Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Banyak Anak Muda Takut Komitmen? Alasannya Cukup Rumit
Ilustrasi pasangan (unsplash.com/Photo by Egor Ivlev)

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, semakin banyak anak muda yang mengaku takut menjalani hubungan dengan komitmen jangka panjang. Ketakutan ini tidak hanya terlihat dalam hubungan asmara, tetapi juga dalam keputusan menikah, membangun keluarga, hingga menetapkan rencana hidup bersama pasangan.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan: apakah generasi sekarang memang enggan berkomitmen, atau justru lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar? Simak pembahasannya di bawah ini.

1. Takut terluka akibat pengalaman masa lalu

Ilustrasi merenung (pexels.com/Alexey Demidov)

Salah satu penyebab paling umum seseorang menghindari komitmen adalah pengalaman emosional yang pernah menyakitkan. Kegagalan hubungan sebelumnya, perselingkuhan, atau pengkhianatan dapat meninggalkan trauma yang membuat seseorang lebih berhati-hati saat membuka hati kembali.

"Otak kita dirancang untuk melindungi kita dari rasa sakit. Jika kamu pernah terluka sebelumnya, kamu mungkin mencoba untuk melindungi diri dari trauma lebih lanjut,"jelas psikolog klinis Dr. Chris Mosunic, PhD, RD, MBA dikutip dari Calm.

"Ketakutan akan komitmen cukup umum, dan bertentangan dengan apa yang mungkin kamu pikirkan, itu tidak berarti kamu rusak atau tidak mampu mencintai. Ini mungkin mengharuskan kamu untuk mempertimbangkan kembali definisi komitmen menurutmu," lanjutnya.

2. Ingin mempertahankan kebebasan dan ruang pribadi

Ilustrasi merenung (pexels.com/ivi nnnnnn)

Banyak anak muda saat ini memprioritaskan pengembangan diri, karier, pendidikan, atau hobi sebelum membangun hubungan yang serius. Mereka khawatir komitmen akan membatasi pilihan hidup dan mengurangi kesempatan untuk mengejar tujuan pribadi.

"Jika kamu telah bekerja keras untuk membangun kehidupan yang kamu cintai, kamu mungkin khawatir bahwa hubungan serius akan menghilangkan kebebasanmu, rutinitasmu, dan kemampuanmu untuk membuat keputusan tanpa harus meminta persetujuan siapa pun. Komitmen bisa terasa seperti menyerahkan sebagian dari dirimu kata Mosunic.

Ketakutan kehilangan identitas atau kebebasan sering membuat seseorang menunda komitmen. Padahal, dalam hubungan yang sehat, komitmen dan kemandirian tidak harus saling bertentangan apabila dibangun dengan komunikasi dan saling menghormati.

3. Tekanan ekonomi membuat masa depan terasa tidak pasti

Ilustrasi merenung (pexels.com/cottonbro studio)

Faktor ekonomi juga menjadi alasan penting di balik ketakutan berkomitmen. Harga rumah yang tinggi, biaya hidup yang meningkat, dan persaingan kerja membuat sebagian anak muda merasa belum memiliki kondisi finansial yang cukup stabil untuk membangun hubungan jangka panjang.

"Banyak yang menunda atau mempertimbangkan kembali komitmen, didorong oleh ketidakpastian ekonomi, dinamika gender yang berkembang, dan pergeseran gagasan tentang apa artinya membangun keluarga," demikian laporan IDN Research Institute 2026.

Situasi ini menunjukkan bahwa rasa takut berkomitmen tidak selalu disebabkan oleh masalah emosional. Dalam banyak kasus, seseorang justru ingin memastikan dirinya mampu memberikan kehidupan yang layak sebelum melangkah ke tahap hubungan yang lebih serius.

 

4. Terlalu banyak pilihan di era digital

Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)

Media sosial dan aplikasi kencan membuat orang dapat berkenalan dengan calon pasangan baru hanya dalam hitungan menit. Di satu sisi hal ini memperluas kesempatan bertemu orang yang cocok, tetapi di sisi lain juga memunculkan perasaan bahwa selalu ada pilihan yang lebih baik.

Semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin sulit seseorang mengambil keputusan yang memuaskan. Hal ini bisa saja memicu keraguan untuk berkomitmen karena seseorang terus bertanya-tanya apakah ada pasangan yang lebih cocok di luar sana.

5. Takut salah memilih pasangan untuk jangka panjang

Kenapa Banyak Anak Muda Takut Komitmen? Alasannya Cukup Rumit

Komitmen sering dipandang sebagai keputusan besar yang berdampak pada masa depan. Tidak mengherankan jika sebagian anak muda merasa cemas mengambil langkah tersebut karena takut membuat pilihan yang keliru.

"Beberapa orang suka menjaga pilihan mereka tetap terbuka karena mereka takut membuat keputusan yang salah. Tekanan untuk membuat pilihan yang 'benar' ini bisa melumpuhkan," jelas Mosunic.

"Berkomitmen pada seseorang bisa terasa menakutkan, tetapi tidak apa-apa. Jika kamu merasa seperti ini, cobalah untuk tidak menghakimi diri sendiri, memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan, atau berpura-pura bahwa ketakutanmu tidak ada. Sebaliknya, cobalah untuk memahami apa yang terjadi dan cobalah untuk belajar bagaimana mengelola perasaanmu dengan cara yang terasa aman, dan sesuai dengan dirimu," saran Mosunic.

Ketakutan terhadap komitmen di kalangan anak muda merupakan fenomena yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pengalaman pribadi, kebutuhan akan kebebasan, tekanan ekonomi, hingga perubahan budaya akibat perkembangan teknologi digital. Tidak semua orang yang takut berkomitmen berarti tidak serius menjalin hubungan; sebagian justru sedang berusaha melindungi diri dari risiko emosional atau mempertimbangkan masa depan dengan lebih matang.

Editorial Team

Related Article