ilustrasi pasangan ceria setelah berdebat (pexels.com/Danu Hidayatur Rahman)
Seperti ada kepuasan semu ketika kamu berhasil mengirim last chat dalam pertengkaran, seolah-olah memiliki kata terakhir adalah sebuah tanda kemenangan. Siklus saling membalas hanya demi membantah ini justru menjebak kamu dan pasangan dalam kompetisi debat yang tak bermakna.
Padahal, hubungan yang sehat tak pernah memberikan medali bagi siapa yang argumennya paling tajam atau paling akhir terkirim. Setelah emosi mereda, ubahlah fokus dari mencari siapa yang salah menjadi menemukan apa yang perlu diperbaiki bersama.
Kamu dan pasangan tidak harus selalu memiliki sudut pandang yang identik, tetapi kalian bisa menyepakati satu kompromi tanpa perlu mengabaikan perasaan satu sama lain. Tujuan konflik yang ideal bukanlah untuk membuat salah satu pihak merasa kalah, melainkan agar kedua belah pihak pulang dengan pemahaman yang lebih dalam.
Dengan begitu, sebelum menyudahi percakapan, pastikan kedua belah pihak merasa didengar dan memegang langkah konkret yang sudah disepakati bersama. Melempar masalah lalu hilang, atau menutup chat dengan kata "terserah" hanya akan menumpuk kemarahan terselubung yang siap meledak di kemudian hari.
Intinya, fexting bukanlah musuh utama dalam sebuah hubungan, melainkan ego yang lupa untuk saling menghargai sebagai pasangan di balik layar. Padahal, menjaga perasaan satu sama lain jauh lebih penting daripada sekadar merasa yang paling benar.