Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi stalking (magnific.com/magnific)
  • Studi Current Psychology pada 300 dewasa menemukan sifat Dark Tetrad berkaitan dengan kecemburuan, cyberstalking pasangan, dan penggunaan media sosial bermasalah.

  • Kecemburuan kognitif berupa kecurigaan serta kecemburuan behavioral berupa tindakan memantau, lebih berperan menuju cyberstalking dibanding sekadar reaksi emosional.

  • Cyberstalking berkaitan dengan penggunaan media sosial yang sulit dikendalikan, tetapi studi cross-sectional ini tidak membuktikan sebab-akibat dan belum berlaku luas untuk semua populasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Media sosial memang memudahkan kamu untuk tetap terhubung dengan pasangan, tapi di sisi lain juga bisa menjadi tempat munculnya rasa curiga yang berlebihan. Kebiasaan mengecek profil, melihat daftar pengikut, sampai memperhatikan siapa yang sering berinteraksi dengan pasangan mungkin terlihat sepele jika dilakukan sesekali. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perilaku tersebut bisa berkaitan dengan pola kecemburuan dan cyberstalking tertentu, lho.

Bahkan, ada kaitan antara sejumlah karakter kepribadian yang dikenal sebagai Dark Tetrad dengan penggunaan media sosial yang bermasalah. Lalu, bagaimana sebenarnya hubungan antara kepribadian, rasa cemburu, stalking digital, dan kecanduan media sosial? Berikut beberapa temuan penting yang perlu kamu pahami.

1. Kepribadian gelap bisa berkaitan dengan kebiasaan bermedia sosial

ilustrasi psikopat (magnific.com/magnific)

Menurut penelitian dalam Current Psychology, karakter dalam Dark Tetrad seperti Machiavellianism, psychopathy, narcissism, dan sadism berkaitan dengan kecemburuan tertentu, perilaku cyberstalking, serta penggunaan media sosial yang bermasalah. Keempat karakter tersebut memiliki ciri yang berbeda, mulai dari kecenderungan memanipulasi orang lain hingga kurangnya empati dan keinginan untuk mendominasi. Penelitian ini dilakukan oleh Marco Giancola, Elisa Galli, dan Massimiliano Palmiero untuk melihat bagaimana karakter-karakter tersebut dapat terhubung dengan perilaku digital.

Dalam penelitian tersebut, sebanyak 300 orang dewasa berusia 18-65 tahun yang sedang menjalani hubungan romantis ikut mengisi kuesioner secara daring. Sekitar 80 persen peserta merupakan perempuan dan seluruh peserta menggunakan setidaknya satu platform media sosial setiap hari. Para peneliti kemudian mengukur karakter kepribadian, kecemburuan, cyberstalking terhadap pasangan, serta kecenderungan menggunakan media sosial secara berlebihan.

2. Rasa cemburu ternyata punya beberapa bentuk

ilustrasi media sosial (magnific.com/wirestock)

Kamu mungkin mengira cemburu hanya sebatas merasa takut kehilangan pasangan atau merasa gak nyaman ketika pasangan dekat dengan orang lain. Padahal dalam psikologi, kecemburuan dapat muncul dalam bentuk yang berbeda, yaitu emosional, kognitif, dan behavioral. Kecemburuan emosional lebih berkaitan dengan reaksi perasaan seperti takut atau sedih ketika merasa hubungan sedang terancam.

Sementara itu, kecemburuan kognitif muncul melalui pikiran yang terus dipenuhi kecurigaan, prasangka, atau kekhawatiran pasangan mungkin gak setia. Kecemburuan behavioral lebih terlihat dari tindakan nyata untuk mencari kepastian, misalnya memantau aktivitas pasangan atau berusaha memeriksa interaksinya. Menurut penelitian dalam Current Psychology, justru kecemburuan kognitif dan behavioral yang terlihat berperan dalam rangkaian menuju cyberstalking, bukan sekadar kuatnya emosi cemburu.

