Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

9 Puisi Sastrawan Paling 'Jleb' yang Ampuh Obati Luka Hati

9 Puisi Sastrawan Paling 'Jleb' yang Ampuh Obati Luka Hati
Photo by Uroš Jovičić on Unsplash
Share Article

Luka hati tak cuma bisa diobati dengan musik, traveling, atau nonton bioskop. Bisa juga dengan puisi. Puisi merupakan salah satu media yang ampuh untuk menyembuhkan atau setidaknya mengurangi rasa ngilu lantaran putus cinta atau sakit hati yang mendalam karena beragam persoalan. Beberapa puisi sastrawan ini, misalnya, berhasil membuat pembacanya kembali menemukan pemulihan.

  1. 1. Doa Mempelai - Joko Pinurbo

    Default Image IDN
    Default Image IDN

    Malam ini aku akan berangkat mengarungimu.

    Perjalanan mungkin akan panjang berliku
    dan nasib baik tidak selalu menghampiriku
    tapi insyaallah suatu saat
    bisa kutemukan sebuah kiblat
    di ufuk barat tubuhmu.
    (2002; kado buat Ade & Fajar)

  2. 2. Barangkali Telah Kuseka Namamu - Goenawan Mohamad

    Default Image IDN
    Default Image IDN

    Barangkali telah kuseka namamu

    dengan sol sepatu
    Seperti dalam perang yang lalu
    kauseka namaku
    Barangkali kau telah menyeka bukan namaku
    Barangkali aku telah menyeka bukan namamu
    Barangkali kita malah tak pernah di sini
    Hanya hutan, jauh di selatan, hujan pagi

  3. 3. Hatiku Selembar Daun – Sapardi Djoko Damono

    Default Image IDN
    Default Image IDN

    Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;

    nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
    ada yang masih ingin kupandang yang selama ini senantiasa luput;
    sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.

  4. 4. Di Hadapan Rahasia - Adimas Immanuel

    Default Image IDN
    Default Image IDN

    Masihkah kita harus bersengketa

    ketika hari hampir habis
    dan doa hanya menjadi ritus ala kadarnya?
    Sementara daun-daun tak sekalipun
    menebak ke mana angin akan meniupnya.
    Seperti kita manusia
    yang amat kecil di hadapan rahasia,
    yang tak sepenuhnya berkuasa
    atas jatuh-bangun kita.

  5. 5. Yang Terampas dan yang Putus - Chairil Anwar

    Default Image IDN
    Default Image IDN

    Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,

    menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
    malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
    di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
    aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
    dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
    tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
    tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

  6. 6. Kerinduan - Kahlil Gibran

    Default Image IDN
    Default Image IDN

    Merenda sebuah tali kasih

    Kusimpul menjadi satu hati
    gambaran jiwa yang terluka
    bagai langit meratap sendu
    kala bias cinta menghilang
    sakit itupun dtng tanpa permisi
    rembulan tak menyisakn senyum.
    Bersama malam, kudekap lirih arti kerinduan
    Kesendiriaan.

  7. 7. Hari Ini Seperti Juga Kemarin

    Default Image IDN
    Default Image IDN

    Hari ini seperti juga kemari

    tak lagi terbandingkan, antara nasib antara sepi
    kemudian rawan, jatuh di bumi
    lantas seperti kemarin-kemarin : matahari pagi

  8. 8. "O" – Sutardji Calzoum Bachri

    Default Image IDN
    Default Image IDN

    dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau

    resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
    raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
    mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai
    siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia
    waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas
    duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
    oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O...

  9. 9. Aku Tengah Menantimu – Sapardi Djoko Damono

    Default Image IDN
    Default Image IDN

    Aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas

    Di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
    Berapa juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu
    Yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas
    Awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu
    Musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
    Kudengar berulang suara gelombang udara memecah
    Nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah
    Telah rontok kemarau-kemarau yang tipis; ada yang mendadak
    Sepi
    Di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun
    Menanti
    Barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
    Dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama

    Dibaca, diresapi, sungguh bisa memulihkan perasaan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More