Ilustrasi menyendiri (pexels.com/Photo by Marta Dzedyshko)
Banyak orang menganggap putus pertemanan tidak seserius putus hubungan romantis. Padahal, kehilangan seorang sahabat juga dapat memunculkan perasaan sedih, kecewa, marah, kesepian, bahkan kehilangan identitas, terutama jika persahabatan tersebut telah terjalin selama bertahun-tahun. Perasaan ini muncul karena sahabat sering menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari dan sumber dukungan emosional.
"Kehilangan persahabatan bisa terasa menyakitkan seperti kehilangan pasangan atau duka cita, bahkan tanpa adanya kematian atau drama. Bagaimana sebuah persahabatan berakhir itu penting: konflik yang tiba-tiba memicu kemarahan, sementara ambiguitas memicu keraguan dan kesedihan," kata psikolog Loren Soeiro, Ph.D., ABPP, dikutip dari Psychology Today.
Pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa terhubung dengan orang lain. Ketika hubungan yang bermakna berakhir, kita bisa meresponsnya sebagai bentuk kehilangan sehingga wajar jika seseorang mengalami proses berduka.
“Dalam hal bagaimana kita menghadapi akhir hubungan, penelitian menyebutnya sebagai akhir yang tidak jelas, kehilangan yang ambigu, dan memiliki dampak psikologis yang mendalam,” kata profesor madya sosiologi Harry Blatterer dalam Macquarie University.
“Kita perlu memberi diri kita ruang untuk berduka atas kehilangan persahabatan, karena kita berhutang pada diri kita sendiri untuk merawat diri kita sendiri,” tambahnya.