ilustrasi perempuan stalking (pexels.com/Alex Green)
Temuan penelitian ini bukan berarti seseorang yang memiliki karakter tertentu otomatis akan melakukan stalking terhadap pasangannya, ya. Giancola menekankan bahwa kepribadian bukan satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana seseorang menggunakan media sosial. Model penelitian tersebut menjelaskan sekitar 33-35 persen variasi penggunaan media sosial yang bermasalah, sehingga masih ada faktor lain yang turut berperan.
Kamu juga perlu melihat penelitian ini dengan hati-hati karena desainnya bersifat cross-sectional, sehingga hubungan sebab-akibat belum bisa dipastikan. Peneliti juga mencatat bahwa mayoritas peserta adalah perempuan, sehingga hasilnya belum tentu bisa digeneralisasikan secara luas kepada laki-laki atau populasi dari latar budaya berbeda. Karena itu, penelitian lanjutan dengan peserta yang lebih beragam dan pengamatan dalam jangka panjang masih diperlukan untuk mengetahui bagaimana kecurigaan, kecemburuan, cyberstalking, dan penggunaan media sosial bermasalah berkembang dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, masalahnya bukan sekadar berapa lama kamu bermain media sosial, tapi juga alasan di balik kebiasaan tersebut. Jika membuka media sosial berkali-kali hanya untuk memastikan pasangan sedang berinteraksi dengan siapa, kebiasaan itu justru bisa memperkuat rasa curiga dan membuatmu semakin sulit berhenti.
Temuan dalam Current Psychology menunjukkan bahwa pikiran penuh kecurigaan dan perilaku memantau pasangan dapat menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut. Karena itu, membangun batasan digital yang sehat, belajar menghadapi ketidakpastian, serta menjaga kepercayaan dalam hubungan bisa menjadi langkah yang jauh lebih sehat daripada terus mencari kepastian lewat stalking.