Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Friendship Breakup: Saat Pertemanan Berakhir dan Cara Menghadapinya
Ilustrasi menyendiri (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Pertemanan sering kali menjadi salah satu hubungan yang paling berharga dalam hidup. Seorang sahabat dapat menjadi tempat berbagi cerita, memberikan dukungan emosional, hingga menemani seseorang melewati berbagai fase kehidupan. Karena itu, banyak orang menganggap persahabatan sebagai hubungan yang akan bertahan lama. Namun, kenyataannya tidak semua pertemanan dapat terus berjalan seiring waktu.

Ketika sebuah persahabatan berakhir atau friendship breakup, rasa kehilangan yang muncul sering kali sama menyakitkannya dengan putus cinta. Lalu, mengapa putus pertemanan bisa begitu menyakitkan dan bagaimana cara menghadapinya dengan sehat?

1. Apa itu friendship breakup?

Ilustrasi menyendiri (Unsplash.com/Stefan Spassov)

Friendship breakup adalah kondisi ketika hubungan pertemanan berakhir secara permanen atau mengalami keretakan yang membuat kedua belah pihak tidak lagi memiliki hubungan seperti sebelumnya. Berakhirnya persahabatan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti konflik yang tidak terselesaikan, perubahan nilai hidup, hilangnya kepercayaan, kesibukan, hingga salah satu pihak merasa hubungan tersebut sudah tidak sehat.

"Putusnya persahabatan secara emosional sangat menantang, dan seringkali membuat kita merasa bingung, sakit hati, dan sendirian," kata konselor profesional La Toya Carter, LPC. dalam lamannya Mrs Toya Carter.

Meski jarang dibicarakan, friendship breakup merupakan bagian normal dari kehidupan. Seiring bertambahnya usia, perubahan prioritas, lingkungan, maupun tujuan hidup dapat membuat dua orang yang dulu sangat dekat akhirnya memilih jalan masing-masing.

2. Mengapa putus pertemanan bisa terasa sama menyakitkannya dengan putus cinta?

Ilustrasi menyendiri (pexels.com/Photo by Marta Dzedyshko)

Banyak orang menganggap putus pertemanan tidak seserius putus hubungan romantis. Padahal, kehilangan seorang sahabat juga dapat memunculkan perasaan sedih, kecewa, marah, kesepian, bahkan kehilangan identitas, terutama jika persahabatan tersebut telah terjalin selama bertahun-tahun. Perasaan ini muncul karena sahabat sering menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari dan sumber dukungan emosional.

"Kehilangan persahabatan bisa terasa menyakitkan seperti kehilangan pasangan atau duka cita, bahkan tanpa adanya kematian atau drama. Bagaimana sebuah persahabatan berakhir itu penting: konflik yang tiba-tiba memicu kemarahan, sementara ambiguitas memicu keraguan dan kesedihan," kata psikolog Loren Soeiro, Ph.D., ABPP, dikutip dari Psychology Today.

Pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa terhubung dengan orang lain. Ketika hubungan yang bermakna berakhir, kita bisa meresponsnya sebagai bentuk kehilangan sehingga wajar jika seseorang mengalami proses berduka.

“Dalam hal bagaimana kita menghadapi akhir hubungan, penelitian menyebutnya sebagai akhir yang tidak jelas, kehilangan yang ambigu, dan memiliki dampak psikologis yang mendalam,” kata profesor madya sosiologi Harry Blatterer dalam Macquarie University.

“Kita perlu memberi diri kita ruang untuk berduka atas kehilangan persahabatan, karena kita berhutang pada diri kita sendiri untuk merawat diri kita sendiri,” tambahnya.

3. Tanda-tanda pertemanan sudah tidak sehat dan sulit dipertahankan

ilustrasi bertengkar dengan sahabat (pexels.com/Liza Summer)

Tidak semua konflik dalam persahabatan harus berakhir dengan perpisahan. Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman adalah hal yang wajar selama kedua belah pihak masih memiliki keinginan untuk saling mendengarkan dan memperbaiki hubungan.

