Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Orang Single Dianggap Mau Dijodohkan dengan Siapa Saja?

5 min read
Kenapa Orang Single Dianggap Mau Dijodohkan dengan Siapa Saja?
ilustrasi perempuan single (pexels.com/KoolShooters)
  • Status single kerap disalahartikan sebagai tanda sedang mencari pasangan, sehingga tawaran perjodohan muncul tanpa menanyakan keinginan atau kesiapan pribadi.
  • Tekanan usia menikah membuat orang lajang dianggap harus menerima calon yang tersedia, padahal usia tidak seharusnya mengabaikan standar, ketertarikan, dan pilihan pribadi.
  • Perjodohan sering hanya menilai pekerjaan atau penampilan, bahkan mengabaikan status hubungan dan preferensi; kesediaan serta kecocokan kedua pihak perlu dihormati.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Status single sering kali dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sedang membutuhkan pasangan dan siap menerima siapa pun yang datang. Orang yang belum menikah atau belum memiliki kekasih terkadang diperlakukan seolah-olah sedang menunggu untuk dijodohkan, padahal belum tentu ada keinginan untuk mencari hubungan baru. Situasi ini makin terasa ketika teman, keluarga, atau rekan kerja mulai menawarkan kenalan tanpa lebih dulu menanyakan apakah perjodohan tersebut memang diinginkan.

Pola pikir seperti ini biasanya berangkat dari anggapan bahwa orang yang sudah cukup umur menurut standar masyarakat pasti ingin segera memiliki pasangan. Sosok yang masih lajang seakan-akan dianggap tidak punya banyak pilihan, sehingga siapa pun yang kebetulan tersedia bisa langsung ditawarkan sebagai calon. Yuk, pahami kenapa status single sering disalahartikan sebagai kesiapan untuk dijodohkan dengan siapa saja!

  1. 1. Status single dianggap sebagai tanda sedang mencari pasangan

    ilustrasi mencari pasangan
    ilustrasi mencari pasangan (pexels.com/Tùng Sơn)

    Sebagian orang masih kesulitan membedakan seseorang yang belum memiliki pasangan dengan seseorang yang sedang aktif mencari pasangan. Status single sering langsung diterjemahkan sebagai kondisi kesepian atau keinginan untuk segera menjalin hubungan romantis. Padahal, seseorang bisa saja sedang menikmati kehidupan pribadinya, fokus membangun karier, atau memang belum menemukan orang yang membuatnya tertarik untuk menjalin hubungan.

    Anggapan tersebut membuat perjodohan kerap dilakukan tanpa persetujuan yang jelas dari orang yang bersangkutan. Ketika ada kenalan yang masih lajang, tawaran untuk memperkenalkan seseorang bisa langsung diberikan meskipun belum pernah ada pembicaraan mengenai keinginan mencari pasangan. Kalimat seperti "Kamu kan masih sendiri, mau dikenalin sama teman aku?" mungkin terdengar biasa, tetapi bisa terasa mengganggu ketika terus dilontarkan seolah-olah status single merupakan undangan terbuka untuk siapa saja.

  2. 2. Usia dianggap sebagai alasan untuk menerima siapa saja

    ilustrasi ulang tahun ke-30
    ilustrasi ulang tahun ke-30 (unsplash.com/Jeanie de Klerk)

    Tekanan mengenai usia menikah masih sering ditemukan dalam lingkungan keluarga maupun pergaulan. Seseorang yang sudah memasuki usia tertentu bisa dianggap seharusnya memiliki pasangan, bahkan ketika kehidupan pribadinya sebenarnya sedang berjalan baik-baik saja. Standar usia menikah yang berkembang di masyarakat kemudian dijadikan patokan untuk menilai apakah seseorang sudah terlalu lama melajang atau belum.

    Cara pandang tersebut bisa membuat proses perjodohan dilakukan secara terburu-buru. Seseorang yang dianggap sudah mendekati batas usia ideal menikah mungkin langsung ditawarkan kepada kenalan yang tersedia, tanpa mempertimbangkan apakah mereka memiliki kesamaan pandangan mengenai hubungan. Ada anggapan bahwa orang yang sudah cukup umur pasti akan menerima tawaran tersebut karena kesempatan mendapatkan pasangan dianggap semakin terbatas. Padahal, usia tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menurunkan standar atau mengabaikan keinginan pribadi dalam memilih pasangan.

