ilustrasi kekaguman yang salah tempat (pexels.com/Yan Krukau)
Salah satu alasan pujian diarahkan ke pasangan merupakan asumsi bahwa penyintas menjadi beban dalam sebuah perkawinan. Komentar spontan seperti, “Hebat, ya, pasangannya mau menerima,” muncul dari anggapan bahwa kisah kelam membuat nilai seseorang turun. Pandangan miring seperti ini membuat penyintas kehilangan haknya sebagai pusat kisah yang dialami tubuh dan pikirannya sendiri. Ia tidak dilihat sebagai seseorang yang selayaknya dihormati tanpa syarat.
Jika penghargaan diarahkan tepat sasaran, penyintas akan mendengar kalimat sederhana seperti, “Kamu luar biasa sudah berani terbuka tentang ini.” Pujian semacam ini membuat penyintas merasa dirinya dilihat sebagai manusia yang tetap utuh. Sementara, pasangan dapat dihargai seperlunya tanpa melampaui tokoh utama dalam cerita. Dengan begitu, publik bisa mulai belajar mana yang layak diberi sorotan.
Pujian terhadap pasangan sering terdengar, tetapi malah mengerdilkan perjuangan dari penyintas yang sudah melalui proses panjang. Perlu waktu agar orang memahami bahwa keberanian penyintas patut mendapat apresiasi, jangan sampai kalah oleh rasa kagum yang salah tempat. Kalau kelak kamu mendengar kisah serupa, kira-kira komentarmu akan jatuh ke mana?