Empati kerap dipandang sebagai sikap yang selalu membawa dampak positif. Orang yang mudah memahami perasaan orang lain sering dianggap menyenangkan, pengertian, dan enak dimintai tolong. Masalahnya, penilaian semacam ini tidak selalu berhenti sebagai pujian. Perlahan, sikap baik tersebut bisa bergeser menjadi ekspektasi, seolah kehadiran dan bantuanmu merupakan hal yang wajar untuk terus hadir bagi orang lain.
Situasi seperti ini jarang terasa janggal karena sering disampaikan dengan candaan atau permintaan halus. Tanpa disadari, empati yang awalnya tulus justru berubah menjadi beban yang dipikul sendirian. Karena itu, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan agar kebaikan yang kamu beri tidak berakhir merugikan diri sendiri. Apa saja?
