan. Selain permintaan maaf, ia juga butuh diyakinkan dengan janji bahwa kamu tak akan mengulangi suatu perbuatan. Pastikan dirimu mengucapkannya dengan kebulatan tekad.

  4. 4. Katakan bahwa rumah tangga kalian butuh privasi dan kasihan orangtua

    pasangan
    ilustrasi pasangan (pexels.com/Trần Quốc Bảo)

    Setelah kamu punya kesempatan berbicara berdua saja dengan pasangan, waktunya masuk ke tahap ini. Kalian mesti berbicara sebagai dua individu dewasa. Dirimu dapat menjadi yang pertama memulainya.

    Pasanganmu mungkin masih kesal. Namun, ia perlu paham betul bahwa kehidupan rumah tangga berbeda dengan kehidupan semasa kalian belum menikah. Sebagai keluarga yang mandiri, kalian perlu sama-sama membangun privasi yang sehat.

    Bukan berarti baik dia maupun kamu sama sekali tak boleh berbagi cerita dan minta petunjuk pada orangtua masing-masing. Banyaknya pengalaman hidup mereka tentu dapat sangat berguna. Akan tetapi, itu tak berarti siapa pun di antara kalian perlu berlari pulang ke rumah orangtua saat ada persoalan rumah tangga. Selain privasi kalian, kasihan orangtua kalau harus terus ikut memikirkan masalah-masalah itu.

  5. 5. Pahami keinginannya untuk tenang dulu atau langsung dijemput

    bertengkar
    ilustrasi bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)

    Sebagai pasangan, kamu seharusnya paham dia tipe seperti apa. Terlebih, ini bukan pertama kalinya pasangan kabur ke rumah orangtuanya sehabis kalian ribut. Apakah pengalaman yang sudah-sudah menunjukkan ia bakal tambah marah kalau dijemput cepat-cepat?

    Jika seperti itu, artinya dirimu gak perlu tergesa-gesa menyusul. Beri pasangan waktu untuk menenangkan diri. Supaya ketika nantinya kalian bertemu kembali, sudah dalam kondisi yang lebih baik serta siap saling mendengar.

    Beda lagi kalau pasanganmu tipe yang selalu ingin melihat effort-mu untuknya. Dia sangat suka merasa diperjuangkan olehmu. Ia akan merasa lebih dicintai jika kamu segera menyusul dan mengajaknya pulang. Meski nanti dia seolah-olah menolak, itu cuma buat menutupi gengsinya. Bujuk sedikit lagi dan dia akan pulang bersamamu dengan suasana hati yang lebih baik.

  6. 6. Jika mertua kalem dan pasangan cuma pergi sebentar biarkan saja

    bertengkar
    ilustrasi bertengkar (pexels.com/Diva Plavalaguna)

    Tidak semua keputusan pasangan untuk pulang ke rumah orangtua ketika mereka ada masalah perlu disikapi dengan terburu-buru. Ada kalanya pilihan pasangan justru yang terbaik. Daripada kalian ribut terus di rumah mending salah satu pergi dulu. Entah beberapa jam atau 1 sampai 2 hari.

    Perginya juga cuma ke rumah orangtua sendiri. Ini jauh lebih aman ketimbang ia bepergian gak jelas tujuannya dalam kondisi pikiran kalut. Salah-salah, malah terjadi kecelakaan di jalan atau dia bertemu orang yang hanya berpura-pura baik, padahal hendak memanfaatkannya.

    Bila mertuamu sekadar membuka pintu rumah untuk anaknya dan tetap menghargai privasi keluarga kalian, biarkan saja dulu. Dirimu tak perlu buru-buru menjemputnya atau menyalahkan pasangan. Selain kamu, wajar orangtua masih menjadi tempatnya bersandar yang paling nyaman.

    Keputusan pasangan untuk kembali ke rumah orangtua jangan selalu dimaknai negatif. Jika kamu bingung, cara menyikapi pasangan yang pulang ke rumah ortu saat ada masalah bisa dicoba. Pahami dulu alasannya sampai merasa perlu melakukan hal tersebut. Boleh jadi ulahmu menjadi penyebab utamanya. Instrospeksi, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More