3. Curiga bisa berubah menjadi stalking digital

ilustrasi pasangan cemburu (pexels.com/Budgeron Bach)

Ketika rasa curiga mulai memenuhi pikiran, media sosial dapat menjadi tempat yang sangat mudah untuk mencari jawaban. Kamu bisa saja mulai memperhatikan unggahan pasangan, siapa yang memberikan komentar, siapa yang baru diikuti, atau aktivitas apa yang terlihat di akunnya. Masalahnya, pencarian kepastian seperti ini bisa berubah menjadi kebiasaan memantau pasangan secara terus-menerus, lho.

Menurut penelitian dalam Current Psychology, peserta dengan tingkat karakter Dark Tetrad yang lebih tinggi juga melaporkan kecemburuan kognitif dan behavioral yang lebih besar. Kedua bentuk kecemburuan tersebut kemudian berkaitan dengan meningkatnya perilaku cyberstalking terhadap pasangan. Jadi, rangkaiannya bukan sekadar merasa cemburu, melainkan kecurigaan dapat mendorong tindakan pemantauan yang semakin aktif.

4. Stalking pasangan bisa membuat penggunaan medsos makin sulit dikontrol

ilustrasi Instagram (pexels.com/Szabó Viktor)

Cyberstalking membutuhkan perhatian dan waktu yang gak sedikit karena seseorang bisa terus mencari informasi mengenai aktivitas pasangannya. Awalnya, tindakan tersebut mungkin dilakukan dengan tujuan mendapatkan kepastian atau memastikan bahwa gak ada sesuatu yang disembunyikan. Namun, semakin sering dilakukan, aktivitas memantau pasangan dapat membuatmu semakin lama berada di media sosial.

Penelitian dalam Current Psychology menemukan bahwa cyberstalking kemudian berkaitan dengan penggunaan media sosial yang bermasalah. Penggunaan media sosial bermasalah sendiri ditandai dengan pola penggunaan yang sulit dikendalikan dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari maupun kesejahteraan psikologis. Dalam konteks ini, media sosial bukan lagi sekadar sarana hiburan atau komunikasi, tapi bisa menjadi tempat mencari rasa aman sekaligus mempertahankan kebiasaan mengecek pasangan secara kompulsif.

5. Bukan berarti semua orang dengan sifat tertentu pasti stalking

ilustrasi perempuan stalking (pexels.com/Alex Green)

Temuan penelitian ini bukan berarti seseorang yang memiliki karakter tertentu otomatis akan melakukan stalking terhadap pasangannya, ya. Giancola menekankan bahwa kepribadian bukan satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana seseorang menggunakan media sosial. Model penelitian tersebut menjelaskan sekitar 33-35 persen variasi penggunaan media sosial yang bermasalah, sehingga masih ada faktor lain yang turut berperan.

Kamu juga perlu melihat penelitian ini dengan hati-hati karena desainnya bersifat cross-sectional, sehingga hubungan sebab-akibat belum bisa dipastikan. Peneliti juga mencatat bahwa mayoritas peserta adalah perempuan, sehingga hasilnya belum tentu bisa digeneralisasikan secara luas kepada laki-laki atau populasi dari latar budaya berbeda. Karena itu, penelitian lanjutan dengan peserta yang lebih beragam dan pengamatan dalam jangka panjang masih diperlukan untuk mengetahui bagaimana kecurigaan, kecemburuan, cyberstalking, dan penggunaan media sosial bermasalah berkembang dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya, masalahnya bukan sekadar berapa lama kamu bermain media sosial, tapi juga alasan di balik kebiasaan tersebut. Jika membuka media sosial berkali-kali hanya untuk memastikan pasangan sedang berinteraksi dengan siapa, kebiasaan itu justru bisa memperkuat rasa curiga dan membuatmu semakin sulit berhenti.

Temuan dalam Current Psychology menunjukkan bahwa pikiran penuh kecurigaan dan perilaku memantau pasangan dapat menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut. Karena itu, membangun batasan digital yang sehat, belajar menghadapi ketidakpastian, serta menjaga kepercayaan dalam hubungan bisa menjadi langkah yang jauh lebih sehat daripada terus mencari kepastian lewat stalking.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article