Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Wajar Memilih Menu Paling Murah saat First Date?

Apakah Wajar Memilih Menu Paling Murah saat First Date?
ilustrasi first date (unsplash.com/Happysurd Photography)
Intinya Sih
  • Viralnya kisah seseorang memilih menu termurah saat first date memicu perdebatan warganet antara yang menilai itu wajar dan yang menganggapnya kurang menghargai momen.
  • Artikel menekankan bahwa nilai sebuah first date bukan pada mahalnya menu, melainkan usaha, kejujuran, dan cara seseorang menunjukkan dirinya di pertemuan pertama.
  • Cara menyampaikan preferensi menjadi kunci; pilihan kata bisa memengaruhi kesan lawan bicara dan menentukan apakah momen terasa nyaman atau justru canggung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Beberapa waktu lalu, sebuah cuitan viral di sebuah media sosial bikin warganet heboh. Seseorang menceritakan first date-nya yang berakhir dibatalkan setelah teman kencannya itu bilang, "Aku di sini biasanya pesen kopi paling murah, sih."

Dari satu kalimat itu, warganet langsung terpecah jadi dua kubu besar, yakni tim pro dan kontra. Ada yang setuju dengan keputusan memilih menu paling murah saat first date, ada yang tidak. Nah, kalau kamu pernah mengalami situasi serupa dan bingung harus merespons seperti apa, artikel ini bisa jadi bahan pertimbangan saat first date.

1. First date bukan soal pamer, tapi soal usaha

ilustrasi first date
ilustrasi first date (unsplash.com/Jonathan Borba)

First date adalah momen pertama dua orang saling menilai secara langsung. Bukan berarti harus tampil sempurna atau berpura-pura jadi orang lain, tapi ada alasan mengapa orang wajar menaruh perhatian lebih pada cara mereka hadir di pertemuan pertama. Impresi pertama terbentuk sangat cepat dan sulit diubah. Bukan soal mahal atau murahnya pilihan menu, tapi soal bagaimana seseorang menunjukkan dirinya di momen yang memang dirancang untuk saling mengenal lebih dalam.

Kalau seseorang langsung membuka percakapan dengan menyebut harga paling murah sebagai acuan pemesanan, itu bisa mengirimkan sinyal tertentu baik disengaja maupun tidak. Tidak semua orang akan membaca ini sebagai bentuk kejujuran soal kondisi keuangan. Sebagian orang akan membacanya sebagai kurangnya usaha atau perhatian terhadap momen itu sendiri. Sebab wajar jika orang punya penilaian lain, karena ekspektasi terhadap first date memang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya.

2. Mau pilih menu yang paling murah? Itu hak kamu, kok!

ilustrasi first date
ilustrasi first date (unsplash.com/Rachel McDermott)

Tidak ada aturan tertulis yang bilang first date harus mahal. Kencan pertama di kedai kopi biasa, makan di warung pinggir jalan, atau sekadar jalan-jalan di taman pun bisa tetap berkesan kalau chemistry-nya telah terbangun. Memilih menu paling murah bukan otomatis tanda seseorang tidak serius atau tidak menghargai momen tersebut. Bisa jadi dia memang sedang mengatur keuangan, punya prioritas lain, atau sekadar tidak ingin berpura-pura punya gaya hidup yang tidak mencerminkan dirinya.

Justru ada sisi positif dari kejujuran semacam ini. Dari awal sudah terlihat bahwa orang itu tidak mencoba membangun impresi palsu demi terlihat lebih baik di mata lawan date-nya. Kalau kamu tipe orang yang menghargai kejujuran daripada penampilan, sikap seperti ini sama sekali tak akan mengganggu. Hubungan yang dimulai dengan kejujuran, sekecil apa pun bentuknya, punya fondasi yang lebih solid daripada hubungan yang dibangun di atas ekspektasi yang tidak realistis sejak awal.