  3. 3. Pekerjaan dan penampilan dianggap cukup untuk menentukan kecocokan

    ilustrasi pekerjaan
    ilustrasi pekerjaan (pexels.com/Thirdman)

    Perjodohan asal-asalan juga sering terjadi karena penilaian terhadap calon pasangan hanya didasarkan pada informasi yang sangat terbatas. Dua orang dianggap cocok hanya karena bekerja di perusahaan yang sama, memiliki usia berdekatan, atau sama-sama dinilai menarik secara fisik. Pertimbangan mengenai karakter, latar belakang keluarga, kebiasaan, hingga tujuan hubungan justru tidak pernah dibicarakan.

    Contohnya bisa ditemukan di lingkungan kantor ketika seorang pegawai perempuan yang masih single tiba-tiba dijodohkan dengan teknisi yang bekerja di gedung yang sama hanya karena dianggap ganteng. Perbedaan pekerjaan, latar belakang pendidikan, lingkungan pergaulan, maupun preferensi pribadi tidak pernah ditanyakan lebih dulu. Bukan berarti seseorang dari profesi atau latar belakang berbeda tidak mungkin cocok, melainkan penampilan dan kebetulan berada di tempat kerja yang sama tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa dua orang layak dipasangkan. Ketertarikan terhadap seseorang juga tidak bisa ditentukan hanya melalui penilaian orang ketiga.

  4. 4. Status hubungan calon pasangan tidak diperiksa lebih dulu

    ilustrasi pacar
    ilustrasi pacar (pexels.com/Shots by Kevin)

    Anggapan bahwa orang single pasti mau dijodohkan terkadang membuat batasan yang paling mendasar justru tidak diperhatikan, termasuk status hubungan calon pasangan. Ada orang yang tetap berusaha menjodohkan dua rekannya meskipun salah satu atau bahkan keduanya sudah memiliki kekasih. Perkenalan tersebut mungkin dianggap sekadar bercanda atau usaha mencari pasangan yang lebih cocok, padahal keputusan untuk mempertemukan dua orang yang sudah memiliki komitmen bisa menimbulkan masalah baru.

    Situasi seperti ini memperlihatkan bahwa keinginan menjadi mak comblang bisa lebih diutamakan daripada menghormati kehidupan pribadi orang lain. Seseorang yang sudah memiliki pasangan tentu tidak otomatis terbuka untuk dikenalkan kepada orang baru hanya karena ada pihak yang merasa mereka akan cocok. Status hubungan seharusnya menjadi informasi dasar yang diperiksa sebelum perjodohan dilakukan. Batasan tersebut perlu dihormati tanpa harus menunggu munculnya konflik atau keberatan dari pasangan masing-masing.

  5. 5. Keinginan menjadi mak comblang lebih besar daripada memahami preferensi orang lain

    ilustrasi mak comblang
    ilustrasi mak comblang (pexels.com/fauxels)

    Ada pula orang yang terlalu bersemangat menjodohkan teman karena merasa berhasil ketika dua orang yang dikenalkannya mulai dekat. Peran sebagai mak comblang mungkin dianggap menyenangkan, terlebih ketika hasil perjodohan tersebut kemudian menjadi bahan cerita di lingkungan pertemanan atau tempat kerja. Fokusnya justru bisa bergeser dari membantu seseorang menemukan pasangan menjadi keinginan untuk melihat dua orang berhasil menjalin hubungan.

    Kebiasaan tersebut dapat membuat preferensi orang yang dijodohkan tidak lagi menjadi perhatian utama. Teman yang sudah pernah menyampaikan tipe pasangan yang disukai tetap ditawarkan kepada orang dengan karakter dan tujuan hubungan yang sangat berbeda, lalu dianggap terlalu pemilih ketika menolak. Padahal, mengenalkan dua orang seharusnya dilakukan dengan mempertimbangkan kesediaan keduanya, bukan sekadar mengikuti keinginan pihak yang menjadi mak comblang. Perjodohan bukan proyek yang keberhasilannya perlu dibuktikan dengan membuat dua orang saling menerima.

    Memiliki status single tidak otomatis berarti seseorang sedang mencari pasangan, apalagi bersedia dikenalkan kepada setiap orang yang dianggap tersedia. Keputusan untuk menjalin hubungan tetap berkaitan dengan ketertarikan, kecocokan, dan kesiapan pribadi yang tidak bisa disimpulkan hanya dari usia atau status hubungan seseorang. Orang lain boleh memiliki niat baik untuk membantu, tetapi keinginan tersebut tetap perlu disertai kesediaan untuk menghormati pilihan orang yang akan dijodohkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More