Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Weaponized Incompetence, 5 Tanda Sifat Manchild Ada dalam Hubungan
ilustrasi manchild (pexels.com/Padli Pradana)
  • Weaponized incompetence terjadi saat seseorang terus menunjukkan ketidakmampuan hingga pasangan mengambil alih tugas, sehingga tanggung jawab dalam hubungan menjadi timpang.
  • Tandanya meliputi sengaja bekerja buruk, selalu mengaku tidak tahu, melempar keputusan sederhana, serta berulang kali lupa tanpa membangun cara mengatasinya.
  • Sifat manchild terlihat ketika tugas domestik dianggap sekadar bantuan; masalah utamanya bukan kemampuan, melainkan kemauan belajar dan bertanggung jawab.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Weaponized incompetence adalah pola ketika seseorang sengaja atau terus-menerus menunjukkan ketidakmampuan dalam melakukan suatu tugas sehingga orang lain akhirnya mengambil alih pekerjaan tersebut. Dalam hubungan sehari-hari, perilaku ini sering kali tidak terlihat sebagai bentuk manipulasi karena dibungkus dengan kalimat seperti "aku memang gak bisa" atau "kamu kan lebih jago". Jika berlangsung berulang, orang lain justru bisa merasa tidak punya pilihan selain mengerjakannya sendiri.

Sifat manchild dapat membuat pola tersebut semakin mudah muncul, terutama ketika seseorang terbiasa bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan atau menyelesaikan masalahnya. Ia tidak selalu secara sadar merencanakan untuk memanfaatkan orang lain. Namun, ketika ketidakmampuan terus dipertahankan meski sebenarnya bisa belajar dan berusaha, perilaku tersebut dapat berubah menjadi cara untuk menghindari tanggung jawab. Berikut beberapa bentuknya.

1. Sengaja melakukan pekerjaan dengan buruk agar tidak diminta lagi

ilustrasi pria dengan weaponized incompetence (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Seseorang mungkin sebenarnya mampu mengerjakan suatu tugas, tetapi sengaja melakukannya secara asal-asalan. Misalnya, ketika diminta mencuci piring, ia tidak membersihkannya dengan benar sampai akhirnya pasangan merasa lebih mudah mengerjakannya sendiri. Setelah beberapa kali terjadi, ia pun tidak lagi perlu melakukan pekerjaan tersebut.

Ini menjadi bentuk weaponized incompetence ketika pola tersebut terus dipertahankan meskipun ia sudah mengetahui apa yang harus diperbaiki. Ketidakmampuan akhirnya berfungsi sebagai "jalan keluar" dari tanggung jawab. Bukan karena benar-benar tidak bisa, tetapi karena ia belajar bahwa melakukan pekerjaan dengan buruk membuat orang lain mengambil alih.

2. Selalu mengatakan "aku nggak tahu caranya"

ilustrasi pria dengan weaponized incompetence (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kalimat tersebut sebenarnya tidak selalu bermasalah. Setiap orang pasti memiliki hal yang belum pernah dipelajari. Masalah muncul ketika "tidak tahu" selalu menjadi jawaban untuk tugas yang sebenarnya bisa dipelajari dengan mudah. Alih-alih mencari tahu, ia menunggu orang lain memberikan instruksi lengkap atau langsung mengerjakannya.

Dalam hubungan, pola ini bisa membuat salah satu pihak berperan sebagai guru sekaligus pengawas untuk hampir semua hal. Pasangan bukan hanya harus menyelesaikan tugasnya sendiri, tetapi juga mengajari orang dewasa lain bagaimana mengurus kebutuhan dasarnya. Jika seseorang terus menggunakan ketidaktahuan sebagai alasan untuk tidak belajar, ketidakmampuan tersebut akhirnya menjadi bentuk penghindaran tanggung jawab.

3. Terus bertanya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa diputuskan

ilustrasi pria bertanya pada istrinya (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Bentuk lainnya adalah ketergantungan dalam mengambil keputusan sederhana. Misalnya, seseorang terus bertanya kepada pasangan tentang apa yang harus dimakan, kapan harus membayar tagihan, barang apa yang perlu dibeli, atau bagaimana mengatur urusan pribadi yang sebenarnya bisa ia tentukan sendiri.

Bertanya tentu bukan masalah. Namun, jika hampir setiap keputusan kecil selalu dilemparkan kepada orang lain, beban mental akhirnya ikut berpindah. Orang yang ditanya harus terus mengingat, mempertimbangkan, dan menentukan sesuatu untuk dua orang. Dalam jangka panjang, hal ini dapat membuat pasangan merasa seperti pengelola kehidupan, bukan partner yang setara.

4. Mengaku lupa sebagai alasan berulang

ilustrasi pria mengaku lupa pada seorang perempuan (pexels.com/RDNE Stock project)

Lupa sesekali adalah hal yang manusiawi. Namun, ketika seseorang terus lupa terhadap tugas yang sama dan tidak pernah membuat cara untuk mengatasinya, masalahnya bukan lagi sekadar daya ingat. Ia bisa memasang pengingat, mencatat, membuat jadwal, atau mencari sistem lain agar tugas tersebut tidak terus terlewat.

Jika setiap kali lupa orang lain akhirnya harus mengingatkan, mengambil alih, atau memperbaiki akibatnya, terbentuk pola yang tidak sehat. Orang tersebut terbiasa bahwa kelalaiannya selalu memiliki "jaring pengaman" berupa orang lain yang akan membereskan semuanya. Ini yang membuat sifat manchild dapat berjalan beriringan dengan weaponized incompetence.

5. Menganggap tugas rumah sebagai "bantuan" kepada pasangan

ilustrasi pria menyapu rumah (pexels.com/RDNE Stock project)

Seseorang dengan sifat manchild mungkin merasa sudah sangat membantu ketika sesekali mencuci piring, memasak, atau membersihkan rumah. Padahal, jika ia tinggal bersama orang lain, pekerjaan tersebut bukan semata-mata bantuan, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama.

Cara berpikir ini dapat membuat pembagian tugas menjadi tidak seimbang. Ia merasa berjasa setiap kali melakukan pekerjaan domestik, sementara pasangannya dianggap sebagai pihak yang "memiliki" tanggung jawab tersebut. Ketika tugas rumah hanya dilakukan setelah diminta, bahkan harus disertai instruksi dan pengawasan, beban pekerjaan sebenarnya masih berada pada pihak yang terus memikirkan dan mengatur semuanya.

Weaponized incompetence tidak selalu berarti seseorang secara sadar berniat memanipulasi orang lain. Namun, ketika seseorang berulang kali menolak belajar, tidak memperbaiki kesalahan, dan membiarkan orang lain mengambil alih karena itu lebih nyaman baginya, dampaknya tetap sama: tanggung jawab menjadi tidak seimbang. Karena itu, yang perlu dilihat bukan hanya apakah seseorang "bisa" atau "tidak bisa", tetapi apakah ia mau belajar dan mengambil tanggung jawab ketika menyadari dirinya belum mampu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article