- Reaksi emosional: merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri, malu, takut, terkejut, tidak percaya diri, sedih, marah, mengisolasi diri, kurangnya kontrol diri, bingung, dan menyangkal.
- Reaksi fisik-psikologis: depresi, mimpi buruk, sulit fokus dan konsentrasi, stres pascatrauma, cemas, rendah diri, atau suicide.
3 Langkah Psychological First Aid (PFA) saat Teman Cerita Kekerasan Seksual

- Psychological First Aid (PFA) membantu merespons teman penyintas kekerasan seksual agar merasa aman, bukan bersalah atau menutup diri.
- Tahap look dilakukan dengan mengamati reaksi emosional maupun fisik-psikologis korban serta memastikan keamanannya, terutama bila ada risiko dari pelaku.
- Tahap listen dan link menekankan mendengar tanpa menghakimi, memberi dukungan, lalu membantu akses layanan atau profesional sesuai persetujuan korban tanpa memaksa pelaporan.
Apa yang akan kamu lakukan saat teman dekatmu bercerita bahwa ia mengalami kekerasan seksual? Mendengar cerita seperti itu tentu membuat panik, terkejut, sekaligus bingung. Kamu juga mungkin mengalami kelelahan emosional karena ceritanya itu.
Respons terhadap cerita temanmu memegang peran penting lho dalam menentukan apakah korban atau penyintas kekerasan seksual merasa aman atau justru merasa bersalah dan menutup diri. Nah, untuk meresponsnya, kamu bisa gunakan Psychological First Aid (PFA).
Menurut WHO (2011), PFA adalah bentuk perawatan dasar yang diberikan kepada orang-orang yang mengalami pengalaman traumatik akibat terjadinya bencana atau suatu kondisi kritis. PFA bisa diberikan oleh siapa saja selama orang tersebut memahami makna serta prinsip PFA. Salah satu orang yang bisa kita berikan PFA adalah korban kekerasan seksual. Supaya lebih jelas, simak deh ulasan terkait langkah-langkah PFA menurut WHO berikut!
1. Look dengan mengamati kondisi korban kekerasan

ilustrasi orang menatap tajam (pexels.com/SHVETS production) Langkah atau prinsip pertama dalam PFA adalah look atau melihat. Kamu bisa mengamati kondisi atau keamanan korban kekerasan seksual terlebih dahulu. Dilansir laman Health Heroes Indonesia, panduan yang diterbitkan oleh Rape, Abuse and Incest National Network (RAINN) menyebutkan bahwa terdapat dua reaksi yang ditunjukkan oleh seseorang setelah mengalami kekerasan seksual, yaitu reaksi emosional dan reaksi fisik-psikologis. Berikut penjelasan detailnya.
Reaksi tersebut bisa kamu amati untuk mendapat gambaran tentang seberapa dalam pengalaman traumatik itu. Kamu bisa mengamatinya langsung dari korban atau melalui aktivitasnya di ruang digital.
Kemudian, dilansir laman PKBI Jawa Timur, apabila kamu mendapati korban ada di tempat umum, kamu bisa lebih dulu memastikan keamanannya: apakah ia sedang ada dalam pengejaran oleh pelaku ataukah tidak. Kalau iya, carilah tempat yang aman untuk menenangkan diri sejenak.
2. Listen dengan menyimak cerita korban secara empatik dan memberikan dukungan

ilustrasi orang bercerita (pexels.com/Pixabay) Setelah tahap look, langkah kedua adalah listen atau mendengarkan. Sesuai dengan namanya, di tahap ini, kamu bisa menyimak apa yang diceritakan oleh korban dengan menunjukkan perasaan empatik. Cobalah bangun komunikasi maupun relasi dengan korban melalui tahap listen ini. Dengan menjadi pendengar yang baik, kamu membantu korban untuk merasa sedikit lebih aman dan tenang.
Oh iya, jangan lupa juga untuk memberikan dukungan serta bantuan yang tepat. Berikut sejumlah cara memberikan dukungan pada korban:
- Memberikan kesempatan kepada korban untuk mencurahkan perasaannya
- Membantu korban merasa berdaya dan percaya diri, misalnya dengan menawarkan pelukan atau menghindari respons yang menghakimi
- Membantu korban merasa aman dengan tidak bertindak gegabah yang berpeluang merugikan korban
3. Link dengan membantu korban memperoleh layanan yang tepat

ilustrasi orang saling merangkul (Pexels.com/mododeolhar) Tahap selanjutnya adalah link atau hubungkan. Ini berarti kamu bisa membantu teman dekatmu untuk memperoleh informasi maupun layanan yang tepat terkait masalah yang dialaminya. Di tahap ini, kamu bisa membantu korban untuk melapor ke lembaga terkait, seperti Komnas Perempuan, Layanan Sahabat Perempuan dan Anak, atau Lembaga Bantuan Hukum APIK.
Tidak hanya itu, kamu juga bisa merujuknya ke tenaga profesional seperti psikiater ataupun psikolog klinis untuk mendapatkan penanganan trauma yang baik. Pastikan langkah ini dikomunikasikan dengan korban terlebih dahulu, ya. Jangan pernah memaksa korban untuk melapor kalau mereka belum merasa aman.
Pada akhirnya, penerapan prinsip Psychological First Aid bukan sekadar soal mengikuti tiga langkah teknis di atas, melainkan tentang komitmen kita untuk memperlakukan korban dengan rasa hormat dan empati setinggi-tingginya. Ketika seorang teman memilih terbuka kepadamu, ia sedang mempercayakan bagian paling rentan dari dirinya. Jadilah sosok pendengar yang bijak dan pastikan langkah bantuan yang kamu ambil selalu berpihak pada rasa aman serta kenyamanan korban.
Kekerasan seksual adalah tindakan kriminal dan pelanggaran hak asasi manusia yang berdampak berat pada mental korban. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami kekerasan seksual, kamu tidak sendirian dan bantuan tersedia.
Komnas Perempuan: 021-3903963 / Instagram @komnasperempuan
SAPA 129 (KemenPPPA): Hot Line 129 / WhatsApp 08111-129-129
LBH APIK Indonesia: Kontak pengaduan daerah setempat (lbhapik.or.id)
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





![[QUIZ] Seberapa Clumsy Kamu dari Pilihan Karakter Upin Ipin](https://image.idntimes.com/post/20240808/1000197638-d970b9a19a754cc9ecd9f9b6f7df74c6-d3b63e3f68cd231aa012ac9769f520b8.jpg)
















