Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tanda Ekspektasimu terhadap Pasangan mulai Tidak Realistis

4 min read
5 Tanda Ekspektasimu terhadap Pasangan mulai Tidak Realistis
ilustrasi pasangan (unsplash.com/note thanun)
  • Ekspektasi mulai tidak realistis saat kamu kecewa karena pasangan tidak menebak kebutuhan yang belum pernah disampaikan, seperti bantuan, perhatian, atau waktu bersama.
  • Perubahan jadwal akibat pekerjaan tidak selalu berarti perasaan berkurang; menuntut pola perhatian lama saat kondisi berubah dapat membebani pasangan.
  • Standar hubungan bisa tidak sehat ketika dipengaruhi perbandingan dengan pasangan lain, keputusan pasangan harus mengikuti caramu, atau semua rencana selalu menyesuaikan jadwalmu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semakin lama pacaran, biasanya semakin banyak hal tentang pasangan yang kamu tahu. Kebiasaan yang dulu terlihat sepele bisa terasa mengganggu setelah dilakukan berulang kali, sementara hal yang dulu kamu anggap penting ternyata tidak terlalu berpengaruh pada hubungan. Dari sini, ekspektasi terhadap pasangan juga bisa berubah tanpa kamu sadari.

Masalahnya, ada kalanya kamu tetap meminta pasangan memenuhi sesuatu yang sebenarnya sudah tidak masuk akal dengan keadaan kalian sekarang. Bukan karena keinginanmu terlalu besar, tetapi karena kamu terus memakai patokan yang sama untuk situasi yang sudah berbeda. Yuk, cek apakah beberapa tanda ekspektasimu terhadap pasangan mulai tidak realistis berikut ini mulai ada di hubunganmu!

  1. 1. Kesal karena pasangan tidak melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu minta

    ilustrasi kesal
    ilustrasi kesal (vecteezy.com/Natallia Krechka)

    Kamu berharap pasangan ingat tanggal tertentu, menawarkan bantuan saat kamu sedang sibuk, atau tahu kapan kamu sebenarnya ingin ditemani. Ketika hal itu tidak dilakukan, kamu bisa langsung merasa kecewa meski sebelumnya tidak pernah mengatakan apa yang kamu harapkan. Akhirnya, pasangan dianggap kurang peka hanya karena dia tidak melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu bicarakan.

    Padahal, pasangan bukan orang yang bisa otomatis tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kalau kamu memang membutuhkan bantuan atau ingin diperlakukan dengan cara tertentu, bilang saja. Menunggu dia menebak lalu kecewa ketika tebakannya salah justru bikin kamu dan pasangan sama-sama capek menghadapi masalah yang sebenarnya bisa dibicarakan sejak awal.

  2. 2. Marah ketika pasangan tidak lagi punya waktu sebanyak dulu

    ilustrasi marah
    ilustrasi marah (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Dulu kamu dan pasangan bisa bertemu hampir setiap hari atau menelepon sampai larut malam. Sekarang salah satu dari kalian mendapat pekerjaan baru dengan jam pulang yang lebih malam, sehingga waktu bertemu ikut berkurang. Kamu kemudian merasa hubungan kalian berubah dan menganggap pasangan sudah tidak memberikan perhatian seperti dulu.

    Padahal, yang berubah bisa saja memang waktunya, bukan perasaannya. Dulu dia pulang kerja pukul lima sore dan bisa langsung mengajakmu makan. Sekarang mungkin baru sampai rumah pukul delapan malam. Kalau setiap perubahan jadwal langsung dianggap sebagai berkurangnya rasa sayang, pasangan akhirnya harus terus membuktikan perhatian dengan cara yang sama seperti ketika kalian punya lebih banyak waktu luang.

  3. 3. Kecewa karena pasangan tidak mengikuti saranmu

    ilustrasi kecewa
    ilustrasi kecewa (pexels.com/RDNE Stock project)

    Kamu menyarankan pasangan mencari pekerjaan baru karena menurutmu gajinya sekarang terlalu kecil. Setelah beberapa bulan, dia benar-benar pindah pekerjaan, tetapi memilih perusahaan yang menawarkan kesempatan belajar lebih besar meski kenaikan gajinya tidak terlalu banyak. Bukannya lega karena dia sudah mengambil langkah, kamu malah tetap menganggap keputusannya kurang bagus.

    Hal serupa bisa terjadi ketika kamu menyuruh pasangan untuk mulai menabung, olahraga, melanjutkan kuliah, atau belajar sesuatu yang baru. Kamu berharap dia berubah, tetapi ketika caranya tidak seperti yang kamu bayangkan, hasilnya tetap dianggap kurang. Kalau begitu, yang kamu tunggu sebenarnya bukan sekadar perubahan dari pasangan, melainkan dia melakukan perubahan dengan cara yang kamu pilih.

  4. 4. Mulai merasa pasangan kurang hanya setelah melihat hubungan orang lain

    ilustrasi hubungan
    ilustrasi hubungan (pexels.com/Josh Willink)

    Setelah melihat teman mendapat bunga dari pacarnya, kamu tiba-tiba bertanya kenapa pasanganmu tidak pernah memberimu bunga. Setelah melihat pasangan lain rutin pergi berdua setiap akhir pekan, kamu mulai menghitung sudah berapa lama kamu dan pasangan tidak melakukan hal yang sama. Padahal, sebelum melihat itu semua, kamu tidak pernah menganggap bunga atau liburan mingguan sebagai masalah.

    Hal seperti ini bisa membuat standar “pasangan yang baik” berubah-ubah. Minggu ini kamu merasa kurang karena tidak pernah diberi hadiah, minggu berikutnya karena jarang diajak makan di tempat bagus, lalu muncul lagi persoalan lain setelah melihat unggahan pasangan orang lain. Kalau keinginan baru terus muncul setiap kali melihat hubungan orang lain, coba berhenti sebentar dan pikirkan apakah kamu memang menginginkannya atau hanya sedang iri dengan apa yang terlihat.

  5. 5. Kamu ingin pasangan selalu menyesuaikan diri dengan jadwalmu

    ilustrasi pasangan
    ilustrasi pasangan (pexels.com/Timur Weber)

    Kamu bisa pergi bersama teman kapan saja, mengambil lembur ketika dibutuhkan kantor, atau membuat rencana liburan tanpa banyak berpikir. Namun, ketika pasangan tidak bisa datang karena ada acara keluarga atau pekerjaan, kamu merasa dia seharusnya bisa mencari waktu. Bahkan untuk hal sederhana seperti menentukan waktu bertemu, kamu terbiasa meminta pasangan untuk menyesuaikan jadwal.

    Sekali dua kali tentu bukan masalah. Tetapi kalau hampir setiap rencana harus mengikuti waktumu, sementara kesibukan pasangan selalu dianggap alasan, lama-lama hubungan hanya berjalan dari satu arah. Kamu tidak harus membatalkan semua kegiatan demi pasangan, tetapi pasangan juga tidak seharusnya selalu menjadi orang yang diminta mengalah ketika jadwal kalian bentrok.

    Punya keinginan soal cara pasangan memperlakukanmu tentu bukan masalah. Justru yang bikin repot adalah ketika pasangan selalu dianggap salah setiap kali pilihannya tidak sesuai dengan keinginanmu. Dari lima tanda ekspektasimu terhadap pasangan mulai tidak realistis, adakah yang ternyata relate sama hubungan kalian?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More