Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perbedaan Takut Menikah dan Belum Siap Menikah, Kamu yang Mana?
Ilustrasi menikah (pexels.com/HONG SON)
  • Takut menikah lebih berkaitan dengan emosi, pengalaman buruk, pola relasi keluarga, dan tekanan sosial.

  • Belum siap menikah biasanya dipengaruhi kondisi praktis, seperti finansial, karier, dan kesiapan pasangan.

  • Rasa takut membutuhkan pengenalan serta dukungan, sedangkan belum siap membutuhkan persiapan bertahap.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Takut menikah dan belum siap menikah itu berbeda. Orang yang takut bisa merasa cemas atau ingin menghindar saat membicarakan pernikahan. Orang yang belum siap biasanya hanya merasa waktunya belum tepat. Rasa takut bisa dibicarakan dengan orang tepercaya atau psikolog. Yang belum siap bisa menyiapkan keuangan, emosi, dan tujuan bersama pasangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengenali perbedaan antara rasa takut dan belum siap memberi ruang untuk memahami kebutuhan diri dengan lebih jujur. Rasa takut dapat diproses dengan dukungan yang tepat, sementara kesiapan dapat dibangun secara bertahap melalui pengelolaan keuangan, kematangan emosi, dan pembicaraan bersama pasangan tentang tujuan hidup.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika pertanyaan 'kapan nikah?' datang bertubi-tubi, jawaban yang keluar sering kali sama, yakni 'belum siap'. Padahal, di balik kalimat singkat itu, bisa ada dua kondisi yang sangat berbeda. Ada yang memang sedang menyiapkan diri. Namun, beberapa yang lain ada pula yang sebenarnya menyimpan rasa takut yang belum pernah benar-benar ia akui, bahkan kepada dirinya sendiri.

Keduanya sama-sama membuat seseorang menunda pernikahan, tetapi akar dan cara menyikapinya tidak sama. Salah mengenali kondisi bisa membuatmu menunggu hal yang keliru. Entah menunggu tabungan terkumpul, padahal masalahnya ada di rasa takut. Atau, sibuk mencari penyembuhan, padahal sebenarnya kamu hanya butuh waktu dan persiapan. Yuk, kenali perbedaannya satu per satu!

1. Sumber perasaannya berbeda

ilustrasi menikah (freepik.com/freepik)

Rasa takut menikah biasanya berakar dari emosi. Ada yang pernah menyaksikan pernikahan orangtua yang retak, ada juga yang punya pengalaman hubungan yang berakhir buruk. Menurut Grady Shumway, Licensed Clinical Social Worker, dilansir Marriage, salah satu alasan seseorang takut menikah adalah pernah menjalani hubungan yang berakhir pahit. Sebuah skripsi dari Universitas Islam Riau bertajuk Gambaran Gamophobia Pada Perempuan Dewasa Awal, juga menemukan bahwa pengalaman masa kecil, pola relasi keluarga, dan tekanan sosial ikut memengaruhi rasa takut ini.

Belum siap menikah justru lebih sering berakar dari kondisi praktis. Misalnya, finansial belum stabil, karier masih merintis, atau pasangan yang belum sama-sama siap. Kesiapan menikah biasanya mencakup kesepakatan soal keuangan, kematangan emosi, dan tujuan hidup bersama. Jadi, kalau alasanmu lebih banyak soal 'tabungan belum cukup' atau 'belum sama-sama mapan', kemungkinan besar kamu ada di kategori belum siap.

2. Reaksi saat membayangkan pernikahan

ilustrasi menikah (pexels.com/Sam Gibson)

Coba bayangkan kamu sedang membahas pernikahan. Orang yang takut biasanya merasakan reaksi yang cukup kuat di tubuh dan pikirannya. Ketakutan akan pernikahan atau gamophobia dapat memicu reaksi emosional maupun fisik saat topik pernikahan dibahas, bahkan sampai dorongan kuat untuk menghindari obrolan itu.

"(Gamophobia), ketika berbicara tentang hal-hal seperti pindah bersama, tujuan jangka panjang, atau bahkan liburan bersama dapat memicu kecemasan," lanjut Grady, dilansir Marriage.

Sebaliknya, orang yang belum siap biasanya terasa lebih netral. Ia mungkin masih membayangkan pernikahan dengan tenang, hanya saja merasa waktunya belum tepat. Jadi, tanyakan pada dirimu sendiri. Saat topik ini muncul, apakah kamu merasa cemas atau ingin kabur, atau cuma merasa 'nanti dulu ya'?

3. Solusi dan yang dibutuhkan tentunya berbeda

ilustrasi menikah (pexels.com/ Photography Maghradze)

Karena akarnya berbeda, kebutuhannya juga berbeda. Rasa takut perlu dikenali dan diproses, misalnya dengan bercerita kepada orang tepercaya atau berkonsultasi dengan psikolog. Grady menyebut, rasa takut yang sudah mengakar kadang membutuhkan pendampingan yang lembut untuk diurai. Pandangan yang realistis soal pernikahan bisa mengurangi rasa takutnya. Kondisi ini bisa dikelola. Menyadari bahwa rasa takut menikah bisa berkaitan dengan kesehatan mental adalah langkah awal untuk mendapat dukungan.

Sementara itu, yang belum siap butuh persiapan bertahap. Bisa dimulai dari merapikan keuangan, mematangkan diri secara emosional, atau mulai berdiskusi dengan pasangan soal tujuan hidup. Jadi, apa pun jawabanmu, keduanya sama-sama valid. Asal kamu jujur pada diri sendiri soal akarnya.

Intinya, takut menikah dan belum siap menikah datang dari akar yang berbeda. Kamu sudah tahu dirimu masuk kategori yang mana?

Curated For You

Editorial Team

Related Article