Perspektif tersebut selaras dengan pandangan Rachel Gersten, co-founder Viva, dalam VeryWell Mind, “Kita selalu berada dalam proses untuk terus berkembang, dan kita juga selalu cukup, keduanya bisa benar pada saat yang bersamaan”.
Kapan Waktunya Merasa Cukup dan Berhenti Mengejar Segalanya?

- Keinginan terus mengejar lebih banyak dapat dipicu adaptasi hedonis; kebahagiaan setelah mencapai sesuatu memudar dan memunculkan dorongan baru.
- Rasa cukup mencakup memahami kebutuhan, tidak mengukur harga diri dari produktivitas, pencapaian, kepemilikan, atau validasi orang lain.
- Menyeimbangkan penerimaan diri dan pengembangan diri membantu menentukan tujuan berdasarkan nilai pribadi, bukan standar eksternal yang tidak realistis.
Ketika menginginkan sesuatu, kamu mungkin akan terus mengupayakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Membangun karier, mengejar kekayaan, atau menambah ilmu pengetahuan bisa menjadi dorongan untuk terus mencapai sesuatu. Fokus untuk mendapatkan lebih banyak sering membuatmu merasa masih ada yang harus dicapai, diperoleh, atau dibuktikan.
Kamu terus terdorong untuk melakukan sesuatu karena terasa belum menemukan akhirnya. Mencurahkan seluruh kemampuan, energi, dan waktu untuk segera mencapai puncaknya. Namun, pernahkah kamu berhenti sejenak dan bertanya, kapan saatnya merasa cukup dan berhenti mengejar hal-hal ini? Ada kalanya kamu harus berpikir tentang menyerah atau merasa cukup, namun tak semua tindakan bisa diperlakukan sama. Inilah tanda kamu sebaiknya berhenti mengejar segalanya menurut ahli.
1. Pahami apa makna cukup

ilustrasi self-love (pexels.com/Andrea Piacquadio) Menurut scholar dan pembicara kesehatan mental, Robyne Hanley Dafoe dalam Psychology Today, manusia dirancang untuk terus berjuang dan mencari sesuatu yang lebih baik atau berbeda demi menjaga diri sendiri. Hal ini berkaitan dengan fenomena adaptasi hedonis, yaitu ketika seseorang berusaha mencapai sesuatu, berhasil mendapatkannya, lalu merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Seiring waktu, perasaan tersebut perlahan memudar sehingga muncul keinginan untuk kembali mengejar sesuatu yang baru.
Namun, Robyne berpikir bahwa masalahnya bukan menginginkan lebih banyak, melainkan membutuhkan lebih banyak karena manusia cenderung merasa tidak puas. Ada tiga hal yang perlu dipikirkan, menurut Robyne, yakni having enough, doing enough, dan being enough.
Having enough artinya menyadari apa yang sebenernya kita butuhkan. Artinya, ketika kita melakukan sesuatu bukan atas keyakinan bahwa dengan memiliki lebih banyak akan membuat kota merasa lebih aman atau sempurna.
Doing enough berarti nilai diri tidak ditentukan dari seberapa banyak hal yang berhasil diselesaikan, hal ini berkaitan dengan produktivitas dan kontribusi yang kita berikan. Dengan menerapkan doing enough, kita menyadari tidak seharusnya memaksakan diri hingga kelelahan demi membuktikan bahwa kita berharga.
Terakhir adalah being enough yang berarti terlepas dari pencapaian, kepemilikan, atau validasi dari orang lain, kita memiliki value yang berharga. Being enough artinya tidak memaksakan untuk mendapatkan, memenangkan, dan membuktikan sesuatu.
2. Merasa 'cukup' akan membuatmu lebih mengenal diri

Ilustrasi self-love membantu mendapatkan yang diinginkan (Pexel.com/Edmond Dantès) Mungkin bagi kita yang terbiasa hidup dengan ambisi besar dan keinginan untuk memenangkan sesuatu, rasa 'cukup' terdengar asing. Oleh karenanya, Robyne menyarankan untuk berhenti sejenak dan berkata jujur tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan, tidak lagi berfokus pada apa yang standar sosial katakan tentang kita.
Tanyakan pada diri sendiri, apakah saya bergerak menuju sesuatu yang saya hargai atau apakah saya mencoba mencapai sesuatu karena merasa apa yang dimiliki tidak cukup? Sebab, ada energi berbeda ketika ingin melakukan sesuatu atas dasar kemauan pribadi dengan merasa perlu melakukan sesuatu untuk merasa berharga, aman, dan sukses.
3. Bukan menyerah, kamu perlu seimbangkan hidup dengan cara ini

Ilustrasi self-love membantu mendapatkan yang diinginkan (Pexel.com/Gustavo Fring) Penting untuk memahami kapan merasa cukup. Caranya dengan menyeimbangkan self acceptance dan self improvement. Kedua elemen ini akan mengarahkan individu kemana dia harus melangkah, seperti sebuah navigasi.
Penerimaan diri dan kemauan untuk meningkatkan diri harus berjalan seimbang agar lebih memahami apa yang hendak diraih. Fokuslah pada diri sendiri, daripada mengikuti standar eksternal yang tak realistis.














![[QUIZ] Kami Tebak Gimana Mood Kamu dari Potret Rumahmu](https://image.idntimes.com/post/20260901/clay-banks-grxzodeukvg-unsplash_794dbd54-96aa-4a30-b015-b3325a3a6256.jpg)
![[QUIZ] Teman yang Bakalan Cocok denganmu dari Duo Teman Upin & Ipin](https://image.idntimes.com/post/20260904/mail3_76dc5ec4-ba9e-455f-aa60-a9d5ac28c9d0.jpg)

![[QUIZ] Adegan Kartun Favorit Ini Tebak Kamu Ekstrovert atau Introvert](https://image.idntimes.com/post/20260824/1000018626_4f21eddb-dc5f-44dd-8db8-d3dd68485bc9.jpg)