Namun, jika hubungan lebih sering menimbulkan stres daripada rasa nyaman, bisa jadi persahabatan tersebut sudah tidak lagi sehat untuk dipertahankan. Ketika hanya satu pihak yang terus berusaha, sementara pihak lain cenderung mengabaikan, memanfaatkan, atau tidak menghargai batasan pribadi, hubungan tersebut dapat berubah menjadi hubungan yang melelahkan.

"Teman sejati tidak hanya suka senangnya saja. Mereka juga menawarkan empati terhadap kekhawatiranmu, dalam keadaan baik, buruk, atau di antara keduanya," dikutip dari Healthline yang telah ditinjau oleh terapis Janet Brito, Ph.D., LCSW, CST-S.

4. Dampak friendship breakup terhadap kesehatan mental

Ilustrasi menyendiri (pexels.com/Photo by Nguyễn Thành Nhân)

Berakhirnya persahabatan dapat memicu berbagai respons emosional, seperti sedih, kecewa, marah, kesepian, hingga kehilangan rasa percaya terhadap orang lain. Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan dapat terus menyalahkan dirinya sendiri karena merasa gagal mempertahankan hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Reaksi tersebut merupakan bagian dari proses berduka yang normal ketika kehilangan hubungan yang bermakna. Rasa kehilangan bisa memunculkan berbagai respon atau perasaan seperti penolakan, kemarahan, kesedihan, kebingungan, dan lainnya.

“Kehilangan teman dekat bisa terasa seperti berduka atas kematian. Hal itu sering kali menciptakan duka cita yang ambigu, yaitu rasa sakit karena meratapi kehilangan seseorang yang masih hidup tetapi tidak lagi ada dalam hidupmu seperti yang biasa kamu alami,” kata psikoterapis Stevie Blum, LCSW, dikutip dari Very Well Mind.

"Karena persahabatan sering kali memenuhi kebutuhan penting akan rasa memiliki dan keterikatan, kehilangan ini dapat menyebabkan perasaan ditolak, keraguan diri, dan kesepian," tambah psikolog klinis Sabrina Romanoff, PsyD. dalam laman yang sama.

5. Cara menghadapi friendship breakup dengan sehat

Ilustrasi menyendiri (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Menghadapi friendship breakup bukan berarti harus segera melupakan semua kenangan atau memaksa diri untuk cepat pulih. Langkah pertama yang penting adalah menerima bahwa kehilangan seorang sahabat merupakan bentuk kehilangan yang nyata.

Memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasa sedih, kecewa, atau marah adalah bagian dari proses penyembuhan. Menekan emosi justru dapat membuat proses pemulihan berlangsung lebih lama. Memperlakukan diri sendiri dengan penuh pengertian setelah mengalami kehilangan dapat membantu seseorang lebih cepat bangkit dari pengalaman emosional yang sulit.

“Perlakukan kehilangan itu seperti peristiwa emosional penting lainnya. Izinkan dirimu untuk berduka atas kenangan bersama, koneksi, dan peran yang dimainkan orang ini dalam hidupmu,” saran Sabrina.

"Setelah putus, mudah untuk jatuh ke dalam siklus negatif menyalahkan orang lain dan bahkan diri sendiri. Tetapi daripada memfokuskan perhatianmu pada menyalahkan, akui bahwa cara kamu berdua berinteraksi satu sama lain sudah tidak lagi berhasil dan hubungan tersebut telah berakhir,” saran Stevie Blum menambahkan.

Friendship breakup merupakan pengalaman emosional yang nyata dan dapat memberikan dampak yang sama besarnya dengan putus hubungan romantis. Kehilangan seorang sahabat memang menyakitkan, tetapi bukan berarti kegagalan dalam menjalin hubungan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article