Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kamu Insecure Saat Pasangan Lebih Sukses? Cek Self-esteem Kamu!
ilustrasi pasangan (pexels.comAretha Raasch)
  • Self-esteem memengaruhi cara seseorang memperlakukan diri dan pasangan, di mana rasa rendah diri bisa memicu perilaku toksik seperti mengekang atau membatasi pasangan.
  • Memiliki self-esteem sehat membantu seseorang tidak merasa terintimidasi oleh kesuksesan pasangan, sehingga hubungan lebih suportif dan tidak berubah menjadi kompetisi.
  • Orang dengan self-esteem kuat mampu menghadapi pendapat orang lain dengan santai, menghindari hubungan toksik, serta lebih siap berkomitmen secara emosional dalam hubungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Self-esteem merupakan cara kita memandang, menghargai, dan memperlakukan diri sendiri. Hal ini berpengaruh besar pada bagaimana kamu memperlakukan dan diperlakukan orang lain. Seseorang yang punya pandangan diri sehat gak akan mudah terintimidasi oleh kesuksesan, keberanian, atau kelebihan orang lain.

Sebaliknya, seseorang yang masih belum pulih gambar dirinya akan cenderung mudah tertekan saat melihat ada orang sekitarnya lebih baik. Sikap demikian mungkin gak akan terlihat saat pendekatan awal, tapi akan terungkap saat hubungan mulai menapaki jenjang serius.

Berdampak krusial, ini lho lima pengaruh punya self-esteem sehat saat bangun hubungan dengan pasangan. Jangan disepelekan, ya!

1. Gambar diri menentukan bagaimana kamu memperlakukan pasangan

ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/David Crypto)

Ada banyak cara insecurity dan rasa cemburu bermanifestasi dalam relasi. Bahkan, gak sedikit sikap toksik berawal dari rasa rendah diri. Saat merasa cemburu misalnya, alih-alih mengomunikasikan dengan terbuka, kamu malah mengekang pasangan. Saat takut merasa tertinggal, bukannya berusaha, kamu malah membatasi akses kerja doi.

Secara gak langsung, cara kamu memandang diri sendiri gak hanya berpengaruh pada bagaimana kamu memperlakukan dirimu, melainkan juga bagaimana kamu memperlakukan orang di sekitarmu. Terutama, orang terdekatmu.

2. Self-esteem sehat gak bikin insecure saat pasangan lebih sukses

ilustrasi pasangan saat kumpul keluarga (pexels.com/Vitaly Gariev)

Perasaan malu, tidak aman, gelisah saat melihat orang lain lebih sukses sebenarnya adalah perasaan yang wajar. Ini menandakan kamu gak ingin tertinggal dan akhirnya membuatmu berusaha lebih keras. Namun, bila hal ini terus dibiarkan, bisa jadi batu sandungan serius dalam hubungan.

Perasaan rendah diri bikin kamu gampang merasa tertutup bayang-bayang kesuksesan pasangan. Akhirnya, kamu gak bisa ikut senang saat pasangan senang, dan gak bisa ikut merayakan kesuksesannya dengan tulus. Tanpa disadari, ini menciptakan pola toksik dalam hubungan yang bikin pasangan terlihat sebagai kompetitor alih-alih partner hidup.

3. Bisa menyikapi pendapat orang lain dengan santai

ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Biasanya, tipe orang seperti ini selalu ingin terlihat baik dari luar. Ketika pasangannya bisa jauh lebih baik, mapan, dan sukses, ia akan mudah down ketika orang lain berpikir atau mengatakan hal negatif.

Apakah kamu salah satu tipe yang demikian? Kamu mudah overthinking, tertekan, dan stres dengan apa kata orang sampai gak bisa menikmati hubunganmu sendiri. Orang yang dewasa dan menang dari dirinya adalah orang yang santai dalam menanggapi pendapat orang.

Ia gak akan ambil pusing berlebih, karena tahu value dirinya gak ditentukan oleh apa kata orang. Kebahagiaan bukan diukur dari keberhasilan, melainkan proses yang dihidupi setiap hari.

4. Terhindar dari hubungan toksik

ilustrasi pasangan (pexels.com/RDNE Stock project)

Seseorang yang punya gambar diri yang sehat tahu dan mengenal value dirinya dengan baik. Bukan hanya dalam hubungan romansa, tapi dalam relasi pertemanan, pekerjaan, bahkan keluarga, ia tidak mudah merasa insecure terhadap orang lain.

Orang seperti ini gak akan mudah terjebak dalam relasi toksik. Ia gak akan settle dengan orang yang memperlakukan dirinya dengan tidak baik.

5. Serius saat komitmen dengan seseorang

ilustrasi pasangan (pexels.com/Thomas Benedetti)

Bagaimana kita memperlakukan orang lain adalah refleksi dari bagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Seseorang yang menghargai dirinya juga pasti akan menghargai orangdi sekitarnya, terlebih orang yang ia cinta.

Jangan tergesa-gesa untuk mengiyakan ajakan komitmen saat diri sendiri belum matang secara emosional. Kamu perlu tahu cara mengendalikan dirimu, agar gak sembarangan ambil keputusan saat dihadapkan situasi yang sulit.

Ternyata, rasa percaya diri dapat berpengaruh pada hubungan yang kita bangun. Jadi jangan sembarangan, pastikan diri sendiri sudah beres sebelum menjalin komitmen serius dengan orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article