Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Sederhana Berhenti FOMO, Biar Hidup Makin Bahagia

4 min read
5 Cara Sederhana Berhenti FOMO, Biar Hidup Makin Bahagia
Ilustrasi perempuan tersenyum bahagia merentangkan tangannya di alam terbuka. (pexels.com/Micah Eleazar)
  • Paparan media sosial yang masif dapat memicu FOMO, membuat seseorang cemas dan terus membandingkan hidup nyata dengan pencapaian orang lain di dunia maya.
  • Mengurangi FOMO dapat dilakukan dengan membatasi penggunaan media sosial, menyadari unggahan hanya menampilkan momen terbaik, serta menerapkan JOMO untuk menikmati pilihan pribadi.
  • Penyaringan akun pemicu emosi negatif dan fokus pada tujuan hidup sendiri membantu mengalihkan perhatian dari tren maupun pencapaian orang lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hidup di era digital memang membuat arus informasi mengalir sangat cepat setiap detiknya melalui layar ponsel pintar kita. Melalui peramban di tangan, kita bisa dengan mudah melihat aktivitas teman, pencapaian rekan kerja, hingga tren gaya hidup terbaru yang sedang viral. Namun, paparan informasi yang terlalu masif ini sering kali membawa dampak negatif bagi kesehatan mental kita sehari-hari.

Ketika melihat orang lain tampak lebih sukses atau bahagia, kita mudah merasa tertinggal dan cemas, sebuah kondisi yang sering disebut sebagai FOMO atau Fear of Missing Out. Perasaan cemas ini memaksa otak untuk terus membandingkan kehidupan nyata kita dengan panggung maya milik orang lain secara tidak sehat. Lantas, bagaimana cara paling efektif untuk menghentikan siklus kecemasan ini agar hidupmu terasa jauh lebih tenang?

  1. 1. Batasi waktu penggunaan media sosial setiap hari

    Tampilan jarak dekat layar ponsel pintar yang menunjukkan beberapa ikon aplikasi pesan dan media sosial seperti Instagram, WhatsApp, FaceTime, dan Snapchat.
    Ilustrasi aplikasi media sosial di layar ponsel. (pexels.com/Sanket Mishra)

    Media sosial merupakan pemicu utama munculnya rasa takut tertinggal dari tren atau pencapaian orang lain pada masa kini. Kebanyakan dari kita memiliki kebiasaan membuka aplikasi jejaring sosial tanpa sadar, bahkan saat sedang sibuk bekerja atau menjelang waktu tidur. Aktivitas menelusuri linimasa tanpa tujuan inilah yang membuat otak terus-menerus menerima asupan informasi pemicu rasa cemas.

    Cara paling ampuh untuk memutus rantai ini adalah dengan menetapkan batasan waktu yang jelas setiap harinya untuk berselancar di dunia maya. Kamu bisa memanfaatkan fitur pembatas waktu aplikasi di ponselmu untuk mengunci media sosial setelah digunakan maksimal selama satu jam. Dengan mengurangi durasi bermain media sosial, kamu memberikan waktu bagi pikiranmu untuk beristirahat dan lebih fokus pada kehidupan nyata di sekitarmu.

  2. 2. Berhenti membandingkan kehidupan nyata dengan dunia maya

    Seorang perempuan berpakaian santai sedang bersandar di ruangan gelap sambil menatap layar ponselnya dengan raut wajah sedih, berlatar belakang pendaran cahaya lampu kota di malam hari.
    Ilustrasi perempuan yang tampak sedih saat menatap layar ponsel. (pexels.com/mikoto.raw Photographer)

    Era digital sering kali menjebak kita dalam ilusi kesempurnaan yang ditampilkan oleh orang-orang di dunia maya setiap saat. Kita kerap melihat teman memamerkan liburan mewah, gawai keluaran terbaru, atau perayaan pencapaian karier yang sangat gemilang. Padahal, semua unggahan tersebut hanyalah kepingan momen terbaik yang sudah dipilih secara sengaja untuk menjadi etalase kehidupan mereka.

    Sangat penting untuk selalu menyadari bahwa kamu sedang membandingkan keseluruhan hidupmu dengan panggung sorotan milik orang lain. Setiap orang pasti memiliki masalah, kegagalan, dan momen sulit yang tentu saja tidak pernah mereka bagikan ke internet. Ketika kamu berhenti menjadikan dunia maya sebagai tolok ukur kesuksesan, perasaan cemas tersebut akan perlahan menghilang dengan sendirinya.