3. Cara penyampaian merupakan hal yang penting

ilustrasi first date
ilustrasi first date (unsplash.com/Luis cash)

Jujur soal preferensi itu bagus, tapi cara menyampaikannya tetap menentukan bagaimana pesan itu diterima. Ada perbedaan besar antara bilang "aku suka americano" dengan "aku biasanya pesen yang paling murah." Keduanya bisa berakhir di pilihan menu yang sama, tapi energi yang dibawa berbeda. Satu terasa seperti preferensi, satu lagi terasa seperti disclaimer keuangan yang tidak diminta di momen tersebut.

First date masih dalam tahap membangun kenyamanan satu sama lain. Terlalu cepat membuka soal kondisi finansial bisa membuat lawan bicara tidak tahu harus merespons seperti apa, dan itu menciptakan kecangguhan yang tidak perlu. Bukan berarti harus menyembunyikan keadaan finansial kamu, kok. Tapi memilih momen dan cara yang tepat untuk menyampaikan sesuatu adalah bagian dari kecerdasan sosial yang wajar, diharapkan hadir saat kencan pertama.

4. Ilfeel itu valid, tapi perlu diperiksa lebih dulu

ilustrasi first date
ilustrasi first date (unsplash.com/Bernardo Toscano)

Merasa ilfeel setelah kejadian semacam itu adalah respons yang manusiawi. Ekspektasi terhadap first date memang ada, dan ketika sesuatu terasa tidak sesuai, wajar kalau muncul rasa mengganjal. Tapi sebelum langsung menyimpulkan sesuatu, ada baiknya periksa dulu dari mana rasa ilfeel itu berasal. Apakah karena pilihan menu itu sendiri, atau karena ada hal lain yang lebih mendasar yang membuat kamu tidak nyaman sejak awal?

Seperti yang terjadi di cuitan aslinya, si penulis kemudian mengklarifikasi bahwa yang benar-benar mengganggunya adalah lelucon tidak pantas dari teman kencannya. Soal kopi murah itu hanya jadi puncak dari sesuatu yang sudah tidak berjalan dengan baik. Menilai seseorang hanya dari satu detail kecil hampir selalu menghasilkan kesimpulan yang tidak lengkap. Kalau secara keseluruhan pertemuan terasa menyenangkan, satu komentar soal harga kopi mungkin tidak perlu jadi penentu segalanya.

5. Pada akhirnya semua pro kontra ini soal kecocokan

ilustrasi first date
ilustrasi first date (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)

Tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan apakah memilih menu paling murah saat first date itu wajar atau tidak. Sebagian orang melihatnya sebagai tanda transparansi yang justru diapresiasi. Sebagian lain merasa hal itu menunjukkan kurangnya perhatian terhadap momen tersebut. Keduanya bukan respons yang salah, karena pada dasarnya setiap orang punya standar dan ekspektasi yang berbeda dalam memulai sebuah hubungan.

Di sinilah letak inti persoalannya, bukan soal siapa yang benar atau salah, tapi soal apakah dua orang itu cocok satu sama lain. Kalau kamu tipe orang yang menghargai gestur kecil sebagai bentuk usaha, wajar kalau hal seperti ini terasa penting. Kalau kamu lebih mementingkan koneksi dan obrolan yang nyambung, mungkin pilihan menu sama sekali tidak masuk radar. First date bukan ujian yang harus lulus sempurna, tapi cukup jadi momen untuk melihat apakah ada sesuatu yang layak untuk dilanjutkan.

Pilihan menu saat first date mungkin terdengar sepele, tapi cara seseorang hadir di momen pertama itu sering kali mencerminkan lebih dari sekadar selera minum kopi. Wajar atau tidak wajarnya seseorang memilih menu paling murah saat first date sangat tergantung pada konteks, cara penyampaian, dan siapa yang ada di hadapan kita. Pada akhirnya, first date yang berhasil bukan soal siapa yang pesan apa, tapi soal apakah dua orang itu bisa membuat satu sama lain merasa nyaman dan ingin bertemu lagi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Related Articles

See More