  3. 3. Terapkan gaya hidup JOMO sebagai kebiasaan baru

    Seorang perempuan berbaju tanpa lengan berwarna biru sedang berbaring santai dengan mata terpejam sambil tersenyum di atas hammock bergaris biru dan hijau di area luar ruangan dengan latar belakang pepohonan.
    Ilustrasi seorang perempuan bersantai menikmati waktu di atas hammock. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Jika perasaan takut tertinggal membuatmu merasa lelah, maka sekarang saatnya kamu beralih pada pola pikir JOMO atau Joy of Missing Out. Konsep hidup ini mengajarkan kita untuk merasa gembira dan menikmati momen saat kita memutuskan untuk tidak ikut-ikutan tren sesaat. Gaya hidup ini menuntut kesadaran penuh bahwa tidak semua hal yang sedang ramai dibicarakan di internet harus selalu kita ikuti.

    Misalnya, kamu tidak perlu merasa bersalah saat memilih tidur nyenyak pada akhir pekan alih-alih ikut nongkrong di kafe yang sedang viral. Menikmati waktu sendiri dengan membaca buku, menonton film kesukaan, atau sekadar bersantai di kamar adalah sebuah kemewahan tersendiri. Dengan merangkul gaya hidup ini, kamu akan lebih menghargai setiap detik waktu luangmu tanpa dihantui perasaan bersalah sedikit pun.

  4. 4. Lakukan penyaringan konten pada akun yang kamu ikuti

    Tampilan atas sepasang tangan seseorang yang sedang memegang dan menggulir layar ponsel pintar untuk melihat deretan foto pada sebuah aplikasi media sosial di atas meja bundar berwarna putih.
    Ilustrasi menelusuri aplikasi media sosial. (pexels.com/cottonbro studio)

    Linimasa media sosialmu adalah cerminan dari apa yang kamu pilih untuk konsumsi sebagai asupan otak setiap harinya. Jika setelah membuka suatu aplikasi kamu justru merasa sedih, minder, atau tidak berguna, maka ada yang salah dengan akun-akun yang kamu ikuti. Terlalu banyak mengikuti akun selebritas atau figur publik yang gaya hidupnya tidak realistis bisa menjadi racun bagi kesehatan mentalmu.

    Jangan pernah ragu untuk menekan tombol berhenti mengikuti atau membisukan akun-akun yang sering memicu perasaan negatif atau memancing rasa tidak percaya diri. Sebagai gantinya, penuhi linimasamu dengan konten-konten edukatif, motivasi positif, atau akun hobi yang benar-benar kamu senangi. Langkah sederhana ini akan mengubah media sosial dari sumber kecemasan menjadi sumber inspirasi yang mendukung perkembangan dirimu ke arah positif.

  5. 5. Fokus pada tujuan dan target hidupmu sendiri

    Tampak belakang seseorang berdiri tegak di tepi tebing tanah dengan kedua tangan diangkat tinggi ke atas membentuk huruf V, menghadap ke arah lanskap perbukitan hijau dan langit biru yang luas.
    Ilustrasi seseorang merentangkan tangan di atas bukit. (pexels.com/Min An)

    Seseorang yang tidak memiliki arah hidup yang jelas akan sangat mudah terombang-ambing oleh pencapaian orang lain di sekitarnya. Ketika melihat teman memulai bisnis baru, kamu mungkin mendadak ingin berbisnis meskipun sama sekali tidak punya ketertarikan di bidang tersebut. Rasa ikut-ikutan ini justru akan menguras energimu dan membuatmu semakin menjauh dari potensi terbaik yang sebenarnya kamu miliki.

    Oleh karena itu, ambil selembar kertas dan mulailah menuliskan apa yang sebenarnya menjadi tujuan utama dalam hidupmu saat ini. Ketika kamu sibuk mengejar mimpimu sendiri, kamu tidak akan punya waktu untuk memusingkan apa yang sedang dilakukan oleh orang lain. Memiliki fokus yang tajam akan membuatmu kebal terhadap gangguan dari luar dan membantumu mencapai kebahagiaan sejati versimu sendiri.

    Mengatasi rasa cemas akan ketertinggalan di era yang serba cepat ini memang membutuhkan latihan dan kesadaran yang terus-menerus. Dengan menerapkan kelima langkah di atas, kamu bisa mengambil kembali kendali atas emosi dan kebahagiaanmu sendiri setiap harinya. Ingatlah bahwa kebahagiaan sejati datang dari seberapa dalam kamu mensyukuri kehidupanmu saat ini, jadi pastikan kamu memulainya dari sekarang!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More